Hanung's posts with tag: ketaqwaan itu seni

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ketaqwaan itu seni
VideoTeaser DOA YANG MENGANCAM.mp4Jun 15, '08 2:23 PM
for everyone
Ini adalah snapshot dari Film Doa Yang Mengancam, Film ke delapan saya setelah Ayat-Ayat Cinta. Sebuah film Black Komedi berlatar belakang religius dibintangi oleh: Aming, Ramzi, Titi Kamal, Dedi Sutomo, Zaskia Adya Mecca, Cici Tegal dan Berliana.

Film Ini mengolok-olok, mempertanyakan dan menyindir manusia yang mencoba menyikapi Tuhan, lewat doanya, secara salah kaprah.


Teaser DOA OK.mp4 (27.9 MB)

Blog EntryDOA YANG MENGANCAMJun 15, '08 2:14 PM
for everyone
    'Ya, Alloh kembalikan isteri saya. Jadikan saya kaya agar isteri saya balik. Aku mohon Tuhan. Kabulkan.' Sambil meratap, bersujud, berpasrah, Madrim (Aming) berdoa dihadapan Tuhan. Sebagai Kuli Pasar berpenghasilan sehari 20 ribu, tidak heran jika Tuhan dianggap layaknya mandor pasar yang bisa dimintai duit. Maka, tidak begitu saja doa itu menjadi makbul layaknya doa rosul. Kemudian dalam keputusasaannya itu dia melanjutkan doanya  ...
    ' ...Ya Tuhan, Kalau engkau tidak mengabulkan doaku, maka aku akan murtad ...!'
    Petir membelah langit dan memuntahkan air mengguyur pasar yang sudah berlumpur itu menjadi semakin becek. Madrim menjadi murtad lantaran doanya tidak didengar. Lalu di tengah perjalanan meninggalkan kota, petir menyambarnya. Tapi tidak ada luka yang menganga di kulitnya. Juga rambut yang berjigrak layaknya film-film komedi Indonesia 80an. Madrim cuma pingsan. Lantas penduduk kampung setempat menyelamatkan jasad Madrim untuk disemayamkan. Tiba-tiba Madrim bangun dan semua ketakutan. Seorang lurah mencoba membawa 'Mayat Hidup' Madrim ke rumahnya dan menanyai. Madrim sendiri kebingungan siapa dirinya dan kenapa dirinya ada disini. Kemudian madrim melihat foto anak si Lurah yang sudah 1 setahun hilang.
    'Saya melihat anak bapak.' Kata Madrim yang direspon kaget campur bingung oleh pak lurah dan warga yang melihat.
    'Lihat dimana? Kenal dimana?' Tanya pak Lurah.
    Madrim menjelaskan letak, posisi, keadaan sianak pak lurah yang hilang itu layaknya Ki Joko Bodho atau Permadi. Tidak hanya pak Lurah yang tidak percaya dengan celoteh omong kosong itu. Tapi juga Madrim sendiri bingung kenapa dirinya bisa melihat sebuah 'Film' kehidupan hanya dengan menatap sebuah foto. Disitulah awal keajaiban yang menimpa Madrim yang membawanya menjadi orang penting dan dicari. Lewat pengalaman pertama menemukan anak pak Lurah, tiba-tiba polisi mempercayainya untuk mengungkap kasus buronan. Madrim yang bukan siapa-siapa mendadak berubah menjadi 'Unordinary person'.
    Madrim menikmati kelebihan itu sebagai anugrah Tuhan yang mengangkat derajatnya menjadi manusia 'tidak miskin lagi', tanpa sadar kalau dirinya sedang diteropong oleh Buronan kelas atas bernama Tantra (Dedi Sutomo). Tiba-tiba Madrim disekap dan hendak dibunuh. Dalam sekapannya, madrim berdoa ... 'Ya Alloh, tolong saya, saya tidak mau mati. Saya masih ingin hidup ...' Mendadak doa Madrim dikabulkan. Tantra mengubah niatannya membunuh Madrim dan 'memeliharanya' sebagai penasehat spiritual dengan gaji perbulan 10 juta, mobil pribadi dan apartemen mewah. Madrim yang miskin, kuli, tidak berdaya berubah menjadi jutawan tanpa melakukan kerja apapun. Pada saat itu Madrim merasa bahwa doanya tidak hanya dikabulkan. Tapi mujarab. Setiap kali dia berdoa, Tuhan selalu mengabulkan. Lewat kelebihan sebagai paranormal Madrim bisa melihat masa lalu siapapun kecuali dirinya sendiri dan isterinya. Ketika Madrim punya keinginan mengajak ibunya yang miskin didesa untuk pindah ke Jakarta, madrim melihat Film Kehidupan ibunya masa lalu.
    'Astaga! Ibuku dulu pelacur? Dan aku anak pelacur ...' Pekiknya sambil lari meninggalkan ibunya yang sudah renta itu. Madrim stress. Kelebihannya itu justru telah membongkar kehidupan pahit dirinya. Tantra yang melihat Madrim tidak bahagia berkeinginan membahagiakan peliharaannya itu dengan mengirim seorang 'Teman Perempuan'. seturut dengan itu Madrim berdoa kepada Tuhan, memohon untuk dipertemukan dengan isterinya. Tiba-tiba pintu apartemen diketuk. Ketika dibuka, ternyata gadis itu adalah isteri madrim yang sudah berubah menjadi seorang pelacur kelas atas.
    Madrim kaget dan mencoba mengajak isterinya kembali kepadanya. Tapi si isteri menolak dengan alasan bahwa dirinya sudah tidak bisa 'jalan bersama' dengan Madrim.
    'Aku sudah capek, bang ...' Kata Isterinya
    Kata capek itu mengakhiri segalanya dalam kehidupan Madrim: Cinta dan kebahagiaan. Madrim meronta. Mengutuk atas kodrat. Lagi-lagi, Tuhan menjadi tempatnya meminta. Madrim meminta dirinya dikembalikan menjadi orang miskin lagi. Dijauhkan dari kelebihan-kelebihannya. Dirasakannya, kelebihan dan kekayaan itu justru membuat Madrim kehilangan semuanya: Ibu sekaligus isterinya. Lagi-lagi, Madrim mengancam Tuhan ... Malah, Madrim merasa bahwa bukan Tuhan yang memberikan keajaiban itu. Tapi setan. Lalu dia mengancam Setan. Katanya ...
    'Hei Setan, kalau elo tidak mengembalikan lagi diri gw kayak dulu, gw akan memusuhi elo dan menyembah Tuhan ...'
     Begitulah seterusnya, hingga pada akhirnya, bagi Madrim, tidak ada lagi yang bisa diancam, karena baik Tuhan maupun Setan sama-sama sudah tersinggung atas ancaman Madrim ...

    ****
    Ini adalah sebuah film yang (lagi-lagi) bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktifitas pasrah. Ikhlas adalah perjuangan. Perjuangan bergulat dengan egositas dirinya. Bukan menerima, layaknya falsafah Jawa ala cendana: Nrimo ing pandum, menerima apa yang diberikan. Ikhlas adalah wacana berserah diri. Apa yang diserahkan? Kehendak kita ...
    Madrim adalah potret manusia kini yang memandang Tuhan sebagai materi. Seorang boss yang maha pengasih, penyayang, pemberi, pemaaf. Maka ketika kita berdosa, 'si Boss' akan memaafkan jika kita berampun kepadaNya. Kalau kita miskin, si Boss bisa kasih kekayaan jika kita bersujud meminta. Tuhan dimata Madrim bisa didkte. Tuhan bisa diatur. Apakah Tuhan bisa menjadi sesuatu yang kita bayangkan?
    Lewat film ini saya ingin mengajak untuk bercermin diri. Memandang jauh ke dalam diri kita tentang hal-hal kecil yang kita lupa. Tentang agama, keyakinan, komitmen, dan cinta. Masih perlukan semua itu, hanya untuk meyakini bahwa kita ada?



 
   

   
   

Blog EntryAAC BAJAKAN!!!Feb 24, '08 3:52 AM
for everyone
    Saya pikir, setelah materi film sebanyak 7 Rheel dibawa dari India menuju Jakarta, saya bisa sujud syukur dan berseru 'akhirnya film ini selesai juga.’ Sejauh yang saya bayangkan, tidak akan ada lagi persoalan besar yang menghadang. Tapi tidak sangka, hasil film ketika diperbanyak di lab Jakarta, hasilnya scratch, seperti nonton film ‘Janur Kuning’. Dua lab Film yang ada di Jakarta (yang ternyata satu-satunya lab di Negeri ini) tidak bisa menanggulangi persoalan itu. Belum lengkap seminggu ada di Jakarta, 7 Rheel Film Ayat-Ayat Cinta diterbangkan di Bangkok untuk diperbanyak sekaligus diberi Subtitle. Lagi-lagi kita kejar-kejaran dengan waktu karena paling tidak film harus sudah jadi tanggal 18 Februari untuk Gala Premiere di Plaza Senayan-Jakarta.
    Di Bangkok, persoalan scratch terselesaikan dengan baik dengan cara melakukan duplicate negative film tersebut. Akhirnya, 70 copy film Ayat-Ayat Cinta terselesaikan dalam waktu satu minggu. Pada saat dilakukan pengiriman melalui bandara Swarnabhumi-bangkok, kita terganjal maskapai penerbangan Garuda. 70 Copy tidak boleh di bawa, harus melalui Kargo. Padahal beberapa producer pernah melakukan itu sebelumnya dalam airlines yang sama. Kita sempat berdebat panjang di depan counter check in. Akhirnya hanya 10 copy saja yang bisa kebawa, sisanya harus lewat Kargo. 4 orang yang semula menyertai saya membawa 70 copy tersebut akhirnya harus tinggal di Bangkok untuk mengurus pengiriman lewat Kargo. Saya semakin was-was karena isyu birokrasi di lembaga Bea Cukai bandara terkenal rumit dan banyak preman. Salah-salah film AAC terganjal di Bea Cukai.
    Pada saat saya melakukan pengecekan ulang atas 10 Copy untuk keperluan Gala Premiere di Plaza Senayan, saya mendapatkan sms dari teman saya kalau AAC sudah ada bajakannya. Saya kaget, karena belum pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang bahkan pernah bilang ‘Kita tidak membajak film-film Indonesia. Kasihanlah, film Indonesia kan lagi tumbuh. Sayang kalau dibajak. Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kan udah kaya.’  Saya tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari jenis manusia seperti apa.
    Persoalan moralitas dan manusia itu kemudian yang membawa saya menelusuri kebenaran berita pembajakan film AAC. Manusia seperti apa yang tega melakukannya? Moralitas seperti apa yang dia anut, kalau manusia kelas pembajak glodok (yang menyikapi bajakan sebagai bisnisnya) saja bisa menerapkan ukuran nilai atas produk yang dia bajak.
    ‘Saya sangat menyesal mendengar itu, Mas. Kini di Malang sedang geger’  begitu bunyi sms dari teman saya di Malang. Seperti sebuah bola salju yang tergulir, sms-sms lain datang dari Surabaya, Makasar, Jogja. Mereka tidak sekedar mengabarkan, tapi memberikan analisa detil gambar, suara dan hasil edit atas film bajakan AAC. Bahkan ada yang bilang kalau hasil bajakan tersebut sudah di komentari di internet. Subhanalloh!
    Saya cuma bisa diam. Hati saya bergolak. Bukan karena film saya di bajak yang kemudian keuntungan yang saya terima sedikit. (Ah, lagi-lagi kalau kita bicara materi tidak akan ada habisnya). Mari kita membebaskan diri dari kecenderungan menilai pembajakan dari unsur materi. Hal paling besar dari pengaruh bajakan adalah: Penonton tidak dididik menghargai kualitas terbaik dari sutradara. Film Ayat-Ayat Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi  bukan kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu, apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum layak untuk di apresiasi?
    Kabarnya, saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC. Semoga berita itu tidak benar. Tapi terlepas dari semua itu, saya menyayangkan sikap siapapun yang terlibat, baik membajak maupun mengkonsumsi bajakan tersebut. Apalagi melakukan penilaian atas dasar film bajakan tersebut yang kemudian menghasut, mencerca dan menjelek-jelekkan filmnya dan calon penonton yang mau menonton di bioskop. Saya hanya bisa berharap kepada Alloh untuk memaafkan orang-orang yang melakukan itu. Bagi yang tidak melakukannya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam. Kepadanya, saya hanya berharap doa untuk saya tetap sabar dan tidak terpengaruh.
    Jujur, sekali lagi bukan materi yang saya kejar. Lebih dari itu, film ini telah membuat saya mencintai lebih dalam agama Islam, karena keindahan Quran yang menekankan kesabaran dan keikhlasan umatnya.

Robbana Afrigh alaina Sabran, Wa tsabit Aghdamana wan surna 'alalqoumil kafiriin ...

 

MusicCHEBOLANGFeb 9, '08 1:01 AM
for everyone
Ini lagu karya sobat saya, Muhammad Marjuki. Diambil dari sebuah karya sastra jawa kuno dalam kitab Centhini. Juki (begitu panggilan akrabnya), menyebut dirinya 'Bajingan dari Prambanan'. Seorang Santri taat yang murtad dan mengambil jalan sendiri dalam memahami Islam dan Tuhannya. Katanya, Tuhan itu Maha Hip Hop. Yeah, Tuhan dan Hip Hop. aku lantas ingat ketika aku berdzikir. Ada ritme, kalimat yang diulang-ulang 'Alloh, Alloh, Alloh'. Konstan dan statis. Disitulah letak kekuatan dzikir. Juga Hip Hop. Great. Muhammad 'Si Bajingan Prambanan' Marjuki. Buatku kamu tidak sekedar sobat ...
06 KILL THE DJ - CHEBOLANG LINGSIR WENGI DAN SINOM 231 SERAT CENTHINI   

VideoAAC TRAILER VERSI BARUDec 24, '07 4:28 AM
for everyone
Ini versi baru Trailer Ayat-Ayat Cinta. Yah, buat pengobat kekecewaan temen-temen karena mundur tayangnya. Hehehe ... Selamat menonton


AAC TRAILER.mp4 (13.9 MB)

MusicASTAGHFIRULLOHDec 20, '07 5:52 AM
for everyone
Mendengar lagu ini seperti melihat hakikat manusia yang kotor, penuh dosa, penuh kesombongan. Lagu ini menjadi petir ketika aku dalam takabur ...
GODFATHER SEQUEL  OSCAR 
Ataghfirulloh OPick an Friends EMha Ainun Najib 

Blog EntryKISAH DI BALIK LAYAR AAC INov 29, '07 2:39 PM
for everyone

  Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?
    Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya  . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
    Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
    'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku
    'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.'
    1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
    Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali.
    Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
    Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ...
    Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
    Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.
    'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke producer.
    Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
    Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
    Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.'
    Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ...
    'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
    'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'
    Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali.
    Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
    Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.
    Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.
    Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
    Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ...
    'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.'
    Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan  Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
    Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini ...
    Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ...
    Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
    begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ...
    La haula wa kuwwata illa billahi ...


EventAyat-Ayat Cinta on Screening at 21 TheaterNov 28, '07 11:43 PM
for everyone
Start:     Dec 19, '07 12:00a
End:     Jan 19, '08
Location:     21 theater seluruh Indonesia
Ini buat pertama kali Ayat-Ayat Cinta di putar seluruh Indonesia. Jika tidak ada halangan, pemutaran akan on time.

VideoVIDEO KLIP TAQWAAug 22, '07 4:52 AM
for everyone
Video Klip ini adalah karya favorit aku dari semua klip yang pernah aku buat. Begitu dalam dan personal rasanya. Semoga temen-temen juga merasakan hal yang sama ketika menyaksikan ini.


Taqw.mp4 (30.5 MB)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help