Blog EntryKISAH DI BALIK LAYAR AAC INov 29, '07 2:39 PM
for everyone

  Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?
    Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya  . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
    Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
    'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku
    'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.'
    1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
    Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali.
    Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
    Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ...
    Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
    Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.
    'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke producer.
    Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
    Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
    Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.'
    Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ...
    'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
    'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'
    Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali.
    Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
    Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.
    Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.
    Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
    Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ...
    'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.'
    Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan  Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
    Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini ...
    Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ...
    Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
    begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ...
    La haula wa kuwwata illa billahi ...


182 CommentsChronological   Reverse   Threaded
duniaintan wrote on Nov 29, '07
salute to you
karitasurya wrote on Nov 29, '07
Ternyata memang tidak mudah ya Mas Hanung :) ketika membaca alur dibalik pembuatan film AAC tersebut, memang pastinya tidak 'seindah' dan 'seidealisme' yang ada di dalam Novel, akan tetapi semoga spirit ini akan membawa efek yang baik (Dakwah) bagi Masyarakat Indonesia, dan khususnya para pemain, agar dikemudian hari dapat menuju jalan yang lebih Islami lagi..Amiin..Insya Allah... *salut buat Mas Hanung, Istiqomah dengan Film Islami!*
wirdayanti wrote on Nov 29, '07
Selamat Hanung..!

Semoga terus bersemangat membuat film bertema Islam..
Akan banyak yang bisa kerjakan untuk agama kita, bila kita mau.
Semoga film2 yang dibuat terus "berkualitas".
karitasurya wrote on Nov 29, '07
Mas..usul donk..kalau bisa suatu saat nanti, bikin film dokumenter tentang Islam ^_^
dik2 wrote on Nov 29, '07
Wah Subhanalloh mas Hanung,
sebuah jalan mengukir cahaya Islam memang sering kali terjal dan berliku.
Namun alhamdulillah, semoga ini menjadi buah kesabaran kita mengharapkan ridho-Nya.
Sukses untuk Ayat Ayat Cinta The Movie.
Semoga kita semua tetap mendapat cahaya rahmat peneguh jiwa ...
pkscyber wrote on Nov 30, '07
Keren-keren Om Hanung, padahal waktu itu ane mau tuh ikut casting jadi fahri. Hehehe, anyway, salut buat Om Hanung, dan selaksa doa untuk kesuksesan film ini.

Kalo berhasil, please, dont leave from per MPan ye?? hehehe
hanungbramantyo wrote on Nov 30, '07
sama-sama ... saya masih punya PR menulis bag III kisah dibalik produksi AAC ... lebih berliku. lebih ribet dan dramatis ...






credibilista wrote on Nov 30, '07
salaamullah alaikum

salute...

semoga tetap istiqomah, tidak terganggu oleh intervensi pihak2 yang ingin melalaikan kita...
alghors wrote on Nov 30, '07
Smoga sukses selalu mas Hanung...
iwananashaya wrote on Dec 1, '07
sama-sama ... saya masih punya PR menulis bag III kisah dibalik produksi AAC ... lebih berliku. lebih ribet dan dramatis ...






Naaaaaah.. ini yang KUTUNGGU-TUNGGU....
Ayo, Bang.... Cepeeeeeeeeeeeeeeeeeeet!!! hehehe..
*Nggak sabar pingin tahu, nih*
julianawa wrote on Dec 2, '07
Berharap yang terbaik terus buat kelangsungan film Indonesia..
Semoga Ayat-Ayat Cinta sukses, seperti film2 mas Hanung sebelumnya..

Dan sekarang, selain ngga sabar nungguin film nya, ngga sabar juga nungguin kisah dibalik produksi AAC bag III..

Ayoo mas Hanung, buruan di posting dong.. ^_^
adibadib wrote on Dec 3, '07
salam kenal mas hanung.
Adib- Rolling Stone
muhammadabdur wrote on Dec 4, '07
salam kenal mas.
salut bwt mas yang mau memfilmkan novel ini! semoga sukses dan laris film-nya! amin!
hanungbramantyo wrote on Dec 4, '07
Hallo, Adib. Senang bisa kenal sama elo. Gw tau elo dari Aris. Gw pengen ngobrol ama elo. Soal music. Gw tertarik sama Tielman Brothers. Gw pengen tau soal itu.
kantiressa wrote on Dec 4, '07
Mas hanung, semoga diberi kekuatan ya... aku salut denganmu, jangan hanya memikirkan keuntungan, tapi ada misi & visi dari sebuah karya, ya insyaAllah jadi ladang amal.., ditunggu filmnya.
Awalnya aku j uga ragu dengan film ini, karena novel kang abik bagus banget dan ada pesan-pesan yang disampaikan, semoga diberi kekuatan.
tantodikdik wrote on Dec 4, '07
Wah, hanya doa yang bisa saya sumbangkan. Semoga Mas Hanung bisa terus istiqomah dan film AAC ini bisa sukses. Sukses di dunia dan bekalan membanggakan bagi Mas di hadapan Allah kelak, insya Allah. Amin.
duniapeng wrote on Dec 4, '07
salutee......

sedkit sekali sutradara dan seidialis mas hanung...

akankah sefenomenal novelnya...kita tunggu di 19 desember....
shelya wrote on Dec 5, '07
---Speachless---

Semoga film ini menjadi pelajaran dan pengajaran yang beraharga akan makna dan arti cinta sesungguhnya...
ishman wrote on Dec 5, '07
let wait and see...
samuderaku wrote on Dec 6, '07
hmmm... jadi penasaran sama film-nya nih mas

novelnya saya gak tertarik, coz buat saya, peran dan alur cerita yang digambarkan di novel itu terlalu sempurna. yah, semoga aja, setelah film-nya keluar, saya jadi tertarik menyelesaikan baca novelnya ^_^

sukses ya... ^_^
hanungbramantyo wrote on Dec 7, '07
awalnya saya juga capek membaca novelnya. Tapi setelah saya paksa, saya jadi tahu maksud kang abik membuat tokoh Fahri. Saya menangkap seseorang yang mengganggap disi sempurna, adalah sebuah kesombongan. Oleh sebab itu Fahri diberi 'cobaan' sama Alloh atas sikap yang merasa sempurna itu ...itu yang jadi spirit saya membuat film AAC.
nicegreen wrote on Dec 11, '07
Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ...
Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!!
saya penasaran liat adegan waktu Fahri di penjara
jadi gak sabar mau nonton filmnya mas
rebellionprincess wrote on Dec 14, '07
mas, emang produser2 di Indonesia cuma si indihe2 itu aja ya? Yang maunya cuma cari untung aja??! Yang bikin orang Indonesia sukanya film horror ama film menye2 doang??! Sebel... :(
hanungbramantyo wrote on Dec 15, '07
mas, emang produser2 di Indonesia cuma si indihe2 itu aja ya?
Producer yang potensial secara materi memang para indihe-indihe itu ... Tetapi banyak producer yang bukan indihe. producer Islam juga banyak. terutama yang bikin sinetron-sinteron ilahi yang mistik itu. Coba bayangkan. Menurutku itu lebih horor daripada film horor itu sendiri. Bahkan pernah aku tawarin untuk bikin film Kyai Haji Ahmad Dahlan, producer muslim itu cuma tertawa. Gak menguntungkan, dia bilang. Siapa yang nonton? Penonton kita sukanya film remaja percintaan. Nah loo ...
rebellionprincess wrote on Dec 15, '07
Ooohh... gitu ya mas? Mas hanung aja memproduseri film sendiri.. Hehe.. Pasti pengen ya mas? Di doain deh! ;)

Oya, selamat ya mas menang sutradara terbaik FFI 2007! Aku dah nonton Get Married dan salut banget! Apalagi adegan tawuran itu. Keren! Hehe... Maaf OOT.... ;p
invisiblescenery wrote on Dec 17, '07
Sorry I did not know this before.
ceumimin wrote on Dec 20, '07
Yang jelas ngga bisa di gambarkan seperti penjara mesir..!!??
Gimana mas Hanung, kemarin sempat ke penjara mesir ngga??
Salam dari Cairo..
alberthieneendah wrote on Dec 20, '07
Aku percaya orang besar selalu dimatangkan oleh proses. Makin sulit proses berjalan, makin tinggi ilmu yang dijanjikan Tuhan. Go go go Mas Hanung! Seperti hidayah Ayat Ayat Cinta, sabar dan ikhlas, pasti tujuan tercapai. Aku tunggu premierenya mas! Kemaren aku bela-belain pulang dari Bangkok cepet, karena mo ngejar premiere AAC yang kata 'billboard' tanggal 19 Desember. Semoga kemunduran premiere yang tak jelas sebabnya ini, menjadi bonus promosi! Wel, hartelik gefeliciteerd!
bundoow wrote on Dec 21, '07
SEMANGAT MAS..
indah77 wrote on Dec 21, '07
Tiap liat di TV mengenai public figure yang melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Islam, terbersit iri di hatiku. Ngiri karena dengan ketenaran, bakat, & hal2 lain yang mereka punya, mereka bisa dakwah mengenai Islam. Mengenai niat & tujuannya, wallaahualam. Itu urusan mereka dengan ALLAH. Aku ngiri karena aku belum bisa berbuat banyak untuk agamaku. Membaca tulisan mas Hanung mengenai latar belakang pembuatan AAC, aku jadi makin ngiri.. terutama setelah mengetahui niat, latar belakang, & proses yang mas Hanung lalui.. Insya ALLAH besar banget pahala yang didapat mas Hanung.. berbuat demi Ibu. berbuat untuk Islam.. Sumpah, aku ngiri banget!
goslink wrote on Dec 21, '07
Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum.

Dasarnya apa yah, mas hanung bisa mengatakan seperti itu ?
Coba tengok salah satu berita ini : http://www.voanews.com/indonesian/archive/2002-03/a-2002-03-01-6-1.cfm

Justru menurut saya, toleransi di Indonesia sudah jauh lebih baik dibandingkan di India.
Soory komen-nya OOT.

rhea wrote on Dec 22, '07
Mas hanung..saya termasuk salah satu pembaca novel ayat-ayat cinta..jujur aja waktu pertama tau akan di novelkan yang terpikirkan oleh saya apakah akan menjadi semenarik novelnya atau justru sebaliknya..however two thumbs up..semoga menyusul film-film mas Hanung yang islami..
hanungbramantyo wrote on Dec 23, '07, edited on Dec 23, '07
goslink said
Dasarnya apa yah, mas hanung bisa mengatakan seperti itu ?
Coba tengok salah satu berita ini
Bicara soal 'DASAR PEMIKIRAN' sangat subyektif sifatnya. Awalnya, saya berfikir toleransi beragama di Indonesia sudah matang semenjak tirani Orde Baru tumbang. Hal itu ditandai kebebasan pers, penerbitan buku-buku yang mengungkap sejarah 65 dan buku-buku tentang perdebatan agama. Karena itu saya berkeyakinan di AAC ini posisi film akan disikapi seperti itu. tetapi setelah berdiskusi panjang dengan Din Samsudin dan Kang Abik, muncul wacana seperti yang saya tuliskan: Masyarakat muslim Indonesia belum dewasa dalam menerima perbedaan. Lantas saya teringat rekan saya yang menerbitkan majalah Play Boy di rusak oleh masa FPI, sekalipun dalam majalah tersebut secara nyata tidak menampilkan foto telanjang layaknya Majalah Play Boy Amerika. Saya teringat sekelompok muslim merusak toko buku Utan Kayu, lalu membubarkan sebuah acara pementasan tari dari jepang. Teman producer saya diminta menurunkan filmnya berjudul 'Virgin' di daerah Makassar. Lalu terakhir, gerakan MFI (masyarakat Film Indonesia) yang berjuang membubarkan LSF karena lembaga itu dianggap tidak mencerminkan sikap toleransi dan keterbukaan, dianggap gerakan yang akan melegalkan sex dan sadisme.
Jika memang menurut Goslink masyarakat muslim di Indonesia lebih dewasa dalam toleransi dibanding di negara lain, saya sangat senang. Saya bisa dengan bebas berkarya di Ayat-Ayat Cinta. Tapi kenyataan yang saya hadapi seperti itu. Sekali lagi ini sangat subyektif. Sangat bisa diperdebatkan. Dan saya suka dengan perdebatan .... Sukron.
ahmadiamrun wrote on Dec 23, '07
mas...kira-kira untuk film ahmad dahlan itu budgetnya berapa ya? hehehehe....tanya aja..siapa tau ada rezeki....amiiinnn....
hanungbramantyo wrote on Dec 24, '07, edited on Dec 24, '07
sekitar 11 Milyar,mas. Ini sedang mencari dana buat pembuatannya. Sudah didukung oleh Bpk Din Samsudin. Insya Alloh akan menjadi film wajib tonton buat SMA Muhammadiyah se Indonesia. Sehingga uang 11 Milyar akan kembali lagi. Syukur bisa menguntungkan. Bisa untuk membuat film agama yang lainnya ...
agamfat wrote on Dec 24, '07
saya telat baca novel dan tau film ini, maklum jauh dari indonesia. tapi ditunggu nanti pemutarannya. insya allah awal februari sudah pulang. tenan lho, ojo mundur2 meneh.
zoeiq wrote on Dec 25, '07
ass...
semakin banyak tantang insya allah akan semakin orang berminat.... dan membuat penasaran
arifnur wrote on Dec 25, '07, edited on Dec 25, '07
'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'
Ini saya cuplikkan hasil wawancara saya dengan Andrea Hirata ttg Novelnya Laskar Pelangi yang difilmkan..., mungkin bisa jadi pertimbangan kekhawatiran sementara orang akan hasil Film yang berasal dari Novel seperti Ayat Ayat Cinta:

"Menurut Andrea, dia termasuk orang yang tidak setuju kalau Film sama dengan buku. ” Seperti Film English Patient yang ngetop karena berbeda dengan buku” katanya. Namun Andrea mengakui adanya presepsi khalayak bahwa buku yang difilimkan akan berpeluang jelek. Padahal menurutnya kalau Film harus sama dengan buku akan menghilangkan potensi besar sineas.”Tidak perlu sama, asal tidak menghilangkan Valuenya” terangnya. ” Sineas bisa bebas..misal menceritakan Ikal dewasa dulu, baru kemudian flash back menceritakan ikal kecil” "

(http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=655&Itemid=2&lang=id)

Sukses selalu Mas Hanung..., Amin
nafiisahfb wrote on Dec 26, '07
Tetap semangat Mas Hanung! Dan selamat buat piala citra-nya! (moga tetep istiqomah). Salam ukhuwah.
kokonata wrote on Dec 26, '07
Assalamualaikum Mas Hanung, Februari 2007 lalu sempt diskusi dengan Kang Abik. Dia nggak keberatan AAC difilmkan karena masyarakat sudah baca novelnya. Jadi yang akan protes itu masyarakat bukan Kang Abiknya kalau film tidak sebagus novelnya. Maka menggarap film ini adalah tantangan untuk Mas Hanung untuk memvisualkan pesan-pesan AAC kepada penonton

Saya suka dengan film-fil MAs Hanung. Saya berharap, meskipun karena utnutan profesi Mas Hanung harus menggarap film pasaran, tapi harus ada juga film-film idealis yang Mas Buat. Semoga sukses, ya Mas.

Kalau ribuan orang mendapat hidayah keran menonton AAC, pahalanya untuk Mas juga, kan? ^_^

Wassalam
tikarini wrote on Dec 27, '07
Salut mas Hanung..Semoga AAC bisa sukses seperti film2 mas hanung lainnya..juga menyusul film2 islam berikutnya..:)
saeppudin wrote on Dec 27, '07
Assalamualaikum Mas Hanung
semoga keberkahan dan RahmatNya senantiasa menaungi segala usaha yang Mas jalani..
dan smoga perjuangan Mas untuk membuat AAC tetap islami dalam filmnya mendapat suatu amal kebaikan amin..

tetp smangat ya Mas..
wyda207 wrote on Dec 28, '07
wah.menarik skali.i just got back from jakarta/bandung from a holiday and saw the poster.terus pergi music store tanyakan dvdnya.rupanya belum release lagi movienya.hopefully it went well.saw the trailer and i just can't wait to watch it.masuk malaysia tak movienya??
btw,good luck with the movie! ;)
radenmasrafael wrote on Dec 30, '07
ternyata banyak juga pertentangan dalam membuat film, yah
butuh kesabaran ekstra untuk film ini, pasti menjadi film yg bagus, sebagai Pembangun Hati di awal tahun 2008
dgarfield wrote on Jan 1
Salam Mas Hanung,
Segala usaha kalo diniatkan baik inshaallah Allah akan membantu, tergantung ketetapan hati kita untuk tetap istiqomah... saya salut dengan usaha mas untuk membuat film ini.. saya sendiri sudah membaca novelnya.. is not an easy task to bring this novel to a big screen, tapi kalo niatnya baek inshaallah hasilnya juga baek walo banyak rintangan.. Jadi g sabaran pengen liat hasil akhirnya, kapan releasenya??
hanifacep wrote on Jan 1
"dan bekerjalah...Allah, Rasululullah dan orang-orang mukmin akan melihat hasil pekerjaanmu." sebuah spirit pesan Al-Quran yang luar biasa buat mas hanung bramantyo....semoga film-film yang nanti dibuat setelah ini konsisten dengan idealisme Islam dan penyutradaraan.
petreli wrote on Jan 2
semoga film ini bisa memberitahukan ke masyarakat tentang tata cara pergaulan islam yang sebenarnya, bukan menjadi pembenaran untuk tata cara pergaulan yang ada di masyarakat Islam Indonesia yang sekarang terjadi dan sebenarnya sudah tidak islami lagi.

Smangat bos!
aurasinai wrote on Jan 4
producer Islam juga banyak. terutama yang bikin sinetron-sinteron ilahi yang mistik itu. Coba bayangkan. Menurutku itu lebih horor daripada film horor itu sendiri. Bahkan pernah aku tawarin untuk bikin film Kyai Haji Ahmad Dahlan, producer muslim itu cuma tertawa. Gak menguntungkan, dia bilang. Siapa yang nonton? Penonton kita sukanya film remaja percintaan. Nah loo ...
hyahahahaha!

duw..., emang mesti sabar sabar ya mas :) ibarat kata right or wrong it's my country, Indonesia...dengan segala "keUNIKannya" :)

memang perlu kekonsistenan dan keberlanjutan. hidup ini perjuangan yang panjang. moga Allah menjagamu dan pejuang2 Islam lainnya dalam keistiqomahan :) Amiin!
lausamahta wrote on Jan 4
congrat hanung
rinto wrote on Jan 4
Semoga sukses untuk filmnya. Berharap juga bisa menonton versi uncut alias versi penuh tanpa potongan2 dari produser :) Mungkin setelah sukses rilis di bioskop bisa diteruskan dengan roadshow untuk pemutaran versi penuhnya, mas :)
omdy wrote on Jan 7
tetap semangat mas... ..........lanjut . ke bagian II ..............
dikyanti wrote on Jan 7
Wew... kayaknya Diorama Sepasang Albanna kalo difilmkan menarik juga. Asal pak bos ndak terlalu ngrecokin sih.
arisgrungies wrote on Jan 7
Sukse Buat Pilemnya

jgn melulu Cintrong2 aje Bos....

emang hidup bisa makan cinta? lha anak mudanya disuguhin cintrong melulu....kan butuh juga sisi Religi....

Hehehehe

salam Kenal dari Saya

REGARDS
ellanks wrote on Jan 7
wah wah....
indah,,,
saya sadar bahwa sekarang berada di cairo....
setelah membaca AAC...
tomimuwuh wrote on Jan 7
Smoga film yang mas ciptakan bisa menginspirasi para pembuat film yang lain biar ga cma buat film yang tidak ada segi manfaatnya. amin
ighien wrote on Jan 8
Semangat ya Mas Hanung!!! Maju terus!!! Semoga Alloh selalu bersamamu dalam meniti dakwah di bidang perfilman.. Amien.
Emang ibu tuh tau apa yang terbaik buat anaknya, salut juga buat ibunya mas Hanung... ;-)
uchie07 wrote on Jan 11
Assalammualaikum mas Hanung, mo minta maaf nih sebelum sempet kecewa AAC difilmkan, but straight after reading n comprehending what u're trying 2 achieve think i owe a big apology 2 u. Btw, knp ditunda penayangannya? Trus uchie cari di 21cineplex udah ga ada synopsisnya. Sungguh sayang karya ini kalo ga sempet diputar.
belitungisland wrote on Jan 12
Assalamualaikum wr wb
Era kehancuran Islam sedang di mulai, Agama yg seharus nya wujud dalam kehidupan masyarakat, kini tinggal cerita dan film nya saja,maka bersiap siap lah kita ummat Islam menghadapi kehancuran yang sesungguhnya.
eusinira wrote on Jan 13
cepet, aku juga ngak sabar nih pengen tau kelanjutannya
nyain3 wrote on Jan 13, edited on Jan 13
sangat bagus novelnya. aku sudah tidak sabar untuk liat filmnya
oegiek04 wrote on Jan 14
mas filmnye koq ngak di putar-putar.....
kan udah kelar, ada masalah apa ya...
yanikp wrote on Jan 14
work hard, play hard. that's reality but life must go on and sure, the show must go on. intinya : kapan nih diputernya ?
kmaren smpet liat show biz on location ttg AAC jd smpet liat cuplikan filmnya. kyknya riyanti kurang tinggi buat jd cewe bule hehe...
setuju bgt ma mas hanung klo sebaiknya Fahri digambarkan sbg sosok yg tdk smpurna, krn emg gt knyataannya. wajar aja klo sebuah film yg d angkat dri novel psti dibanding2kn ma novelnya, apalagi klo novelnya bestseller. jd sbelum dibanding2kn, mending dibuat beda skalian hehe.. tentunya dengan tidak mghilangkan inti dri cerita n pesan yang ingin disampaikan k pnonton sebaiknya sama dengan pesan yg ingin disampaikan kang Abik untuk pembaca
delcrit wrote on Jan 16
alhamdulilah, masih ada sutradara yang lebih memilih idealisnya sendiri ketimbang permintaan producer, tolong bilang sama producernya, untuk film ayat2 cinta ini bulshit si penonton suka yg romantis2, jika melenceng jauh dari filmnya, bahakn ada adegan2 yg menimblkan pro kontra seperti pegangan tgn dll tolong dihilangkan daripada menjadi masalah.
smangat pakkkkkkkkk =D
hanungbramantyo wrote on Jan 17
Assalamualaikum wr wb
Era kehancuran Islam sedang di mulai, Agama yg seharus nya wujud dalam kehidupan masyarakat, kini tinggal cerita dan film nya saja,maka bersiap siap lah kita ummat Islam menghadapi kehancuran yang sesungguhnya.
Sejak jaman Khulafaurrosidin, seruan tentang kehancuran Islam sudah ada. Kenapa anda baru berteriak sekarang? Mari kita songsong hari depan Islam dengan pikiran terbuka. Berdakwahlah di luar masjid, begitu kata Kyai Dahlan. Musuh terbesar Islam bukanlah orang lain, tetapi umat Islam itu sendiri. salaam ...
zafanda wrote on Jan 17
asslamualaikum,
maz udah satu bulan ni saya baca comment di beberapa blog yang byk beri komentar pesimistis thd film mas, terutam mengenai pemainyang dipilih.
usul saya web ayat-ayat cintathemovie.com juga dikasih KISAH DI BALIK LAYAR AAC. biar mereka yang klik web tu jadi maklum dengan pemilihan pemain yang mas buat.
saya sendiri liat trailernya AAC lebih indah dari yang saya bayangkan waktu baca novelnya.mas ngambil shootnya bagus banget....SALUTE TO U maz
deena020388 wrote on Jan 18
Subhanallah.....!!!!!!!!!
Sebelumnya maaf mas,tapi pertama saya denger novel ini mau di filmkan,saya juga merasa agak ragu. Bagaimana menuangkan semua hal2 menakjubkan tentang Islam dari novel ini ke dalam film. Bahkan saya juga menebak-nebak siapa yang "pantas" memerankan tokoh fahri. Dan saya juga kaget ketika tau fedi nuril-lah yg terpilih untuk memerankan tokoh ini. Karena sebelumnya yang saya tau fedi nuril selama ini selalu memerankan film2 ttg cinta,bahkan ada dalam salah satu filmnya ada adegan ciuman dengan lawan mainnya. Tapi setelah saya baca blog mas hanung dan membaca "kisah dibalik pembuatannya" Saya bener2 salut buat mas hanung.
Tetep Semangat ya mas bwt bikin film2 indonesia yang gak cuma menghibur tapi berisi,dan mendidik!!!!
danisetiawan wrote on Jan 19
saya tidak tahu mau mesti berkomentar seperti apa, ... saya lebih suka untuk mengambil pelajaran saja dari apa yang mas hanung tulis ini, ... akh,... jadi ada rasa rindu, ... hadir di kelelahan kalbuku ini, ....

Robb, ...
di antara perputaran bumi yang telah semakin berumur ini
di antara pertukaran siang dan malam yang tak pernah henti
hamba-Mu yang masih tertatih ini,
tak ingin lagi sembunyi,
... tak ingin lagi lari
ijinkanku hadir ya Robb,
di dalam barisan hamba-hamba yang beroleh ridha-Mu
meski dengan upaya yang tertatih
dan pada saatnya nanti
ijinkanku pulang, ... menjadi jiwa yang tentram
yang beroleh senyum-Mu
lagi, ... meski dengan upaya yang tertatih
.....
belitungisland wrote on Jan 20, edited on Jan 20
said
Assalamualaikum wr wb
Era kehancuran Islam sedang di mulai, Agama yg seharus nya wujud dalam kehidupan masyarakat, kini tinggal cerita dan film nya saja,maka bersiap siap lah kita ummat Islam menghadapi kehancuran yang sesungguhnya.
Sejak jaman Khulafaurrosidin, seruan tentang kehancuran Islam sudah ada.

Kenapa anda baru berteriak sekarang? Mari kita songsong hari depan Islam dengan pikiran terbuka. Berdakwahlah di luar masjid, begitu kata Kyai Dahlan. Musuh terbesar Islam bukanlah orang lain, tetapi umat Islam itu sendiri. salaam ...

Berdakwaklah dengan cara Nabi Saw, Bukan dengan cara dan keinginan kita masing masing, apalagi dengan cara Yahudi dan Nasrani, berdakwaklah dengan cara Islam, bukan dengan membuat Film, Nabi tak pernah contohkan cara seperti ini, cepatlah koreksi diri anda, perbaiki kesalahan ini, sebelum terlambat, sebelum kita mati. hentikan rencana tayang Film ini.... semoga ALLAH memberi Hidayah buat anda Amien....
syaltout wrote on Jan 21
aku gak sabar nonton film ini di Paris...
nikenwulandari wrote on Jan 21
Salut !
dhilan79 wrote on Jan 22, edited on Jan 22
ok punya tuch. tetap semangat.
ulerkeket wrote on Jan 22
waktu baca novel ini, kebayangnya si fahri itu, pemuda dengan fisik/face biasa, njawani, dan kental dengan kultur pemuda yg besar di kalangan nahdliyin, seneng sandal jepitan dan sarung selalu di tas... but anyway... you the owner of this project bro !
suntea82 wrote on Jan 22
baca novelnya aja udah kerasa banget membuka pikiran apalagi nonton filmnya...salut...semoga filmnya sukses
nggacor wrote on Jan 22
Trully Inspiring
fa0354 wrote on Jan 23
Baca novelnya udah berapa kali yah....sampe lupa deh. Yang biasanya males beli tabloit bela2in beli tabloit abisnya ngebahas soal AAC ....yang biasa males beli cd, akhirnya juga beli CD OS AAC, he...biasanya cuman ngopi dari CD sample dr label, mumpung kerja di radio ha...a..manfaatin deh :) ...yang bikin temen bilang kalo aku gila : kisah dibalik AAC sampe aku jilid ga ketinggalan foto-fotonya mas Hanung pastinya, santai aja mas, bukan bwat komersil kok...intinya : nunggu dan seneng banget sama Film AAC....sukses mas Hanung, segala curhatmu "disini" menjadi inspirasi, sama seperti curhat Fahri yang selalu menjadi penambah harumnya taman hati....AAC cepat sampe Kediri yah....
doveyid wrote on Jan 23
Assalamu'alaikum... kalau saya boleh sumbang saran, sebaiknya film ini jangan terlalu banyak atribut Islami, karena Islam itu sulit di gambar (visual)kan hanya bisa dirasakan, kalau pun dipaksakan pasti akan menghadirkan banyak kontroversi (menjauh dari tujuan ikhlas mas Hanung), walaupun demikian saya yakin film ini tidak akan mengecewakan penggemar novel AAC karena para penggemar AAC sudah merasakan keindahan dalam novel AAC.
kartamihardja wrote on Jan 24
Islam adalah keindahan, sebuah mutiara di tengah kelam, kerlip bintang di gelap malam. Alhamdulillah, sepertinya Mas kembali ke fitrahnya, mundur ke sela di mana Mas masih dekat dengan harmonisasi Islam. Dimulai dari AAC, moga bisa mengisi relung baru di ranah film tanah air. Bahwa film tidak mesti horor, tidak mesti drama berderai air mata, tidak mesti kocak, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar bicara margin dan selera pasar. Alloh selalu menyertai umatnya yang berjalan di atas kebaikan, pun itu terhalang karang terjal.
jumatmalam wrote on Jan 24
Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
Alhamdulillaaah, Allah mengabulkan do'a mas Hanung yang dipending....
Salut untuk niatnya.... dan Selamat dan Sukses untuk film ini yang memang kita tunggu2.... :-)
La hawla wala quwwata illa billah.....
treesna wrote on Jan 25
Cayyooo Mas Hanung!!!!! ditunggu nih filmnya di Malang...
lisanurliza wrote on Jan 25
tak sabaq nak tgk movie ni... tahniah.. ya
pondokkata wrote on Jan 28
Mas Hanung...ditunggu banget film-nya. Buatlah wajah islam yang lebih ramah...
melyda wrote on Jan 29
subhanalloh, semoga semua kerja keras itu berbuah manis and diberi hasil yang terbaik menurut Alloh. sukses untuk mas hanung, semoga makin banyak film2 islami yang bisa diproduksi dan kita nikmati
rancamanyar wrote on Jan 29
berarti filmnya bersambung dong mas sampe ke 3?
demsad wrote on Jan 29
Sukses buat mas hanung, memang kita perlu memperbanyak film2 bagus bernafaskan islam. Kalau kita perhatikan naga bonar jadi 2 juga ada nilai2 dakwah islamnya, dan sukses dipasar.
babyraissa wrote on Jan 31
sukses ya, dan semoga setelah film AAC ini.mas hanung bikin film y bernuansa islam lainnya.
sticyo wrote on Feb 3
semoga sukses filmnya...cannot wait.....
mas jangan ditunda lagi donk penayangannya....
ichafauzananin wrote on Feb 4
Aduh..terharu banget bacanya..jadi mau nangis..dan jadi semangat pengen nonton filmnya AAC. Sumpe..tadinya aku rada gak percaya sama mas Hanung..soalnya film2 yang dibikin mas Hanung selama ini...kuch2 hotahai banget..
Terus berjuang dengan idealisme mas Hanung untuk berdakwah Islam ya mas..Insya Allah niat lurus akan dimudahkan Allah..
Semoga moral bangsa jadi lebih baik melalui film2 mas Hanung.
Salam kenal..

bisy wrote on Feb 5
salut buat sang ibuuuu....!!!!