Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntrySep 21, '07 3:36 PM
for everyone

    Ini bukan pertama kali aku membuat film dari Novel.
    Sulit? Tentu saja. Bukan hal aneh ketika novel di filmkan pasti mengecewakan atau 'tidak sesuai ekspektasi pembaca', sekalipun ada  juga film lebih bagus dari Novelnya. Bicara soal bagus mana antara Novel dengan Film, saya tertarik dengan ungkapan Andrea Hirata (Penulis Lasykar pelangi yang akan difilmkan oleh Riri Riza): 'Jika Filmnya nanti tidak sesuai dengan expectasi saya, maka yang saya pertanyakan justru ekspektasi saya.' Sering gambaran imajinasi kita saat membaca novel menjadi sebuah tuntutan atas visual yang tampak di layar film. Jika visual yang tampak tidak sesuai dengan gambaran imajinasi kita saat baca novel, maka kita kecewa. Secara tidak langsung kita membandingkan Novel dengan film. Padahal usaha membanding-bandingkan Novel dengan Film adalah tindakan kurang tepat. Kenapa? Karena Novel dan  Film adalah dua hal berbeda.
    Film adalah bahasa visual sedangkan Novel adalah bahasa tulis (baca: teks). Teks mampu membimbing imajinasi kita secara bebas, sedangkan visual memberikan bentuk ‘Nyata’. Teks juga mampu menggambarkan secara detil suasana hati, sudut lokasi secara berurutan berikut kiasan-kiasannya, juga memaparkan latar belakang persoalan secara berkelindan, meloncat ke masa silam atau mendadak menjamah masa depan seolah tanpa ada beban. Tapi visual, dengan sifatnya yang nyata, bukan berarti tidak mampu menggambarkan detil persoalan, suasana hati dan latar belakang, akan tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Kita bisa melihat teks yang dibuat Ayu Utami dalam Saman. Lomptan bahasa antara orang pertama, kedua dan ketiga dengan bebas Ayu mainkan yang mana belum tentu memiliki kekuatan sama ketika itu di visualkan. Pendeknya, membaca Novel dengan menonton Film adalah dua pengalaman yang berbeda.
    Dari pemahaman diatas, saya memiliki kepercayaan diri untuk kembali menerima tantangan memfilmkan sebuah Novel. Tepatnya, melakukan adaptasi (secara bebas) sebuah novel ke dalam Film.
    Hal pertama yang saya lakukan ketika membedah Novel Ayat-Ayat Cinta untuk dijadikan Film adalah memahami bahwa menonton Film berbeda dengan membaca Novel. Ketika membaca Novel, kita bisa melakukan interupsi, menghentikan sementara membaca novel dan dilanjutkan kembali dilain waktu. Tapi di film, tidak ada interupsi seperti itu. Ketika film diputar, penonton seperti penumpang sebuah kapal yang terbawa arus emosi cerita selama kurang lebih 2 jam. Karena itu hal terpenting ketika menuliskan scenario dari Novel adalah menentukan ‘Benang merah plot’, sehingga bisa disusun struktur dramatik film. Struktur dramatik menjadi ‘perahu’ bagi penonton. Jika dalam struktur dramatik terlihat kendor, maka seperti kapal yang tersendat lajunya. Oleh sebab itu susunan adegan dalam struktur dramatik menjadi penting untuk menjaga intensitas penonton mengikuti cerita. Dengan demikian Plot-plot yang tergambar di novel melalui bab-bab, tidak bisa dijadikan patokan secara mutlak untuk filmnya nanti. Disini saya dan Salman Aristo melakukan ‘seleksi’. Tidak semua adegan dalam novel muncul di Film. Ini bukan pekerjaan mudah. Habiburrahman (Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta) secara teks cukup detil menggambarkan suasana hati, lokasi dan latar belakang tokoh utama. Teks yang ditulis Habib meluncur secara bebas. Sering saya menemukan deskripsi tentang kondisi kairo ditengah paragraph yang berisi adegan romantis antara Fahri dengan Maria. Atau tiba-tiba saja, muncul deskripsi latar belakang Fahri yang anak penjual tape ditengah paragraph yang menggambarkan pernikahan.
    Tentu saja scenario yang ditulis tidak semata-mata menuliskan seperti apa yang tertulis di novel. Kita mengurai adegan-adegan tersebut, kemudian kita kelompok-kelompokkan ke dalam sequence.  Setelah itu baru dipilih adegan mana yang bisa masuk di film, dan adegan mana yang tidak. Dalam merangkai scene-scene di scenario, tidak jarang saya dan Aris melakukan improvisasi, disamping membuang dan menyingkatnya. Upaya itu kami lakukan semata-mata untuk menutup ruang interupsi bagi penonton. Sebab jika ada celah untuk interupsi, maka film menjadi kendor irama dramatikanya.
    Tidak jarang scenario yang sudah kita sepakati bersama, kita rombak lagi dan kita ulang dari awal. Oleh sebab itu, mengadaptasi Novel ke Film lebih rumit daripada membuat film itu sendiri. Mengadaptasi Novel ke Film merupakan karya tersendiri yang terbebas dari karya novel itu sendiri. Sebab ketika teks dalam Novel sudah muncul berbentuk gambar, itu merupakan bagian dari proses kreatif penciptaan.

    Karena itu, masihkah kita membandingkan Novel dengan Film?

   

   

13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
mfuzyw wrote on Oct 1, '07
Semoga film ini membangun jiwa para penonton spt Novelnya ...
atinafathia wrote on Nov 13, '07
Sy spakat dgn masHanung soal mbanding2kn antr bhs novel&film pastiñ tdk akan pnh1.tp algkh indah jk bhs novel&film ssuai dgn chemistry sipenulis novel& sutradarañ,apakah lg pmerhati setiañ.sy sndr bnr2 mdpt pncerahan mmaknai hdp bc AAC 2thn silam.sukses!
ditaku wrote on Dec 18, '07
bagaimanapun perbandingan sulit dihindari karena keduanya berasal dari satu pemikiran yang sama :)
sastralengkara1 wrote on Dec 24, '07
satujuu.

ga gampang bikin saduran cerita novel ke film..
radenmasrafael wrote on Dec 30, '07
alur penjelasannya sangat persuasif, lembut sekali mengajak pembaca mengikuti arus pikiran Panjenengan, membuat pembaca menjadi mahfum atas pengungkapan pendapat Panjengenan, saya setuju
apradz wrote on Jan 10, '08
setuju...
cuma kadang-kadang karena alasan yang ga jelas, alur cerita di novel jadi diubah sangat drastis di film, seperti Golden Compass. Tapi, memang saya selalu berpendapat bahwa novel dan film adalah dua buah hasil seni yang berbeda, yang meskipun memiliki judul yang sama, namun dibawakan secara berbeda.
kuwdotcom wrote on Jan 13, '08, edited on Jan 13, '08
Hanya kutipan singkat yang pernah saya dapat dari seorang sahabat. Seberat apapun beban yang kita emban di punggung ini, percayalah bahwa 'Allah membebankan sesuatu menurut kadar kesanggupan umatnya'.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan !!!
aya76 wrote on Feb 6, '08
Aku udah baca bukunya kira2 3th yang lalu. Awal2 cerita emang bagus cuma lama endingnya kayak sinetron or telenovela or film india....the poor man get the beautiful and rich girl.... they're wake up some day billions on their bank account inherited by the girls father or granfather.. gitu deh... aku agak cukup kecewa sama endingnya... kurang real gitcuu
adensor wrote on Mar 3, '08
Memang g sepantasnya novel dibandingkan dengan film. Dalam membaca novel, pembaca bebas berimaginasi, so, bayangan antara pembaca yang 1 dengan yang lain bisa berbeda, walopun novel yang dibaca sama. Klo nonton film, tayangan yang disajikan hanya 1 jenis. Jadi wajar klo ada yang puas dalam menonton sebuah film (yang diangkat dari novel), dan ada jg yang kurang puas. Klo puas semuanya kan, g terlalu seru...
Bagaimanapun, kritikan tetap dibutuhkan.

5man9aT mas Hanung ya!... :)
lutfiah13 wrote on Mar 5, '08
good job and well done you have represented the ideas from the novel although that wasn't totally same with the novel but you already delivered the messages from the author with his book.
honestly I watched this movie twice because I was intresting with the way you tried to recognized and transfered the rythm from the book then you change into the movie
sri3kandi wrote on Mar 13, '08, edited on Mar 13, '08
Saya belum sama sekali membaca novel AAC, karena sudah banyak teman yg bercerita ttg isi novel tersebut. Dengan film ini, saya jadi tertarik untuk membaca novelnya. Mas hanung, tokoh noura itu ternyata benar2 orang mesir ya? I don't get the feel ya. saya pikir itu salah satu TKI yg tinggal di Mesir. TOP untuk karyanya mas. Alhamdulillah, riri riza mengangkat novel karya andrea hirata, setelah baca Sang Pemimpi. Saya bermimpi semoga ada produser yg mengangkat crita novel itu kefilm, mungkin bisa jadi IV seri. Saya tunggu karya berikutnya *grin.
jinakjinakmerpati wrote on Mar 13, '08
Mas Hanung kapan bikin film tentang keluarga? yang nyentuh tapi gak berlebihan kayak sinetron...cerita nya natural aja...Indonesia sangat sangat sangat sangat sangat sangat butuh tayangan yang mendidik..........
nukleofil wrote on Jun 12, '08
SEPAKAT!!!
satu orang punya banyak pikiran
dua orang punya banyak banyak pikiran
tiga orang punya banyak banyak banyak pikiran
1 miliar orang punya .......................
Add a Comment