Blog EntryKISAH DI BALIK LAYAR AAC IINov 29, '07 2:46 PM
for everyone



    Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan  itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.
Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
    Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami.  Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.
    Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …
    `Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
    Seakan runtuh bangunan  mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku.
    Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
    ‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya …
    Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
    Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan. 
    Terbayang olehku bangunan-bangunan  bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …
    Ana aasif … ya ummi …

41 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bangdha wrote on Nov 30, '07
enaknya baca kisah ini sambil mendengar antunan instrument pendek dari website http://www.ayatayatcintathemovie.com/
hanungbramantyo wrote on Nov 30, '07
... lebih tragis lagi yang bag. III nya. saya sedang menuliskannya sambil meneteskan air mata ...
alghors wrote on Nov 30, '07
Ok kita tunggu bagian selanjutnya mas he...jadi ikutan gimana gitu dengar cerita mas Hanung "Walau badai menghadang kafilah tetap berlalu".Good luck dan sukses selalu.
ta2surya wrote on Nov 30, '07
lebih tragis lagi yang bag. III nya
Pas semalem kubaca print out tulisan ini.. Kupikir ku copy paste nya tidak sempurna.. Ternyata memang bersambung
Pfuhhh...
Ditunggu yaaa..
Semangat!

ps: misal nanti yg III masih bersambung, ksh keterangan bersambung yak! =) kl tamat kasih juga keterangan tamat...>_<
lyliena wrote on Nov 30, '07
caaiyooo mazz, SEMANGAT!!!!!!!!!!
neesha912 wrote on Dec 1, '07
Mudah-mudahan 4JJI memberi kemudahan jalan. Terus semangat mas Hanung, banyak yang mendukung dan mendoakan nih... Insya 4JJI...
itasyam wrote on Dec 3, '07
semoga Allah memberi kemudahan...jadi penasaran bag 3 nya..di tunggu mas hanung
nicegreen wrote on Dec 11, '07
semangat ya mas
kuwdotcom wrote on Dec 13, '07, edited on Dec 13, '07
Assalamu'alaikum mas Hanung..

Saya sangat menghargai usaha keras mas Hanung untuk bisa mewujudkan imajinasi kang Abik, walaupun dalam kenyataannya banyak scene2 penting yang harus dibuang atau bahkan ditambahkan sehingga merubah isi kandungan aslinya. Agak miris memang melihat karakter tokoh dan para pemeran yang menurut saya masih jauh dari idealisme yang digambarkan. Tetapi seuntai do'a tetap saya haturkan bagi kesuksesan film ini. Benar memang, film agama itu tak mudah untuk dibuat, bahkan film2 agama Islam pun tak jarang dimainkan oleh bintang Hollywood yang notabene non Islam. Saya sangat mendukung pembuatan film ini.

Pesan buat Mas Hanung :
Luruskan kembali niat mas Hanung dan tim untuk meraih Cinta sesungguhnya dan ridho Sang Khalik.Klo film yang jahil aja bisa sukses masa sih Allah ga mempermudah untuk kesuksesan film religi Islam yang telah banyak membawa hidayah kepada para pembaca Novel nya. Terus berjuang dengan ikhlas ya :D Tebar senyum kepada sesama.
andimasboy wrote on Dec 13, '07
klo boleh usul, mas hanung bikin aja 'novel' serupa, mengenai pembuatan film AAC, cukup menarik menurut saya
hanungbramantyo wrote on Dec 13, '07
Agak miris memang melihat karakter tokoh dan para pemeran yang menurut saya masih jauh dari idealisme yang digambarkan.
Jujur, jika tolak ukurnya idealisme beragama, sangat susah mendapatkan pemain seperti yang digambarkan kang abik. Cakep, pintar, populer sekaligus bertaqwa. Banyak saya jumpai hanya cakep, pintar, populer tetapi kurang bertaqwa. Atau sebaliknya. Tapi ini adalah proses. Sekalipun film ini nantinya jauh dari harapan, setidaknya mampu mengubah pandangan saya, para pemain dan kru tentang keindahan islam. Ini lebih penting dari popularitas film ini. salam ...
martdi wrote on Dec 13, '07
saya teringat dengan pepatah arab yang biasa di sebut mahfudhodh, yang isinya: " man jadda wa jada" dan " manyazra yahsud", artdinya : "barang siapa yang bersungguh2 pasti mendapat" (dan) " barang siapa menanam pasti akan menuai"----maaf mass agak petuah..;)
orang laen pasti salut ma mas hanung, palagi Ibunda tercinta
hebaaaaaaaaaat,usaha truz mas.....
good luck mas, n Keep ur spirit...^_^
invisiblescenery wrote on Dec 17, '07
Oh Ibu...demi untukmu...
sharrenazzahra wrote on Dec 18, '07
I am right behind you....he..he...Mas Hanung..semangat!!!!
Saya sendiri penasaran banget bagaimana jadi filmnya. Novel itu memang novel favorit saya...tapi saya percaya..Insya Alloh Mas Hanung sukses melahirkan film ini.
zeest015 wrote on Dec 20, '07
Assalamu'alaikum Mas Hanung, aku dah baca kisah mas hanung dibalik pembuatan AAC .. bravo buat Mas Hanung.. tetap Semangat untuk membuat karya-karya yang lebih baik lagi, yang bisa memperlihatkan keindahan islam tanpa tetek bengek sinetron yang ga perlu.. GANBATTE q(^__^)p !!
Sekali lagi bravo buat mas Hanung..semoga tetep istiqomah .. ^__^
omoomo wrote on Dec 21, '07
mas saya jadi nagis bacanya..
indah77 wrote on Dec 21, '07, edited on Dec 21, '07
Ternyata tujuan kita ke Kairo ada benang merahnya ya.. demi Ibu. Kalo mas Hanung dalam rangka proses pembuatan film agama sesuai pesan ibu, 2006 lalu aku ke sana dalam rangka menemani Ibu menengok kakak & keluarga kecilnya yg waktu itu masih berjuang hidup di sana. Demi ibu, aku merelakan tabungan, waktu, & kemungkinan diterima di perusahaan yang akan aku masuki krn harus ijin cuti lama. Demi ibu, mas Hanung melakukan segala upaya semaksimal mungkin untuk pembuatan film ini. Yah.. demi Ibu.. Insya ALLAH tidak akan ada yang sia2 - di matanya, juga di mataNYA. Walaupun pastinya masih jauh dari apa yang beliau lakukan demi kita, anak2nya..
yunieniez wrote on Dec 21, '07
mas terharu banget saya membaca ceritanya,
saya salut ma mas hanung yang selalu sabar dalam menghadapi cobaan apapun,
yang di sini g' tahan ni mas mo nangis bacanya "Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …
Ana aasif … ya ummi …"
mas sukses selalu ya doa kami menyertaimu semoga mas & rekan2 sukses dalam menyelesaikan perfilman indonesia.....amien,pasti jam tayangnya kapan nih?biar nie g' gak kelewatan nonton AAC nya,thank's ya mas
idhamn wrote on Dec 28, '07
Mantab kali...........................
telagaalkautsar wrote on Dec 28, '07
La Takhofu Bil khoto

kayaknya spektakuler ni film
radenmasrafael wrote on Dec 30, '07
di bagian ini, aku melihat begitu banyak perjuangan yg Mas Hanung lakukan
Allahu akbar.......
berjuang terus......
wiwianca wrote on Jan 3
kpn diputarx nih?....
aurasinai wrote on Jan 4, edited on Jan 4
... lebih tragis lagi yang bag. III nya. saya sedang menuliskannya sambil meneteskan air mata ...
waduw mas...baca yang bag.I aja aq dah mo nangis ee... :p
baca yang ini...mungkin klo orang 'biasa' yang ngalaminnya...mungkin dah gak kuat. skenario Allah bener2 luar biasa ya...jd jealous nih sm mas Hanung :p
cinta Allah melimpah utk kru AAC
imazahra wrote on Jan 4
Subhanallah, sampe speechless bacanya, go go Mas :-)
omdy wrote on Jan 7
ya Alloh..ternyata . kisah dibalik pembuatan AAC ini gak kalah serunya dengan novelnya sendiri,, subhanallah... lanjut ke bagian 3 .....
aurora1982 wrote on Jan 8
ya... Allah...rasanya sedih banget bacanya perjuangan mas hanung...semangat ya
yulyjkt wrote on Jan 11
tanggal berapa ya tayangnya ??
adhayantinur wrote on Jan 20
sabar mas
nggacor wrote on Jan 22
semua halangan besar biasa datang untuk menguji sebuah kisah yang mengejutkan... we'll see
fozan100285 wrote on Jan 23
semoga Allah SWT memudahkan semuanya...
good luck.. and success...
Wish you all the best mas....

Cheers
Fozan
aishachutez wrote on Feb 27
duh...tragis bgt y .............
pdhl s'andainya aja kerja sama itu bs bjlan baik kan bs jd mutualisme bgt tuh, coz dgn nampilin setting2 mesir pstx bs jd promosi bwt mesir...
Btw cayooo deh bwt mas hanung...
jgn kapok y mas
mifarif wrote on Mar 2
perjuangan membuat karya yg monumental memang tidak ada yang mudah, tapi setelah berakhir, apapun hasilnya. kita akan dinaikkan derajat dan ilmunya.
sheojiethea wrote on Mar 6
Thanks bgd ya mas Hanung. AAC the Movie bagus bgt. Rapi 'n mulus mas. temen2 aku yg penasaran jadi salut bgt. bahkan kita2 yang udah baca bukunya berkali-kali jadi kagum ama mas hanung. Ditunggu ya film-film mas hanung yang lainnya. cia you !!!! :-)
arukin wrote on Mar 16
mas anung mo nxa knp bapakxa fahri hanya diam n g ngluarin sepatah ktapun pakah dia bisu?... struk?.....atau benci ma fahri?.....
tpi itu yg paling yg saya anggap di film
rukichanunique wrote on Mar 18
Smangat, mas Hanung!

Saya dan temen2 di kampus sangat menyukai film AAC ini...
erizriz wrote on Mar 30
Saya berdoa semoga akan ada film2x lain yg muncul spt AAC, yg membawa pesan-pesan dakwah Islam ke semua lapisan masyarakat. Selamat Mas Hanung ....
tianique wrote on Apr 1
hi mas hanung q terkesan banget loch ma film yg satu nie....
selamat tas keberhasilannya yupz n semoga tambah sukses...
maz kenal sama maz bowo leksono ta?
dia tu tmn q maz lamkenal yupz!!!!!
alirahmat wrote on Apr 4
Sesuatu kesuksesan pasti tidak begitu saja gampang untuk meraihnya. Mas Hanung telah sukses dalam menghadapi segala hambatan dan rintangan.
hanungbramantyo wrote on Apr 17
terima kasih atas semua dukungan temen-temen. Mari kita mulai menghargai film nasional. Karena dengan temen-temen menghargai film nasional, perkembangan industri akan semakin baik ... Insya Alloh saya akan membuat karya lebih baik ...
sernard wrote on Apr 24
perjuangan yg berat ... terbayar dengan hasil yg perfect ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help