

Lahir saat matahari terbit di hari ke 21 bulan Juni tahun 2001. Disebuah Rumah Sakit di Malang, Jawa Timur. Lelaki kecil dengan mata besar mewarisi mata cantik ibunya Barmastya Bhumi Brawijaya. Panah Api dari bhumi Brawijaya begitu kira-kira artinya. Lahir atas naungan cinta ayah dan ibunya. Cinta yang besar sekali sekalipun pada akhirnya ayah dan ibunya harus berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Tidak! Kami sangat mencintai satu sama lain. Tapi untuk membangun sebuah keluarga, ternyata tidak hanya cinta saja yang dibutuhkan.
Bhumi namamu. Bukan sekedar kegagahan nama itu kuberikan. Ada doa turut menyertai. Doa agar selalu kuat, sabar dan ikhlas. Ya, Bhumi adalah Tanah yang dengan kuat, sabar dan ikhlas diinjak oleh apapun dan siapapun. Dan lelaki kecil itu memang sekuat yang aku bayangkan. Umur 3 tahun sudah menerima kenyataan ayah dan ibunya berpisah. Kuingat saat aku ucapkan 'Selamat Tinggal. Bapak harus pergi.' Mata bulat itu tajam menatap mataku. Lalu ketika harus ditinggal ibunya di Malang bersama kakek-neneknya, Bhumi tetap tegar meski tangis pilu tetap ada.
3 tahun Bhumi ada di Malang. Bersama kakek dan neneknya. Aku tidak bisa menceritakan saat awal bhumi di Malang. Saat yang membuatku selalu mengutuk diriku sendiri. Umur 3 tahun harus dipaksa merasakan perihnya perpisahan. Tangis itu! Tuhanku. Aku tidak kuat mendengarnya. 'Bapak, Ibu pergi lagi ke Jakarta. Bhumi ditinggal lagi.' Allohu Akbar! Berikan Tangan Kasihmu ya Alloh. Lindungilah perasaannya. Lalu aku ingat Muhammad saw. Sejak seumuran Bhumi, sudah tidak punya ayah dan ibu. Lalu aku minta kakeknya mendongengkan kisah Muhammad saw kepadanya. Agar dia tenang. Agar dia kuat. Tapi toh, bhumi tetap seorang anak yang mendambakan kehadiran ayah dan ibunya. Sering bhumi bangun tengah malam dan bilang 'Uti, akung ... kenapa bhumi ditinggal? Bhumi kan tidak nakal?' atau kadang dia berkata 'Akung dan uti kan udah tua, sebentar lagi meninggal. Nanti bhumi sama siapa? bapak dan ibu tidak ada.' Subhanalloh! Siapa guru yang mengajari anak seumur itu merangkai kalimat seperti itu?
Hati siapa yang tidak robek mendengar itu?
Tapi Bhumi bukan anak bodoh. Dia pintar. Sekalipun disaat belajar membaca dia agak lambat mengingat huruf satu dengan yang lain. Bhumi juga bukan anak penakut. Dengan orang asing, dia gampang adaptasi. Kebanyakan anak takut sama dokter, Bhumi justru bisa berdialog soal penyakitnya. Pernah disaat dokter menyuruh Bhumi buka mulut, biasanya si anak selalu rewel, tapi Bhumi justru bertanya 'Kenapa harus buka mulut?'.
Soal pendidikan agama, di Malang Bhumi sangat dididik islami. Berkat ketekunan kakeknya, Bhumi bisa menghafal doa-doa dan surat-surat pendek. Bahkan Bhumi bisa menghafal ayat Kursi dan aqyat terakhir surah Al Baqoroh. Pernah suatu ketika kakeknya yang ada di Jogja sakit, lalu Bhumi menelphone dan mendoakan. Disaat Bhumi membacakan doa, sang kakek menangis dan Bhumi tidak jadi melanjutkan doanya malah bertanya. 'Akung jogja kok nangis? Bhumi kan doain buat akung.'
Kadang aku membayangkan hal-hal menyedihkan soal Bhumi: kesepian, murung, gelisah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bhumi aktif, lincah, penyegar suasana. Terkadang dia melamun sendiri. Ketika ditanya kenapa melamun, dia hanya tertawa. Bhumi pandai menyembunyikan perasaannya. Dia juga pandai menjaga perasaan bapak-ibunya. Ketika aku ke Malang tengok dia, Bhumi tidak pernah bertanya soal ibunya. Begitu juga saat Ibunya pulang ke Malang, juga tidak pernah bertanya soal bapaknya. Padahal kami berdua tidak saling membenci. Begitulah Bhumi. Semua mencintai Bhumi: Kakek-Neneknya, saudara sepupu, teman-teman dan guru sekolah di TK Al Ghoniyah Malang. Kamipun mencintai Bhumi. Sekalipun Kami tidak bersatu dalam keluarga. Tapi kami berdua sudah berjanji untuk selalu bersama, saling komunikasi, saling memberi dan menerima meski tidak dalam rumah yang sama. Dan yang lebih penting kami berdua tidak akan meninggalkan Bhumi.
Kini, Bhumi sudah di Jakarta. 3 tahun sudah lewat. Rumah kontrakan sekalipun kecil di daerah kelapa ijo, Jakarta Selatan aku sewa buat Bhumi dan Ibunya. Kami tetap keluarga, sekalipun memiliki rumah terpisah. Kadang aku sering ke sana. Tidur sana. Saat aku harus pergi keluar negeri buat proses Film, tidak lupa oleh-oleh buat Bhumi dan Ibunya. Tiap pagi, mobilku selalu mengantar Bhumi sekolah di Al Azhar Kebagusan. Kondisi Jakarta sedikit merubah sifat Bhumi menjadi pemalu dan sangat sensitive. Terhadap suara keras, bhumi sangat takut. Karena itu dia tidak mau nonton bioskop. Pernah suatu kali aku ajak nonton bioskop dengan iming-iming dibelikan mainan, dia malah bilang ‘Dibeliin mainan aja tapi tidak nonton bioskop.’
Sampai saat ini aku melihat Bhumi tumbuh menjadi lelaki dewasa dan bertanggung jawab. Kalau pagi Bhumi membantu ibunya masak, membelikan bumbu penyedap dengan sepeda kesukaannya ke warung sebelah. Jika kangen dengan bapaknya, sepulang sekolah dia sering ke kantor atau ke lokasi shooting. Tapi lagi-lagi, Bhumi menjadi pemalu. Mungkin orang-orang Jakarta lebih keras perangainya dibanding orang Malang. Tidak apa. Aku percaya waktu yang akan turut membentuk karakter Bhumi. Doa dan ikhtiarku selalu bersamanya.
Allohumaghfirlana ya ghoffar … ya ghoffar!!!
Bangkok, 30 September 2007
Ditulis saat aku sedang kangen sekali padanya.