
Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih? Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir. Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama. Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC). 'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku 'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.' 1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar. Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali. Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset. Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ... Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu? Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo. 'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke producer. Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya. Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan. Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.' Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ... 'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu. 'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.' Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali. Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami. Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api. Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu. Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja. Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ... 'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.' Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria. Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini ... Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ... Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!! begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ... La haula wa kuwwata illa billahi ...
 | Ternyata memang tidak mudah ya Mas Hanung :) ketika membaca alur dibalik pembuatan film AAC tersebut, memang pastinya tidak 'seindah' dan 'seidealisme' yang ada di dalam Novel, akan tetapi semoga spirit ini akan membawa efek yang baik (Dakwah) bagi Masyarakat Indonesia, dan khususnya para pemain, agar dikemudian hari dapat menuju jalan yang lebih Islami lagi..Amiin..Insya Allah... *salut buat Mas Hanung, Istiqomah dengan Film Islami!* |
 | Selamat Hanung..!
Semoga terus bersemangat membuat film bertema Islam.. Akan banyak yang bisa kerjakan untuk agama kita, bila kita mau. Semoga film2 yang dibuat terus "berkualitas". |
 | Mas..usul donk..kalau bisa suatu saat nanti, bikin film dokumenter tentang Islam ^_^ |
 | dik2 wrote on Nov 29, '07 Wah Subhanalloh mas Hanung, sebuah jalan mengukir cahaya Islam memang sering kali terjal dan berliku. Namun alhamdulillah, semoga ini menjadi buah kesabaran kita mengharapkan ridho-Nya. Sukses untuk Ayat Ayat Cinta The Movie. Semoga kita semua tetap mendapat cahaya rahmat peneguh jiwa ... |
 | Keren-keren Om Hanung, padahal waktu itu ane mau tuh ikut casting jadi fahri. Hehehe, anyway, salut buat Om Hanung, dan selaksa doa untuk kesuksesan film ini.
Kalo berhasil, please, dont leave from per MPan ye?? hehehe |
 | sama-sama ... saya masih punya PR menulis bag III kisah dibalik produksi AAC ... lebih berliku. lebih ribet dan dramatis ...
|
 | salaamullah alaikum
salute...
semoga tetap istiqomah, tidak terganggu oleh intervensi pihak2 yang ingin melalaikan kita... |
 | Smoga sukses selalu mas Hanung... |
 | Berharap yang terbaik terus buat kelangsungan film Indonesia.. Semoga Ayat-Ayat Cinta sukses, seperti film2 mas Hanung sebelumnya..
Dan sekarang, selain ngga sabar nungguin film nya, ngga sabar juga nungguin kisah dibalik produksi AAC bag III..
Ayoo mas Hanung, buruan di posting dong.. ^_^ |
 | salam kenal mas hanung. Adib- Rolling Stone |
 | salam kenal mas. salut bwt mas yang mau memfilmkan novel ini! semoga sukses dan laris film-nya! amin! |
 | Hallo, Adib. Senang bisa kenal sama elo. Gw tau elo dari Aris. Gw pengen ngobrol ama elo. Soal music. Gw tertarik sama Tielman Brothers. Gw pengen tau soal itu. |
 | Mas hanung, semoga diberi kekuatan ya... aku salut denganmu, jangan hanya memikirkan keuntungan, tapi ada misi & visi dari sebuah karya, ya insyaAllah jadi ladang amal.., ditunggu filmnya. Awalnya aku j uga ragu dengan film ini, karena novel kang abik bagus banget dan ada pesan-pesan yang disampaikan, semoga diberi kekuatan. |
 | Wah, hanya doa yang bisa saya sumbangkan. Semoga Mas Hanung bisa terus istiqomah dan film AAC ini bisa sukses. Sukses di dunia dan bekalan membanggakan bagi Mas di hadapan Allah kelak, insya Allah. Amin. |
 | salutee......
sedkit sekali sutradara dan seidialis mas hanung...
akankah sefenomenal novelnya...kita tunggu di 19 desember.... |
 | ---Speachless---
Semoga film ini menjadi pelajaran dan pengajaran yang beraharga akan makna dan arti cinta sesungguhnya... |
 | hmmm... jadi penasaran sama film-nya nih mas
novelnya saya gak tertarik, coz buat saya, peran dan alur cerita yang digambarkan di novel itu terlalu sempurna. yah, semoga aja, setelah film-nya keluar, saya jadi tertarik menyelesaikan baca novelnya ^_^
sukses ya... ^_^ |
 | awalnya saya juga capek membaca novelnya. Tapi setelah saya paksa, saya jadi tahu maksud kang abik membuat tokoh Fahri. Saya menangkap seseorang yang mengganggap disi sempurna, adalah sebuah kesombongan. Oleh sebab itu Fahri diberi 'cobaan' sama Alloh atas sikap yang merasa sempurna itu ...itu yang jadi spirit saya membuat film AAC. |
 | mas, emang produser2 di Indonesia cuma si indihe2 itu aja ya? Yang maunya cuma cari untung aja??! Yang bikin orang Indonesia sukanya film horror ama film menye2 doang??! Sebel... :( |
 | Ooohh... gitu ya mas? Mas hanung aja memproduseri film sendiri.. Hehe.. Pasti pengen ya mas? Di doain deh! ;)
Oya, selamat ya mas menang sutradara terbaik FFI 2007! Aku dah nonton Get Married dan salut banget! Apalagi adegan tawuran itu. Keren! Hehe... Maaf OOT.... ;p |
 | Sorry I did not know this before. |
 | Yang jelas ngga bisa di gambarkan seperti penjara mesir..!!?? Gimana mas Hanung, kemarin sempat ke penjara mesir ngga?? Salam dari Cairo.. |
 | Aku percaya orang besar selalu dimatangkan oleh proses. Makin sulit proses berjalan, makin tinggi ilmu yang dijanjikan Tuhan. Go go go Mas Hanung! Seperti hidayah Ayat Ayat Cinta, sabar dan ikhlas, pasti tujuan tercapai. Aku tunggu premierenya mas! Kemaren aku bela-belain pulang dari Bangkok cepet, karena mo ngejar premiere AAC yang kata 'billboard' tanggal 19 Desember. Semoga kemunduran premiere yang tak jelas sebabnya ini, menjadi bonus promosi! Wel, hartelik gefeliciteerd! |
 | Tiap liat di TV mengenai public figure yang melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Islam, terbersit iri di hatiku. Ngiri karena dengan ketenaran, bakat, & hal2 lain yang mereka punya, mereka bisa dakwah mengenai Islam. Mengenai niat & tujuannya, wallaahualam. Itu urusan mereka dengan ALLAH. Aku ngiri karena aku belum bisa berbuat banyak untuk agamaku. Membaca tulisan mas Hanung mengenai latar belakang pembuatan AAC, aku jadi makin ngiri.. terutama setelah mengetahui niat, latar belakang, & proses yang mas Hanung lalui.. Insya ALLAH besar banget pahala yang didapat mas Hanung.. berbuat demi Ibu. berbuat untuk Islam.. Sumpah, aku ngiri banget! |
 | Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum.
Dasarnya apa yah, mas hanung bisa mengatakan seperti itu ? Coba tengok salah satu berita ini : http://www.voanews.com/indonesian/archive/2002-03/a-2002-03-01-6-1.cfm
Justru menurut saya, toleransi di Indonesia sudah jauh lebih baik dibandingkan di India. Soory komen-nya OOT.
|
 | rhea wrote on Dec 22, '07 Mas hanung..saya termasuk salah satu pembaca novel ayat-ayat cinta..jujur aja waktu pertama tau akan di novelkan yang terpikirkan oleh saya apakah akan menjadi semenarik novelnya atau justru sebaliknya..however two thumbs up..semoga menyusul film-film mas Hanung yang islami.. |
 | mas...kira-kira untuk film ahmad dahlan itu budgetnya berapa ya? hehehehe....tanya aja..siapa tau ada rezeki....amiiinnn.... |
 | sekitar 11 Milyar,mas. Ini sedang mencari dana buat pembuatannya. Sudah didukung oleh Bpk Din Samsudin. Insya Alloh akan menjadi film wajib tonton buat SMA Muhammadiyah se Indonesia. Sehingga uang 11 Milyar akan kembali lagi. Syukur bisa menguntungkan. Bisa untuk membuat film agama yang lainnya ... |
 | saya telat baca novel dan tau film ini, maklum jauh dari indonesia. tapi ditunggu nanti pemutarannya. insya allah awal februari sudah pulang. tenan lho, ojo mundur2 meneh. |
 | zoeiq wrote on Dec 25, '07 ass... semakin banyak tantang insya allah akan semakin orang berminat.... dan membuat penasaran |
 | arifnur wrote on Dec 25, '07, edited on Dec 25, '07 'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu. 'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.'  Ini saya cuplikkan hasil wawancara saya dengan Andrea Hirata ttg Novelnya Laskar Pelangi yang difilmkan..., mungkin bisa jadi pertimbangan kekhawatiran sementara orang akan hasil Film yang berasal dari Novel seperti Ayat Ayat Cinta: "Menurut Andrea, dia termasuk orang yang tidak setuju kalau Film sama dengan buku. ” Seperti Film English Patient yang ngetop karena berbeda dengan buku” katanya. Namun Andrea mengakui adanya presepsi khalayak bahwa buku yang difilimkan akan berpeluang jelek. Padahal menurutnya kalau Film harus sama dengan buku akan menghilangkan potensi besar sineas.”Tidak perlu sama, asal tidak menghilangkan Valuenya” terangnya. ” Sineas bisa bebas..misal menceritakan Ikal dewasa dulu, baru kemudian flash back menceritakan ikal kecil” " ( http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=655&Itemid=2&lang=id) Sukses selalu Mas Hanung..., Amin |
 | Tetap semangat Mas Hanung! Dan selamat buat piala citra-nya! (moga tetep istiqomah). Salam ukhuwah. |
 | Assalamualaikum Mas Hanung, Februari 2007 lalu sempt diskusi dengan Kang Abik. Dia nggak keberatan AAC difilmkan karena masyarakat sudah baca novelnya. Jadi yang akan protes itu masyarakat bukan Kang Abiknya kalau film tidak sebagus novelnya. Maka menggarap film ini adalah tantangan untuk Mas Hanung untuk memvisualkan pesan-pesan AAC kepada penonton
Saya suka dengan film-fil MAs Hanung. Saya berharap, meskipun karena utnutan profesi Mas Hanung harus menggarap film pasaran, tapi harus ada juga film-film idealis yang Mas Buat. Semoga sukses, ya Mas.
Kalau ribuan orang mendapat hidayah keran menonton AAC, pahalanya untuk Mas juga, kan? ^_^
Wassalam |
 | Salut mas Hanung..Semoga AAC bisa sukses seperti film2 mas hanung lainnya..juga menyusul film2 islam berikutnya..:) |
 | Assalamualaikum Mas Hanung semoga keberkahan dan RahmatNya senantiasa menaungi segala usaha yang Mas jalani.. dan smoga perjuangan Mas untuk membuat AAC tetap islami dalam filmnya mendapat suatu amal kebaikan amin..
tetp smangat ya Mas.. |
 | wah.menarik skali.i just got back from jakarta/bandung from a holiday and saw the poster.terus pergi music store tanyakan dvdnya.rupanya belum release lagi movienya.hopefully it went well.saw the trailer and i just can't wait to watch it.masuk malaysia tak movienya?? btw,good luck with the movie! ;) |
 | ternyata banyak juga pertentangan dalam membuat film, yah butuh kesabaran ekstra untuk film ini, pasti menjadi film yg bagus, sebagai Pembangun Hati di awal tahun 2008 |
 | Salam Mas Hanung, Segala usaha kalo diniatkan baik inshaallah Allah akan membantu, tergantung ketetapan hati kita untuk tetap istiqomah... saya salut dengan usaha mas untuk membuat film ini.. saya sendiri sudah membaca novelnya.. is not an easy task to bring this novel to a big screen, tapi kalo niatnya baek inshaallah hasilnya juga baek walo banyak rintangan.. Jadi g sabaran pengen liat hasil akhirnya, kapan releasenya?? |
 | "dan bekerjalah...Allah, Rasululullah dan orang-orang mukmin akan melihat hasil pekerjaanmu." sebuah spirit pesan Al-Quran yang luar biasa buat mas hanung bramantyo....semoga film-film yang nanti dibuat setelah ini konsisten dengan idealisme Islam dan penyutradaraan. |
 | semoga film ini bisa memberitahukan ke masyarakat tentang tata cara pergaulan islam yang sebenarnya, bukan menjadi pembenaran untuk tata cara pergaulan yang ada di masyarakat Islam Indonesia yang sekarang terjadi dan sebenarnya sudah tidak islami lagi.
Smangat bos! |
 | rinto wrote on Jan 4, '08 Semoga sukses untuk filmnya. Berharap juga bisa menonton versi uncut alias versi penuh tanpa potongan2 dari produser :) Mungkin setelah sukses rilis di bioskop bisa diteruskan dengan roadshow untuk pemutaran versi penuhnya, mas :) |
 | tetap semangat mas... ..........lanjut . ke bagian II .............. |
 | Wew... kayaknya Diorama Sepasang Albanna kalo difilmkan menarik juga. Asal pak bos ndak terlalu ngrecokin sih. |
 | Sukse Buat Pilemnya
jgn melulu Cintrong2 aje Bos....
emang hidup bisa makan cinta? lha anak mudanya disuguhin cintrong melulu....kan butuh juga sisi Religi....
Hehehehe
salam Kenal dari Saya
REGARDS |
 | wah wah.... indah,,, saya sadar bahwa sekarang berada di cairo.... setelah membaca AAC... |
 | Smoga film yang mas ciptakan bisa menginspirasi para pembuat film yang lain biar ga cma buat film yang tidak ada segi manfaatnya. amin |
 | Semangat ya Mas Hanung!!! Maju terus!!! Semoga Alloh selalu bersamamu dalam meniti dakwah di bidang perfilman.. Amien. Emang ibu tuh tau apa yang terbaik buat anaknya, salut juga buat ibunya mas Hanung... ;-)
|
 | Assalammualaikum mas Hanung, mo minta maaf nih sebelum sempet kecewa AAC difilmkan, but straight after reading n comprehending what u're trying 2 achieve think i owe a big apology 2 u. Btw, knp ditunda penayangannya? Trus uchie cari di 21cineplex udah ga ada synopsisnya. Sungguh sayang karya ini kalo ga sempet diputar. |
 | Assalamualaikum wr wb Era kehancuran Islam sedang di mulai, Agama yg seharus nya wujud dalam kehidupan masyarakat, kini tinggal cerita dan film nya saja,maka bersiap siap lah kita ummat Islam menghadapi kehancuran yang sesungguhnya. |
 | cepet, aku juga ngak sabar nih pengen tau kelanjutannya
|
 | nyain3 wrote on Jan 13, '08, edited on Jan 13, '08 sangat bagus novelnya. aku sudah tidak sabar untuk liat filmnya
|
 | mas filmnye koq ngak di putar-putar..... kan udah kelar, ada masalah apa ya... |
 | work hard, play hard. that's reality but life must go on and sure, the show must go on. intinya : kapan nih diputernya ? kmaren smpet liat show biz on location ttg AAC jd smpet liat cuplikan filmnya. kyknya riyanti kurang tinggi buat jd cewe bule hehe... setuju bgt ma mas hanung klo sebaiknya Fahri digambarkan sbg sosok yg tdk smpurna, krn emg gt knyataannya. wajar aja klo sebuah film yg d angkat dri novel psti dibanding2kn ma novelnya, apalagi klo novelnya bestseller. jd sbelum dibanding2kn, mending dibuat beda skalian hehe.. tentunya dengan tidak mghilangkan inti dri cerita n pesan yang ingin disampaikan k pnonton sebaiknya sama dengan pesan yg ingin disampaikan kang Abik untuk pembaca
|
 | alhamdulilah, masih ada sutradara yang lebih memilih idealisnya sendiri ketimbang permintaan producer, tolong bilang sama producernya, untuk film ayat2 cinta ini bulshit si penonton suka yg romantis2, jika melenceng jauh dari filmnya, bahakn ada adegan2 yg menimblkan pro kontra seperti pegangan tgn dll tolong dihilangkan daripada menjadi masalah. smangat pakkkkkkkkk =D |
 | asslamualaikum, maz udah satu bulan ni saya baca comment di beberapa blog yang byk beri komentar pesimistis thd film mas, terutam mengenai pemainyang dipilih. usul saya web ayat-ayat cintathemovie.com juga dikasih KISAH DI BALIK LAYAR AAC. biar mereka yang klik web tu jadi maklum dengan pemilihan pemain yang mas buat. saya sendiri liat trailernya AAC lebih indah dari yang saya bayangkan waktu baca novelnya.mas ngambil shootnya bagus banget....SALUTE TO U maz |
 | Subhanallah.....!!!!!!!!! Sebelumnya maaf mas,tapi pertama saya denger novel ini mau di filmkan,saya juga merasa agak ragu. Bagaimana menuangkan semua hal2 menakjubkan tentang Islam dari novel ini ke dalam film. Bahkan saya juga menebak-nebak siapa yang "pantas" memerankan tokoh fahri. Dan saya juga kaget ketika tau fedi nuril-lah yg terpilih untuk memerankan tokoh ini. Karena sebelumnya yang saya tau fedi nuril selama ini selalu memerankan film2 ttg cinta,bahkan ada dalam salah satu filmnya ada adegan ciuman dengan lawan mainnya. Tapi setelah saya baca blog mas hanung dan membaca "kisah dibalik pembuatannya" Saya bener2 salut buat mas hanung. Tetep Semangat ya mas bwt bikin film2 indonesia yang gak cuma menghibur tapi berisi,dan mendidik!!!! |
 | saya tidak tahu mau mesti berkomentar seperti apa, ... saya lebih suka untuk mengambil pelajaran saja dari apa yang mas hanung tulis ini, ... akh,... jadi ada rasa rindu, ... hadir di kelelahan kalbuku ini, ....
Robb, ... di antara perputaran bumi yang telah semakin berumur ini di antara pertukaran siang dan malam yang tak pernah henti hamba-Mu yang masih tertatih ini, tak ingin lagi sembunyi, ... tak ingin lagi lari ijinkanku hadir ya Robb, di dalam barisan hamba-hamba yang beroleh ridha-Mu meski dengan upaya yang tertatih dan pada saatnya nanti ijinkanku pulang, ... menjadi jiwa yang tentram yang beroleh senyum-Mu lagi, ... meski dengan upaya yang tertatih .....
|
 | said Assalamualaikum wr wb Era kehancuran Islam sedang di mulai, Agama yg seharus nya wujud dalam kehidupan masyarakat, kini tinggal cerita dan film nya saja,maka bersiap siap lah kita ummat Islam menghadapi kehancuran yang sesungguhnya. Sejak jaman Khulafaurrosidin, seruan tentang kehancuran Islam sudah ada.
Kenapa anda baru berteriak sekarang? Mari kita songsong hari depan Islam dengan pikiran terbuka. Berdakwahlah di luar masjid, begitu kata Kyai Dahlan. Musuh terbesar Islam bukanlah orang lain, tetapi umat Islam itu sendiri. salaam ...
Berdakwaklah dengan cara Nabi Saw, Bukan dengan cara dan keinginan kita masing masing, apalagi dengan cara Yahudi dan Nasrani, berdakwaklah dengan cara Islam, bukan dengan membuat Film, Nabi tak pernah contohkan cara seperti ini, cepatlah koreksi diri anda, perbaiki kesalahan ini, sebelum terlambat, sebelum kita mati. hentikan rencana tayang Film ini.... semoga ALLAH memberi Hidayah buat anda Amien....
|
 | aku gak sabar nonton film ini di Paris... |
 | dhilan79 wrote on Jan 22, '08, edited on Jan 22, '08 ok punya tuch. tetap semangat. |
 | waktu baca novel ini, kebayangnya si fahri itu, pemuda dengan fisik/face biasa, njawani, dan kental dengan kultur pemuda yg besar di kalangan nahdliyin, seneng sandal jepitan dan sarung selalu di tas... but anyway... you the owner of this project bro ! |
 | baca novelnya aja udah kerasa banget membuka pikiran apalagi nonton filmnya...salut...semoga filmnya sukses |
 | Baca novelnya udah berapa kali yah....sampe lupa deh. Yang biasanya males beli tabloit bela2in beli tabloit abisnya ngebahas soal AAC ....yang biasa males beli cd, akhirnya juga beli CD OS AAC, he...biasanya cuman ngopi dari CD sample dr label, mumpung kerja di radio ha...a..manfaatin deh :) ...yang bikin temen bilang kalo aku gila : kisah dibalik AAC sampe aku jilid ga ketinggalan foto-fotonya mas Hanung pastinya, santai aja mas, bukan bwat komersil kok...intinya : nunggu dan seneng banget sama Film AAC....sukses mas Hanung, segala curhatmu "disini" menjadi inspirasi, sama seperti curhat Fahri yang selalu menjadi penambah harumnya taman hati....AAC cepat sampe Kediri yah.... |
 | Assalamu'alaikum... kalau saya boleh sumbang saran, sebaiknya film ini jangan terlalu banyak atribut Islami, karena Islam itu sulit di gambar (visual)kan hanya bisa dirasakan, kalau pun dipaksakan pasti akan menghadirkan banyak kontroversi (menjauh dari tujuan ikhlas mas Hanung), walaupun demikian saya yakin film ini tidak akan mengecewakan penggemar novel AAC karena para penggemar AAC sudah merasakan keindahan dalam novel AAC. |
 | Islam adalah keindahan, sebuah mutiara di tengah kelam, kerlip bintang di gelap malam. Alhamdulillah, sepertinya Mas kembali ke fitrahnya, mundur ke sela di mana Mas masih dekat dengan harmonisasi Islam. Dimulai dari AAC, moga bisa mengisi relung baru di ranah film tanah air. Bahwa film tidak mesti horor, tidak mesti drama berderai air mata, tidak mesti kocak, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar bicara margin dan selera pasar. Alloh selalu menyertai umatnya yang berjalan di atas kebaikan, pun itu terhalang karang terjal. |
 | Cayyooo Mas Hanung!!!!! ditunggu nih filmnya di Malang... |
 | tak sabaq nak tgk movie ni... tahniah.. ya |
 | Mas Hanung...ditunggu banget film-nya. Buatlah wajah islam yang lebih ramah... |
 | subhanalloh, semoga semua kerja keras itu berbuah manis and diberi hasil yang terbaik menurut Alloh. sukses untuk mas hanung, semoga makin banyak film2 islami yang bisa diproduksi dan kita nikmati |
 | berarti filmnya bersambung dong mas sampe ke 3? |
 | Sukses buat mas hanung, memang kita perlu memperbanyak film2 bagus bernafaskan islam. Kalau kita perhatikan naga bonar jadi 2 juga ada nilai2 dakwah islamnya, dan sukses dipasar.
|
 | sukses ya, dan semoga setelah film AAC ini.mas hanung bikin film y bernuansa islam lainnya. |
 | semoga sukses filmnya...cannot wait..... mas jangan ditunda lagi donk penayangannya.... |
 | Aduh..terharu banget bacanya..jadi mau nangis..dan jadi semangat pengen nonton filmnya AAC. Sumpe..tadinya aku rada gak percaya sama mas Hanung..soalnya film2 yang dibikin mas Hanung selama ini...kuch2 hotahai banget.. Terus berjuang dengan idealisme mas Hanung untuk berdakwah Islam ya mas..Insya Allah niat lurus akan dimudahkan Allah.. Semoga moral bangsa jadi lebih baik melalui film2 mas Hanung. Salam kenal..
|
 | salut buat sang ibuuuu....!!!! |
 | Salut mas hanung, semoga tambah sukses. |
 | Salut! jadi kapan premiere nya? |
 | Kapan nih muncul di BIOSKOP, mengingat sudah banyak penggemar yg menantikan, kok lama sekali??, Apakah ada kendala film2x Islami yang bagus begitu susah diputar di BIOSKOP2x dibandingkan film2x Yahudi yang jelas2x tidak ada unsur positifnya? |
 | ya..... mas kapan neh di putar udah ngak sabar neh.... denger2, 28 Feb ini ya mao di putar.... |
Comment deleted at the request of the author.
 | Saya rasa cara berdakhwa Saudara juga tidak lebih dengan cara Yahudi maupun Nasrani. Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk berdakhwa dengan internet, apalagi membikin blog, website, emeil dsb. Koreksei jugalah diri Anda kembali, zaman telah berubah dan jangan pernah mengahramkan yang halal. Beriskusilah kembali dengan orang-orang yang berilmu lebih dalam.Mudah-mudahan Allah SWT juga dapat membukakan pikiran dan hati Saudara, amin ya rabbal alamin.......
Saya juga mengucapkan salut kepada Mas Hanung. Mudah-mudahan spirit yang terkandung dalam Film AAC dapat diresapi oleh semua orang seperti novelnya. Saya sangat menantikan penayangan Film ini. Sukses selalu...
Wslm |
 | Ini da'wah macam apa ini????????????? |
 | wah keren..ma'an najah ya..smg tetap istiqomah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah:) |
 | 1. Filmnya dangkal Mas. Tidak jelas apa yang mau di tampilkan, jauh berbeda dengan yang di novel yang lebih mengisahkan jalan hidup Fahri, bimbangnya dia akan 4 wanita yang meuja dirinya, perjalanan hidup Aisha, dan proses "melekatnya" Fahri dan Aisha.
2. Ada hal yang semestinya masih bisa disamarkan untuk lebih memberi warna film ini, semisal : Noura masih bisa mengelak ketika akan disentuh dagunya, kita tahu...zaskia gimana di dunia real, kasian banget, mesti "tergadaikan" dengan di pegang dagu dan dipeluk oleh oom wowor... atau adegan ciuman antara fahri dan maria ataupun dengan aisha
3. Sosok Saiful lebih cocok menjadi Fahri, atau selayaknya dimunculkannya aktor yang baru banget, yang nantinya akan senantiasa mengesankan sosok Aktor tersebut sebagai Fahri di dunia nyata. semisal Igo Ilham sbg Fatahilah, dan Ncolas Saputra sbg Gie, mereka akan dikenang sangat melalui perannya.
4. Eksotisme Mesir hilang !!!, mungkin karena setting tempatnya ya, tapi pinter juga ya, sehingga filmnya lebih banyak bersetting di dalam ruangang.
5. Great point...syahdunya suara Shalawat dan ArRahman dapat mengobati kekurangan film ini.
OKehh...keep spirit, secara pribadi akan menantikan karya anda yang bisa lebih memberi warna pada bangsa ini, |
 | assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
salam kenal mas. Subhanallah, Islam memang Indah dan seperti menemukan sesuatu yang hilang yang telah lama kita cari.. Allah memang segala-galanya...
Barakallah ya mas... |
 | mas hanung, aku mo minta ijin mo naroh blog ini di multiply ku.
Makasih |
 | nurzj wrote on Feb 26, '08 Semangat mas! semoga menjadi satu langkah awal dari langkah-langkah kebaikan selanjutnya. |
 | Salut untuk kerja keras Mas Hanung. Saya pikir itulah cara Allah mengenalkan Islam lebih dalam, melalui riset film mas hanung. ternyata jauh banget kan dari yang kita ketahui sekarang ya kan. saya juga belajar islam mendalam sejak kuliah. Dan ada kewajiban untuk mensyiarkan pengetahuan kita. Saya memang sangat senang dengan seni seperti film atau tulisan, mengajarjan orang tanpa harus menggurui. salam kenal ya Mas, semoga cerpen2 saya yang saya namakan jurnalisme nurani bisa juga dilirik oleh Mas Hanung..temen2 bilang karya saya Islami tetapi tidak menggurui.Semoga mas Hanung bisa mampir2 ke Mp saya...Saya tetap menunggu karya2 berikut Mas Hanung. Allahu Akbar...!! |
 | assalam.... saya sudah nonton filmnya mas hanung.jadi agak kepikiran juga bagaimana beratnya beban mas hanung dalam menggarap film AAC ini.... jadi saya berkesimpulan,daripada kecewa, bahwa membandingkan antara novel dan film adaptasi adalah hal yang keliru.karena sudut pandang dan visualisasi film dan karya sastra tulis adalah berbeda. salut!!! lakekomae.multiply.com |
 | assalam. saya sudah nonton AAC. jadi kepikiran betapa beratnya beban mas hanung dalam mengawal film ini sampe jadi. nah,daripada kecewa, saya kemudian menganggap tak pantas membandingkan novel dengan film adaptasinya. tentu saja, film dan karya sastra adalah dua hal yang beda pada visualisasi si penikmat. salut!!! |
 | feiblog wrote on Feb 29, '08, edited on Feb 29, '08 salam mas hanung,
Awalnya emang ada rasa kecewa, imajinasi dan jalan cerita yang timbul dari baca novel AAC ada beberapa scene yang tidak tervisualisasikan dengan baik di filmnya dlm artian dirubah sampai tidak ada, tapi itu aku sadari sebagai sesuatu yang lumrah.
Oya, satu pertanyaan aku buat mas, mas ga ngejelasin kenapa VJ Rianti yang dipilih memerankan Aisha? But overall everything goes well, salut buat mas hanung
salam |
 | anda sedang menghancurkan islam cepatlah sadari kekeliruan anda sebelum anda meninggalkan dunia fana ini perbanyak istighfar, dosa jariah pada film ini akan anda tanggung sampai anak cucu anda kasihan mereka |
 | emang ada di dalam islam dosa turunan......... saya salut sama mas Hanung... |
 | @^ salut? sesungguhnya anda sedang menjerumuskan mas hanung ke neraka |
 | Filmnya lumayan bagus, megah..tapi masih ada hal2 yang tidak islami, seperti minum dengan tangan kiri, menjawab salam dengan non muslim..tapi dibandingkan film indonesia yang lain..ini keren banget,..walau gak seindah novelnya...salut buat semuanya...cuma sepertinya rianti kurang cocok sbg aisha ya....Tetap aja salut buat mas hanung... |
 | Wah saya terharu membaca postingan ini, belum lagi nonton filimnya. Saya juga baru tahu ada filim ini ya di You tube, klik sana-sini, eh kok ada trailer filim ini. Maju terus ya Mas, insyaAllah filim2 yang lain akan lebih hebat lagi dan lebih 'dalem' lagi. |
 | aduuuh...hebat pisan euy,, |
 | indahs4ri wrote on Mar 3, '08, edited on Mar 3, '08 mmmhmm, filmnya bagus, pengambilan gambarnya bagus, tapi sayang beribu sayang, adegan filmnya banyak yang dipotong dan pemotongan adegan dan ceritanya itu menurut saya keliatan bangettt, keliatan banget kalo film nya di percepat gitu mas (karna saya udah baca novelnya), dan pemotongan-pemotongan fillm dilakukan di cerita yang menurut saya bisa memberikan nilai plus plus dan plus di film aac yang mas hanung sutradarai,dan adanya penambahan adegan film dan meninggalnya maria yang di novel begitu nelangsa ( sakit karna cinta ... caileh ), eh diganti menjadi sakit dan meninggal karena kecelakaan, waduh waduh waduh ..... jadi berkurang nilai romantisnya, trus adegan bercanda nya aisha dan fahri yang berupa gurauan suami ke istri yang seharusnya ada dan bisa menjadi pelajaran dlm rumah tangga malah dihilangin,trus obrolan 2 yang mengandung dakwah pun ( seperti dinovel) banyak yang di hilangkan ....... maaf jika tidak berkenan dengan comment saya ....... |
 | Kemarin baru bisa liat pelemnya di bioskop TIM, sebelumnya sempat kejar2an dengan bioskop karena kehabisan tiket. Alhamdulillah Pelemnya Ok's banget...sedikit terharu karena terpengaruh oleh iringan musik yang membangkitkan emosi penonton, terlebih ketika Fahri mengucapkan ijab qabul, kritisnya Maria dan Meninggalnya Maria, waahhh....ternyata yang mengeluarkan air mata bukan saya saja, isteri saya dan beberapa penonton di belakang saya terdengar isakan tangis terharu (hiks....hiks....hiks...). Kemudian di pelem ini juga ada nuansa humornya ketika fahri curhat dengan syaiful tentang kedua isterinya yang belum bisa pengertian. Syaiful bilang, "satu isteri saja lom ada, apa lagi 2" ke fahri.(terkekeh saya) Sayangnya saya dan isteri berkomentar dengan sosok Fahri tidak sedewasa seperti deskripsi imajinasi saya di novel yah, terlalu baby face banget.
|
 | Selamat bung Hanung ... semoga bisa lebih baik kedepannya. Film anda sudah cukup membuat saya terharu dan sangat menyentuh ... sayang masih ada adegan ciuman, buka jilbab serta maria yang menampilkan kaki terbukanya diawal kemunculan. Secara umum, saya mendukung usaha pembuatan film Islami bagi anak-anak muda bangsa. Saya mendukung anda, InsyaAllah. Armansyah (palembang) Penulis buku "Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih" http://armansyah.blogsome.com |
 | selamat ya kak hanung... kebetulan saya n teman2 sudah nonton filmnya di hari pertama diputar. pengambilan angle gambarnya indah n yup... betul.. eksotis... salut untuk semuanya... :) |
 | ahdee19 wrote on Mar 4, '08, edited on Mar 4, '08 Assalamu'alaikum wr.wb.
Bismillahirrohmaanirrohiim_ Saya sangat menghargai usaha Mas Hanung untuk memfilmkan novel ini. Sungguh, sungguh, sungguh. Mungkin krn sebelumnya telah membaca novelnya, sy agak kurang bisa menikmatinya. Karena sudah tahu jalan ceritanya? Mungkin_ Tapi saya rasa sebenarnya karena beberapa pesan yang bisa kita dapat dari novelnya tidak/kurang tersampaikan, atau bahkan terdistorsi. Mungkin akan lebih menarik jika dengan terangkatnya novel tersebut ke layar lebar, pesan-pesan tersebut mudah tersampaikan, dengan berbagai inovasi tentunya (semoga Alloh mengilhamkannya kepada Mas Hanung untuk karya-karya Mas Selanjutnya, Amin), karena pesan-pesan (dan kesan-kesan) itulah yang ingin disampaikan penulis cerita, atau yang ingin dirasakan penonton yang telah membaca novel yang diangkat ke dalam suatu karya audiovisual. Tapi ini tentu saja ini bukan berarti Mas tidak dapat berkreasi, lho; tentu itu suatu tantangan, untuk menghadirkan suatu masterpiece yang tidak kalah dengan novelnya, dan akhirnya film yang dibuat bukanlah film yang nantinya terkesan semata-mata mengikuti kepopuleran novel yang diadaptasinya...
Tetap berkarya!! Don't put down the spirit!! (^o^)
Qta berdoa yuuk... (^_^) "Ya Allah, anugerahilah kami cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta mencintai semua amal yang dapat mendekatkan kami kepada-Mu." (H.R Tirmidzi) |
 | hm... semoga saja apa yang kau rasakan dapat membuat hati-hati kami berdoa untuk memudahkan jalanmu untuk berdakwah di film ini. |
 | Ah, saya yang terlalu dangkal jadi merasa sangat malu. Seharusnya saya tahu kalau pembuatan film dari sebuah novel itu melibatkan banyak kepentingan, bukan sekedar memvisualkan tulisan. Ada pertimbangan ini itu dari pihak yang mendanai misalnya, ada kesulitan mendapatkan pemeran, lokasi, dana dan lain sebagainya. Beberapa hari yang lalu dalam sebuah forum saya menulis tentang betapa berbeda film Anda dengan novelnya, dan mengkritisi film itu tentunya, dengan nada yang miring. Saya bilang pemainnya kurang menjiwai, setting terlalu tertutup, dan lain sebagainya. Dengan ini saya pribadi mohon maaf pada mas Hanung. Harusnya saya tahu lebih banyak sebelum mulai mengkritisi. Dan saya berterima kasih anda sudah mengajari saya banyak hal hari ini. Terima kasih. |
 | Finally.. setelah belasan tahun baru tadi malam akhirnya punya alasan untuk ke bioskop. Ternyata bukan saya sendiri yang harus berpindah bioskop karena kehabisan tiket. Menurut saya pesan dakwah di film AAC sudah cukup. Kalau pesannya sebanyak yang di novel... itu sih masalah durasi ngkali... Lagian ya gak bisa lah sama dengan novelnya. Bilang sama produsernya Mas.. saya ga setuju kalau film akan menarik kalau banyak adegan romantis yang vulgar dan norak. Penonton kan sudah dewasa, pakai simbol aja ngerti kok kalau itu adegan romantis. Misalnya adegan malam pertama dengan Aisha dan adegan mesra dengan Maria. Kan bisa dibuat lebih halus lagi. Soal shotnya seperti apa..Mas Hanung lebih pinter lah. Buat saya yang menyentuh justru adegan yang tadinya akan dibuang oleh produser, yaitu dialog di penjara tentang ikhlas dan adegan ketika Fahri harus berulang kali takbiratul ihram karena emosi dan tidak mampu khusuk. Adegan ijab kabul di rumah sakit juga menyentuh. Emosi Rianti bikin hati saya ikut tersayat-sayat. Sayangnya nuansa Mesirnya kurang... Coba lebih banyak adegan di Al Azhar. Itu mah saya tahu bukan Mesir tapi Rumah Maroko yang di Menteng itu..ya kan Mas...?
Bagaimanapun.. selamat ya.. Ditunggu karya selanjutnya. Yang membuat saya punya alasan untuk bioskop tentunya... |
 | ziwane wrote on Mar 5, '08, edited on Mar 5, '08 setelah nonton, kesan pertama yg muncul, hanung terlalu naif deh....ngangkat sebuah novel fenomenal seperti A2C ini ke sebuah film, apalagi utk sutradara sekelas anda bung hanung.... mestinya anda konsisten aja pd film komedi atau yg lebih bersifat komersial, film yg berorientasi uang. mestinya nih film disutradarai org sekelas dedi mizwar yg emang konsisten di jalur dakwah, ato mungkin spielberg. dan akhirnya...ya gt lah hasilnya, inti dari novel itu sendiri yg sebagian besar adalah dakwah seperti tidak ada sama sekali dlm film nya. tema film berubah menjadi tema cinta. masa fahri liat cewek sambil melotot gt, mana keindahan nilai2 ajaran islam yg seperti digambarkan di novel? damn.... tau gt aq gak nonton filmnya, emang novelnya terlalu bagus sih utk bisa dituangkan ke layar lebar. 1 pesan aja buat bos hanung, yg sekarang mungkin dah menikmati uang hasil dari film A2C, mohon dengan sangat novel "ketika cinta bertasbih" jangan anda angkat ke layar lebar. biarkan saja org yg benar2 konsisten dg dakwah dan tau benar ttg islam yg menggarapnya. |
 | mama sama adek2ku baru pulang nonton AAC, matanya sembab... abis baca blog ini jadi penasaran "ada apa dengan ayat ayat cinta?" =) |
 | Pesan Orang Tua sangat tertanam di hati Mas Hanung.........Salut, juga karya, riset dan analisnya. saya doa kan semoga Mas Hanung di beri kemudahan dalam berdakwah melalui film islami selanjutnya. |
 | Saya salah satu wartawan di situs gaya hidup. Mas Hanung, aku masih ingat waktu pertama kali saya wawancara mas by phone soal akan dibuatnya AAC. Tadinnya saya pesimis ttg film ini, tapi dugaan saya salah... selamat buat mas Hanung. |
 | Thank U Bangat buat Mas Hanung yang udah jadiin AAC ini menjadi sebuah tontonan yang amat menarik........... Aku da nonton 4 X... tapi msih pingin nonton lagi......... Ditungggu film religi selanjutnya ya mas,,,,,,,,,,,, |
 | Ketika Cinta bertasbih... tawarkan itu pada Deddy Mizwar... mas hanung pasti mendapatkan dukungan yang luar biasa...
btw.. selamat telah membuat saya, berputar2 mall-mall jakarta hanya untuk sebuah tiket Ayat-ayat Cinta...
salute... |
 | sibunder wrote on Mar 6, '08, edited on Mar 6, '08 "di film AAC kumelihat bukan seperti di Mesir,bukan seperti indonesia apalagi semarang & jakarta...mungkin karena bahasanya yg begitu campur baur, mungkin karena karakter pemainnya yg begitu beragam...keren mas Hanung dikau menciptakan dunia baru.."
two thumbs up..
satu keajaiban hadir kembali untuk film indonesia |
 | salut buat mas hanung kami di Cairo mendukungmu, Allahu Akbar |
 | bravo to Mr. Hanung! filemnya bagus banget, walau melenceng dari novelnya... memang sulit ya, berkutat dgn keinginan produser... itulah susahnya kalo misi da'wah dikotori dgn keinginan mendapat untung banyak alias kapitalisme. Hm, jg disayangkan ya, Rianti yg jadi pemeran Aisha... Dan satu lagi, menurut saya Fedi sbg Fahri cukup cocok, karena ada kesan innocent and peace di wajahnya. tapi menurut pribadi saya, yg memerankan Syaiful lebih cocok sbg Fahri. But all in all, this movie has provided new insight, refreshment and peaceful getaway from a bunch of irritable, pathetic materialistic sinetrons and movies. Once again, bravo man! Keep up the good work!
oya Mas, maaf mungkin kurang tepat nih saya tanya, tapi di mana bisa dapetin lagu-lagu scoring-nya ya? kok yg ada dlm album ostnya malah lagu yang g muncul di filem (mis. Ungu)? saya suka scoring di bagian ini: 1. setelah Aisha, Fahri n Alicia diskusi di kafe 2. setelah akadnya si Fahri 3. adegan malam zafaf 4. Maria sekarat, trus masuk "surga"
gimana dapetinnya ya mas? lagu-lagunya tokcer banget deh. Boleh dibilang setingkat Hans Zimmer lah...:) g seperti filem2 lain.
not two, sibunder, but four thumbs up!
rep anytime soon, ok Mas? |
 | mohon lebih menambah wawasan tentang islam biar lebih .... perfect buat Filem nya...... antum buat filem bertanggung jawab atas apa yang antum sampaikan .... sedikitpun noda ... dalam penyampaian dakwah melalui filem harunya di hindarkan ... karena ada kaum yang selelu mencari cari kelemahan umat islam jadi mohon dakwah antum lewat filem lebih hati hati yaaaa.. by the way in the way mono rail .... saluto to you..... |
 | selamat mas hanung, no body perfect, yang penting terus ditingkatkan. btw, walaupun saya tahu, lahan mas hanung dari film, tetapi maukah mas hanung untuk film berikutnya lebih mendukung perbaikan moral bangsa lewat film yang bermutu, bukan mendukung naiknya pundi-pundi produser yang hanya ingin cari untung. saya sangat menghormati tamu (WNA), karena Rasul juga begitu. tapi apabila tamu itu menganggap bangsa saya bodoh, dan berani berpendapat talaqi membosankan, maka jelas hilang hormat saya. sudah lama saya tidak menonton sinetron. dan andai bukan mas hanung yang sutradai film AAC (yang berani mendebat produser), apalagi sutradara yang berani mengganti talaqi dengan kuch-kuch hotahai, maka mungkin saya yang pertama memprotes film itu. sekali lagi selamat ya mas...teruslah berkarya...islam itu luas kok dan indah tentu saja... |
 | assalamu'alaikum mas hanung..barakallah atas filmnya yang luar biasa.. jangan menyerah untuk bikin film bertemekan islam ya mas.. |
 | Nanti kalo ada novel AAC 2, dan ada rencana untuk difilemkan. Kalo bisa Mas Hanung tetap jadi Director-nya. Lepas dari jalan cerita filem AAC-1, saya suka banget sama cinematografi-nya. Trus, pesan buat Kang Abik, jangan sampe hak untuk mem-filem-kan dibeli sama Punjabi sekeluarga, krn terbukti khan kalo tujuan mrk itu cuma keuntungan aja. Gak peduli sama pesan moral yg ingin disampaikan. Lihat aja hasil karya mrk, hampir 90% ngerusak generasi, dari yg namanya cinta-cintaan picisan, horor gak karu-karuan dsb..dsb...Sukses buat mas Hanung dan Kang Abik. Barakallah... |
 | Askum....saluuuutttt buat mas hanung.setelah aku bc perjuangan mas hanung, aku salut banget. semoga film ini menjadi film pembangun jiwa bagi umat muslim. Wass.... |
 | Bravo juga untuk Mas Hanung. Teruskan dg idealisme dalam membuat film. Jangan mau didikte sama produser! Kompromi 'dikit mungkin lumrah. Tapi idealisme jangan sampai tergadaikan. Film yang bagus pasti dapat apresisasi dari penonton yang cerdas. Teruskan membuat film yang mencerdaskan dan membangunkan jiwa seperti AAC itu. Top habis! Ditunggu lagi ya karya-karyanya. Rasheed |
 | Subhanallah, semoga ini bukan karya da'wah anda yang terakhir... meski ada banyak "kompromi" di dalamnya...tapi keutamaan tetap ada pada para perintis... |
 | aku tunggu kerja sama mas hanung dan bung dedy mizwar : dengan film "dalam mihrab cinta" ok selamat buat mas hanung tadi malem ada di acara topik minggu ini (SCTV)ini bersama carisa putri |
 | ya ALLAH begitu indahnya ENGKAU yang telah menciptakan "perbedaan(pendapat)"ini. ALLAHU AKBAR |
 | Mau nanya mas Hanum: Jika mas Hanum mengatakan di SCTV bahwa ada 4 kepentingan dalam film Ayat-Ayat Cinta, yaitu: (1) produser, (2) sutradara, (3) penulis novel Ayat-Ayat Cinta, dan (4) Muhammadiyah, maka pertanyaan saya: (1) yang mana diantara keempat unsur itu yang lebih dominan? (2) Boleh ga dijelaskan misi keempat unsur tadi? Thanks so much atas jawabannya. |
 | karena penasaran dengan film ayat-ayat cinta dan di USB "seseorang" ada film tersebut maka jujur saya sudah menonton film ini jauh sebelum film ini tayang di di bioskop. - maaf mas - (saya menonton bersama istri di komputer) ... setelah menonton istriku lalu membandingkan dengan novel. diskusi lama tuh tentang fahri, islam, poligami dan semuanya.
tapi jangan khawatir mas, kita berencana mau menonton yang di bioskop juga kok. bersama ibu dan ayah (mertuaku). niat sudah kuat tetapi masih susah meninggalkan anakku yang baru 16 bulan dan baru sakit.
Jika mas hanung membuat film tentah ahmad dahlan, Insya Allah saya akan menonton jika diberikan kesempatan. karena beliau adalah salah satu orang yang saya kagumi, yang mengenalkan Muhammad nabiku dan "amar ma'ruf nahi munkar" kepada keluargaku.
jika ada kebaikan dalam film ini (AAC), semoga seluruh kebaikan akan jatuh ke mas hanung ke ibu mas hanung, ke nenek mas hanung dan semua orang yang ikhlas mengenalkan islam, bahwa islam itu indah.
semoga atas kesuksesan ini mas hanung tidak menjadi sombong... please.. tetep jadi biasa aja.
keep fighting mas. untuk membuat film bagus.
|
 | hi broo... Filmnya kena banget. Memang ga sedetail novelnya.Bisa diterima sih,kan film durasinya hanya 2 jam.Beda dengan novel yang bisa dibaca kapan saja.Cuma mohon penjelasannya ne,knp maria dinikahi dulu,sedangkan dia belum ISLAM (lagi koma kan...).Sedangkan syarat syahadat harus orang yang sadar/bukan gila/lupa ingatan.Minta koreksi kalau ilmunya belum sampai... |
 | Filmnya biasa, bahkan bisa dibilang jauh dari yang dibayangkan. Mesir tidak tergambarkan sama sekali, apalagi Al Azhar secara Fahri kuliah disana. Al Azhar berkesan kumuh dan Mesir berkesan sangat kumuh. Ceritanya seperti ngos-ngosan, kurang terdeskripsi dengan baik. |
 | Ditengah ramainya film horor dan horor terus yang saya rasa sudah sedikitpun tidak ada rasa seram dan ibrah, AAC membuat banyak orang takjub, apalagi ketika Fahri mengucapkan kata cinta kepada Maria yang tergolek sakit dan dinikahinya...dan inilah yang membuat miris, merinding, Aisyah keluar kamar sambil menangis.............:(( |
 | Film Islam pertama yang benar-benar nyentuh perasaan bgt. Banyak hal yang bisa aku ambil dari film ini, KESABARAN dan KEIKHLASAN dlm menjalani hidup. Ingin selalu lebih meningkatkan ibadah pada Allah SWT. Dan pastinya.... jadi pengen NIKAH. hehehe... tapi belum ketemu 'Fahrinya'... |
 | CONGRATS... selamat buat terpenuhinya target 2jt penonton... Untuk selanjutnya buat dong film sejarah, Gajah Mada dah ada novel fiksinya tuh... Kalo yang bikin mas Hanung pasti bagus deh.. Kalo dulu mas Hanung nge-lobi yayasan islam coba untuk Gajah Mada nge-lobi dept. Kebudayaan RI hehehehehe.... |
 | komentar segitu banyaknya kayaknya ga bakal kebaca ma yang punya blog deh... |
 | masHanung omedeto gozaimas dari japan saya ucapkan selamat atas suksesnya film AAc. tapi maaf ya mas bioskopnya japan belum memutar pilm AAC cinta jadi saya terpaksa deh nonton di you tube. Jadi ingat kedua orang tua ku di indo, dulu bapakku minta ijin kawin lagi, ibu ku ngasih tapi air matanya keluar. hhahhahahhahahha, |
 | to2n2 wrote on Mar 15, '08 ass..,selamat ya mas hanung atas filmnya.jangan pernah kalah dengan film bergenre horor yg gk ada manfaatnya yang hanya merusak moral...terus berkarya. ISLAM IS THE BEST |
 | to2n2 wrote on Mar 15, '08 Ass...,.ditengah maraknya film bergenre horor yang gk ada manfaatnya,akhirnya ada juga film yang bertemakan islam,selamat ya mas atas filmnya.Terus berkarya. Islam Is The best wassalam. |
 | bismillahirohmanirohim. alhmdulillah akhirnya ada jg film yg bernafaskan ISLAM, walaupun msh byk kekurangan di sana-sini tp saya acungkan 2 jempol! apalagi ternyata efek dr film ini dpt mengajak byk orang tuk lbh mengenal agama ISLAM sbg agama yg sempurna! saya pun alhamdullilah jd rajin sholat dan berbuat kebajikan insyaallah... salut u Kang Anum semoga dpt terus berjihat di jalan ALLAH dgn bersyiar lewat film!! amin. |
 | mas hanung sisi tata suara mesti diperbaiki .... sangat buruk, .. backsound terlalu besar voice nya mana tuuuh kata "iklan" (maaf kritik dikit ya).... untuk kualitas gambar bagussss... (dengan kamera yang agak prehistoric " minta yang baru sama MD production. jangan MD aja yang kaya dari film AAC) sayangnya ceritanya terlalu dangkal ...the novel is so great man ;-) contek abiss juga ga apa...kesluruhan film ini ok juga daripada film - film horror sampaaaaaaaaaaaaaah yang tidak bermutu dan prehistoric ... keep up the good work ... sekali- kali kalooo emang mas hanung mampu bikin pelem perang gitu mas... jarang tuuuh untuk jaman sekarang .... budget MD production cukup untuk beli pulau jawa .... apalagi cuma bikin pelem perang.... |
 | Mas Hanung, alhamdulillah scene penjara itu tidak dihilangkan (uh, bete deh ama ide pak2 produser itu!!), justru scene ini dengan tokoh absurd yang ditampilkan yang sangat menggugah hati saya dan membuat saya sangat terharu...the best scene..proficiat yah!! |
 | mas Anung mo nxa knp yg peran bapakx fahri hanya diam n g pernah ngeluarin sepatah katapun. apakah dia bisu?...struk?....atau sibuk zikir?...... |
 | Mas Hanung, gue cuman punya satu kata buat elu..... HEBAT !!!!!! |
 | hanung...syukur Alhamdulillah..ternyata kamu selalu pegang pesan ibumu |
 | Great Job!
Salut untuk mas Hanung... |
 | mas, kalau putar AAC di layar lebar, harus izin sampeyan,atau ada yang lain |
 | GOOD JOB! please make more adn more top quality indonesia movie |
 | bwat mas Hanung,
film Islami lainnya ditunggu. |
 | Assalamualikum Producernya memang wong edan mas....., Syukurlah mas bisa bersabar. Tetap berkarya...... saya sangat salut dengan karya mas.... InsyaAllah dikemudian hari bisa membuat film yang menggambarkan ketakwaan dengan balutan seni yang tidak kalah dengan kualitas film buatan Hollywood ataupun Bollywood. Wassalamualaikum Best Regrad... Kassa A. Karman http://justkazz.co.cc |
 | Saluttt....keep on spirit guys |
 | Dear ALL, Sebetulnya gw tidak terlalu interested untuk menonton pelem ini. UDAH PADA NONTON BELUM???? MENDING GAK USAH! Tapi karena ibunda tercinta keep whinning about it dan setelah a long appointment mengingat kesibukan kita masing-masing, akhirnya jum'at kemarin gentita nonton neh pelem. Yang katanya orang-orang ampe pada nangis nontonnya. Udah denger komplainnya dari Hanum & beberapa temen@ lainnya katanya gak sebagus bukunya. Gw juga males sebenarnya baca bukunya, karena waktu nih Mr. Habibur pertama kali melaunch nih buku, my mom organized book disucussionnya di Mesjid Istiqlal dan gw sama sekali gak tertarik. (Apalagi udah ngeliat penulisnya, sori tanpa maksud menyepelekan, tapi emang gak mood aja ngeliatnya) Nah jadi begini ceritanya. Secara tuh yang mau nonton bejibun abis. Daku dateng jam 3, ngantri puanjang abizzz, trus udah nyampe ke depan loket, tiketnya tinggal yang di front row yang nontonnya pasti sakit leher. So gw langsung membatalkan, emang udah BT ABIS dan udah setengah hati. Eh pas lagi duduk, ternyata emak gw ada yang nawarin tiket. Ada sepasang ABG yang gak jadi nonton tapi udah beli tiket. Ya what so ever, akhirnya gw nonton 3 baris dari atas plesss di pojok. Huahhhhhhhh.... Muales dan udah gak semangat karena puenuh banget. GW PALING MALES YANG NAMANYA CROWD. Sori prolognya kepanjangan. Nah ini baru komplain tentang pelemnya. GAK SERU & GAK RAME.... SUMPAHHHHHHHH..... Masalah Islam and muslim di film ini cuma jadi latar, jadi gak usah dibahas. Karena gak ada esensinya sama sekali di pelem ini. Jadi begini teman-teman, LOGIKANYA SEBAGAI PEREMPUAN melihat nih LELAKI BLOON BERNAMA FAHRI INI. Masa ya dia yang udah dibantuin sama si MARIA and NURUL and NORA yang begitu desperate membutuhkan pertolongannya, trus udah dapet surat cinta bejibun dari mereka ini masih bingungggggggggg cari perempuan. Trus malah minta TAARUF sama cewek yang sama sekali dia gak kenal. Trus pas ngeliat secara dia bule, trus matanya langsung tuweweweeeeeeeewwwwwww, trus langsung mau dikawinin. YA IYALAHHHHHH....SECARA DIA CANTIK, COWOK MANA YANG GAK MAU COBA. Sementara cewek2 yang udah baik dan ketahuan sholeh dan cerdas pula, dia abaikan gitu aja. ADUUUUUUHHHH PLEASE DEH JENG..... Itu namanya GAJAH DI DEPAN MATA GAK KELIATAN. Dan ini cowok namanya gak tahu DIRI and gak Tahu terimakasih dan KURANG BERSYUKUR....TRUS MALAH MENYAKITI NIH CEWEK-CEWEK, padahal tadinya kayak udah care banget sama mereka. Secara dia sok alim buanget..... Okay mungkin nih cewek2 yang pada kegeeran dan dia emang gak niat nikah ama cewek indonesia dan emang mengidamkan cewek bule. Mungkin ceritanya jadi lebih realistic. Jadi pas mbok ne nelepon dari JAWA, bilang dong kalo "MBOK, AKU INI ORA TERTARIK SAMA CEWEK INDONESIA, PENGENNYA SAMA CEWEK BULE. MBOK sing sabar nungguin aku nikah ya. Love u mbok". Ngono kan lebih jelas toh. Daripada muter2 gak jelas kayak gitu....... Trus udah nikah, dia menikmati lagi kebersamaannya sama MARIA, padahal tadinya GAK MAU GAK MAU...... Trus malah nyuruh istrinya AISYA buat SABAR DAN IKHLAS..... Please deh, gak gitu ceritanya POLIGAMI..... Pantes aja kalo TUHAN hukum dia di dunia dengan memasukannya kepenjara....hahahaha... Akhirnya teman-teman, film ini cuma menyisakan satu hal bahwa: Ya namanya juga manusia, maunya yang bagus-bagus aja!!!!!!! MAKLUM..... Kalo dia malaikat, pastinya dia akan menikahi Nora yang teraniyaya bapaknya. Atau Maria yang udah sekarat. Atau berfikir jernih dengan menikahi Nurul yang cerdas dan baik dan orang Indonesia pula...... Whatever lah........ Oh iya yang bete, film ini pake bahasa Indonesia mulu mayorita. Gak ada bedanya mana yang bule, yang arab, ama yang indonesia asli..... Syukurlah marketing and PR nya jago memasarkan nih film secara BOMBASTIS.... Next time, gw lebih milih nonton POCONG, ketahuan kalo gak JAYUS ya SEREM.... SEBEEEEEEEEEEEEEEEELLLLLLLL BANGET SAMA NIH PELEM AYAT- AYAT CINTA...
|
 | CONGRATULATIONS, mas hanung!!! film ini adalah sebuah achievment tersendiri buat mas hanung, paling tidak film ini adalah pembuktian bahwa mengangkat isu yang serius tentang agama juga bisa laku, salut! filmnya sangat lain dari novelnya (terutama endingnya) tetapi tidak kehilangan essensinya... berikut saya ingin menyampaikan kesan-kesan saya di film ini: mas hanung, menurut saya adegan akhir yaitu setelah fahri berpoligami (di novel tidak ada) sangat menarik, waktu aisha menanyakan pada fahri 'mau tidur dimana?' terus pengambilan gambar mereka bertiga tidur sendiri-sendiri, sangat lain dari novel, tapi malah menarik. terus tentang maria, di novel sakitnya tidak jelas, tapi di film di buat sakitnya bahwa dia di tabrak oleh orang suruhannya bahadur untuk menghilangkan saksi kunci kasus pemerkosaan fahri tarhadap noura. lalu karakter teman satu sel fahri di novel adalah seorang profesor dengan teman-temannya yang lain, tapi di film di tampilkan adalah sosok yang liar, itu lebih menarik. saat orang itu berkata dengan keras 'sabar dan ikhlas itu islam' terus terang membuat hatiku gerimis. kalau kekurangannya (maaf nih, mas) mungkin tokoh yousef dan tuan boutros yang tidak hadir di film, padahal peran yousef di novel sangat menunjang cerita. terus cara pengenalan paman eqbal oleh aisha ke fahri, seharusnya menjadi satu kebetulan, tetapi di film tidak terasa kebetulannya. terus, kok sedikit sekali pemeran yang berwajah mediteranian, padahal seharusnya untuk karakter-karakter yang dari mesir mungkin lebih bagusnya yang berwajah arab. tapi, apapun itu, salut buat mas hanung dan kru, karena mampu mengejawantahkan setting timur-tengah dengan kemampuan terbaik dan hasilnyapun sangat baik, SALUT! o iya, mas.. saya menonton film ini 2 kali, yang pertama saya nonton dengan sedikit gambaran karena saya baru baca novelnya beberapa bab, tetapi yang kedua saya nonton dengan gambaran bahwa film ini endingnya lebih bagus (menurut saya) dari novelnya (saya sudah menyelesaikan baca novelnya) dan saya jadi lebih tahu jalan ceritanya. film ini benar-benar lain dari novelnya, saya rasa kang abik juga terkejut dengan endingnya waktu pertama kali nonton atau baca scriptnya. buat terus film-film yang bermoral, mas! |
 | Makanya mas, kan orang bijak itu berkata bahwa segala sesuatu itu ada waktunya. Jangan keburu nafsu pengen buat nih film padahal belum siap. Trus kalau bekerjasama liat dulu dong siapa yang diajak kerjasama. Mafia film india kok ya dipercaya.... Jadilah film ini prematur...yah walaupun sukses secara materi. Terserah lah orang mau ngomong apa, toh kocek Mas Hanung sudah tebal sekarang plessss namanya udah terkenal pula. Yah gak apa-apa lah walaupun pelemnya jelek...hehehe....Ibunya Mas Hanung ya tetep aja bangga toh.... Whatever lah.... |
 | kalo yang lain banyak muji, saya kasih masukan aja ya... memang mbuat film islami itu sulit, apalagi kalo yang bikin emang udah gak islami duluan :) jadi ya ..gitu lah jadinya. banyak hal-hal yang setelah saya analisa bertentangan dengan syariat, mulai dari permainan aktor-aktrisnya, jalan ceritanya, bahkan arah nulis arab "lelaki tersayang" aja terbalik (arah nulisnya seperti menulis latin biasa). Jadi ? Yo wis...banyak-banyak konsultasi dengan para ulama yang faqih Islam ya... Yang bener aja Mas, Mesir dibilang negara Islam trus masyarakat kafirnya dibilang kafir dzimmi ?!! Astaghfirullah. The real 'Islam State' itself sampe sekarang belum kembali tegak, kok ya Mesir yang diktator bin pengekor kapitalis gitu dibilang negara Islam ? Walah... |
 | wah mas... GARING...!!! Knapa tidak mengangkat cerita yg lebih baik dan meaning sech...??? Koq cerita yg menjatuhkan martabat perempuan malah dibuat...??? Ini jaman modern lho mas, bukan jamannya nabi.
Kasian aja kalo perempuan terus dijatuhkan dan terus dijadikan obyek sex. Saya melihat di film ini begitu juga adanya kisah pengobyekan perempuan. INI BUKAN JAMAN NABI...!!! Saya rasa nggak ada perempuan yg mau dijadikan yg kedua atau hanya dijadikan obyek sex aja. Kalo ada juga itu pasti cewek yg gak bener.
Muakachihhhh.... |
 | @ atas saya, menjatuhkan martabat perempuan what the h*ll?! jangan2 loe mabuk yah? film AAC sama sekali, not even close, menceritakan ttg menjatuhkan martabat perempuan. Salut buat mas Hanung, meski sebagai penggemar novel AAC saya masih merasa belum puas dengan visualisasi dalam film ini :) |
 | Yaaa... bwd saya si... memang AAC ceritanya ga menjatuhkan martabat perempuan... tapi perempuan yang bagaimana dulu? perempuan yang malah merasa ditinggikan martabatnya kalau dijadikan serep bwd suaminya... bukan perempuan yang mencoba jujur untuk dirinya sendiri. Bwd saya ini mentok2nya bakal ngomongin soal keadilan. Padahal yang bisa adil itu hanya Sang Manajer Agung itu.... Jelas sekali kan saya tidak mabuk...! Tidak mabuk untuk menjadikan perempuan sebagai mainan, dan tidak mabuk juga secara harafiah...
Coba gmana kalo cerita novelnya waktu itu dibalik. Fahri itu Katolik atau orang yang menganut paham monogami... sedangkan Maria seorang Muslim yang amat dengan sukarela berpoligami...Pasti lebih complicated... Saya ulang kembali kata2 saya ya... Ini bukan jamannya Sang Nabi. Poligami , poligami dipakai oleh orang2 jaman dahulu untuk kepentingan penyebaran agama.. (IMHO) |
 | assalamualaykum,,, saluut lahh wat Ooom hanung,,
minta tips nya dunk,, tuk jd sutradara hebat,, ke mas hanung,,
|
 | sofni wrote on Apr 2, '08 Assalamu'alaikum Mas Hanung Aku mau minta maaf, karena rencananya aq mau nyampein unek2 mengenai Film AAC, aq sampai nangis karena suami ku melarang untuk nyampein unek2 ku ini, setelah aq nonton dibioskop AAC, ada bagian pada Novel yg menurutku penting tp kenapa gak dimasukin kedalam film ini yaitu mengenai wartawati Amrik tsb. Aq setuju Film ini bagus banget tp itulah unek2 ku. Cuma setelah aq baca Blognya Mas Hanung ini aq menyesal, kenapa aq tdk mengucapin makasih aja karena novel ini udah di Filmkan padahal sewaktu aku baca Novel ini tahun 2006, aku ingin novel ini diangkat menjadi sebuah Film. Jadi intinya aq ingin ngucapin makasih dan rasa penyesalanku, yang jelas bikin film religi memang gak segampang nonton yang sudah jadi, kami tunggu film2 mas Hanung lainnya. Wassalam Yul |
 | Wah ternyata banyak halangannya untuk bikin film bermutu ya Mas,,, |
 | Assalamualaikum wr wb, Mas Hanung Salut atas segala kerja keras dan jerih payah mas Hanung selama ini dalam memfilmkan novel Ayat-ayat Cinta. berat memang, segala kritikan datang silih berganti. ya, begitulah masyarakat kita. Begitu mudahnya memberikan kritik dan masukan, namun tak secuilpun perbuatan yang dilakukan. Tidak heran, jika ini semua tercermin dalam kehidupan kita dan Individu Masyarakat Indonesia. Inilah yang dirindukan Mas, citra perfilman indonesia yang tidak melulu bertemakan cinta dan horor. Film yang menjurus dan menyentuh sisi nurani kehidupan seseorang. Masih banyak cermin2x kehidupan bangsa kita yang perlu difilmkan. bangsa ini tidak hanya dibangun oleh individu yang gila dengan cinta. tetapi oleh mereka yang punya mimpi. Lelah melihat pocong bergentayangan. apalagi mendengar cerita2x serem yang malah semakin menghantarkan mentalitas kita ke dalam dunia imajiner yang tidak jelas. Tanpa sadar, kita menceburkan mental bangsa kembali percaya dengan kepercayaan2x dinamisme dan animisme yang telah usang. Mas Hanung, teruslah berkarya menciptakan perfilman Indonesia yang lebih berkualitas. SAYA MENDUKUNGMU ....!!! |
 | mau dong saya daftar jadi scene photographernya... |
 | Selamat yah pak direktur dari kami berdua dari Singapura. Ngak sabar menantikan filem nya di layar 8 Mei ini... |
 | I just finished watching this movie... I give u 9 over 10 for rating... TQ for the sweet movie. |
Comment deleted at the request of the author.
 | salut maaassss bwt filmnyaaaa
bisa bikin nangis bombay euuuyyyy |
 | congrats bro!
ajamihashim.blogspot.com |
 | Greeting My dear Friend . How are you and those arround you?? i hope everting is well with you over there fine.Really dear i am very happy to read your mail, and I will like to introduce my self to you . Firstly, I am Miss lindsey Maxwell Hicky 22 years old girl single never married i came from africa Mogadishu in Somalia central africa.i am the only daughter of my father. Late (Dr) Maxwell Hicky my father was an SOCIETE GENERALE DE BANQUE AU SENEGAL. My father was killed by our Government. They accused my father of coup attempt. I am constrained to contact you because of the maltreatment, am receiving from my father brothers, they planned to take away all my late father's treasury and properties from me since the unexpected death of my beloved Father. Meanwhile I wanted to escape to United State but they parsist that i will not live my country Somalia. and the most important thing is that other valuable travelling documents. Luckily they did not discover where I kept my father's File which contains important documents. So I decided to run to the refugee where I am presently seeking asylum under the United Nations High Commission for the Refugee here in Dakar, Republic of Senegal. I wish to contact you personally for a ) long term business relationship and investment assistance in your Country.My father deposited the sum of ($4.8M) dollars in the Bank which he used my name as the next of kin. However, I shall forward you the necessay documents on confirmation of your acceptance to assist me for the transfer and investment of the fund As you will help me in an invsetment, it is my intention to compensate you with 15% of the total money for your services and the balance shall be my investment capital. This is the reason why I decided to contact you in this way because i see that you are a well trust worldy man . Please all communications should be through this email only for confidential purposes. As soon as I receive your positive response showing your interest I will put things into action immediately. please write to me hopeing to here from your please i need your help in my life (lindseyhicky@yahoo.in) lindsey
|
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
| |