 Ini Film ketujuh setelah 'Get Married' dan ' Ledhek'. Dua-duanya akan rilis lebaran ini. Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Bisa kebayang bukan, siapa yang akan menonton film ini. Membaca Novel Ayat-Ayat Cinta, membuat saya mengantuk hingga setengah buku. Kantuk itu hilang pada saat bab mulai mengarah ke konflik. Yaitu ketika Fahri difitnah, masuk penjara dengan vonis mati, lalu seorang gadis kristen koptik bernama Maria datang menyelamatkan dengan 'syarat' kalau dia harus dinikahi dulu. Padahal Fahri saat itu sudah beristeri seorang gadis Turki-Jerman, Kaya dan cantik bernama Aisha. Kenapa mendadak saya tidak mengantuk? Buat saya disitulah letak religiusnya. Buat saya, religius bukan semata-mata mulut berucap doa dan puja-puji kepada Tuhan; religius juga bukan aktifitas menyeru tentang kebaikan di atas mimbar, di TV, Radio atau majalah sambil berdendang asik dengan ayat-ayat Quran dan Hadist. Bagi saya, religius adalah ketika manusia berada dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itu membuat manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan ... bertawaqal. Saya merasa pada saat itu Fahri menjadi tokoh yang sangat saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah malaikat. Fahri adalah lelaki sempurna, yang menurut saya, tidak ada di dunia ini. Sekalipun Habiburrahman bilang sosok Fahri banyak kita temui di Cairo, saya tetap tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri disana. Seorang dengan pengetahuan agama Islam tinggi. Seorang rendah hati, pejuang hidup, sederhana dan pintar. Sekalipun saya meragukan kemampuan menguasai 4 bahasa (Inggris, Jerman, Arab dan Indonesia) sekaligus. Keraguan saya juga bertambah ketika dirinya dicintai oleh 4 orang gadis cantik dengan karakteristik berbeda-beda: Maria, seorang gadis cantik, pintar, kritis, sekalipun seorang kristen tetapi sangat mengagumi Al quran. Nurul, seorang gadis Indonesia, anak kyai besar di Jombang, seorang ketua Widah (sebuah perkumpulan anak-anak Al Azhar di Cairo), cantik, sederhana dan tentunya pintar. Lalu Noura, seorang gadis mesir yang dianiyaya ayahnya, dipaksa dijual menjadi pelacur. Juga seorang gadis cantik dan pintar. Terakhir, Aisha, seorang gadis keturunan Jerman-Turki-Palsetina. Sebuah paduan sempurna yang saya tidak perlu menjelaskan seperti apa bentuknya. Pastinya Cuantiik nemen rek, begitu kata orang jawa timur. Tidak hanya itu, dia juga kaya raya, setia, pintar dan solehah. Bahkan Aisha juga seorang perempuan yang merelakan suaminya untuk poligami. Duhai, lelaki mana yang tidak jatuh hati sama perempuan macam Aisha? Dan Fahri, tokoh ciptaan kang Abik yang mendapatkan hidayah itu. Bagi kang Abik, Aisha adalah bidadari yang pantas buat Fahri yang 'sempurna'. Sungguh, saya tidak tahan melihat sosok Fahri yang tanpa cacat itu. Seorang kreator adalah Tuhan bagi ciptaannya. Tidak hanya di film, dalam ranah sastra, apalagi sastra modern, seorang penulis memiliki hak penuh (sebagaimana Tuhan) untuk menciptakan karakter, set dan cerita. Tapi masalahnya kreator bukan sepenuhnya Tuhan. Kreator punya tanggungjawab meyakinkan penonton atau pembaca perihal karakternya. Ada logika 'Ruang-Lingkup' yang dihadirkan untuk mewujudkan kesinambungan dunia realitas karakter dengan dunia realitas penonton ataupun pembaca. Dalam hal ini, Kang Abik menciptakan tokoh Fahri yang jauh dari logika 'Ruang-Lingkup' tersebut, setidaknya cuma bab-bab awal sampai tengah. Selebihnya, Fahri menjadi manusia biasa. Hal itu yang membuat saya tertarik. Oleh sebab itu pertama kali yang saya dan Salman Aristo lakukan sebelum membuat film Ayat-Ayat Cinta, adalah membongkar tokoh Fahri. Itikad ini saya lakukan bukan saya tidak respect dengan tokoh Fahri ciptaan kang Abik. Melainkan justru saya ingin Fahri menjadi representasi lelaki muslim. Representasi penonton. Di dalam Novel digambarkan, Fahri adalah seorang lelaki yang tidak hanya soleh. Tapi juga seorang pemimpin Flat, panutan, kakak bagi yunior-yuniornya, seorang yang optimistik dan percaya diri, ganteng dan pintar (menguasai 4 bahasa). Apabila tokoh seperti ini dijabarkan lewat tulisan, akan dengan mudah menarik simpatik pembaca. Tapi jika di visualkan? Mari kita lihat Ongky Alexander di Catatan si Boy, atau Sakhru khan di film-film India. Apakah saya akan membuat film yang meletakkan karakter dalam dunia mimpi seperti sinetron-sinetron Indonesia? Tentu saja Tidak. Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta adalah sosok yang lugu, ragu dan tidak terlalu percaya diri. Lugu mencerminkan sifat sederhana dan apa adanya. Tidak neko-neko. Ragu lebih kepada sikap yang selalu hati-hati. Karena itu Fahri selalu dekat dengan Quran dan Hadist. Setiap menghadapi persoalan, Fahri bukan seperti superman yang mendadak menjadi jagoan. Justru sebaliknya, Fahri sangat hati-hati dan tidak show off. Hal ini tampak nanti pada saat adegan di Metro. Di Novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan, seorang Nabi yang sedang memberikan wejangan umatnya. Saya tidak bisa membayangkan jika itu di filmkan. Pasti jadinya akan seperti sinetron religius yang berisi ceramah-ceramah secara verbal. Karena Film adalah bahasa Visual, maka saya menghindari verbalitas. Di Film, Fahri menjadi lelaki sederhana yang terlibat pertengkaran hanya karena membela seorang perempuan. Quran dan Hadist menjelaskan itu yang memberikan alasan Fahri bertindak. Tentu saja tidak menjadi pendekar Silat. Melainkan sebagaimana dirinya yang sekolah di Azhar, Fahri mencoba menjelaskan perihal adab seorang Muslim menghadapi Tamu (ahlul zimah) yang senantiasa dilindungi kehormatannya. Tapi karena sikap Fahri yang lugu menghadapi lelaki Arab besar yang emosional, Fahri justru mendapatkan pukulan karena dianggap SOK TAHU dan SOK PINTAR. Bibir Fahri sedikit berdarah akibat pukulan itu. Pada saat itulah Fahri justru mendapatkan simpatik dari Aisha-Alicia dan penumpang Metro. Simpatik itu bukan karena Fahri bisa meredamkan emosi orang Arab sebagaimana di Novel. melainkan karena keberanian fahri menghadapi persoalan sekalipun kalah. Adegan itu juga meletakkan sosok Fahri sebagai manusia yang tidak sempurna, bisa berdarah dan lemah. Buat saya, ini lebih realistis. Oleh sebab itu pemilihan Fedy Nuril menjadi Fahri adalah hal yang menurut saya tepat. Dalam diri Fedy ada keraguan dan kepolosan. Fedy bahkan tidak mengerti bagaimana meletakkan kakinya pada saat tahiyat akhir. Tapi justru dengan begitu, Fedy terlihat berusaha. Fedy yang tidak sempurna mencoba belajar menjadi sempurna. Kebanyakan yang casting menjadi Fahri, salah menafsirkan Fahri sebagai sosok religius. Mereka menampilkan diri mereka sangat suci. bahkan ketika melantunkan satu ayat, terlalu over dramatic sebagaimana ustadz-ustadz yang ada di TV dan Radio. Padahal tanpa mereka berbuat begitupun, sesungguhnya ayat Quran sangat Indah dan menyentuh hati. Di Flatnya, dalam Novel ditulis kalau Fahri seorang pemimpin sekligus abang bagi yunior-yuniornya. Terus terang saya sangat risih dengan tingakatan Senior-Junior. Hal ini menampakkan sisi feodalisme yang justru bukan ciri Islam. Padahal saya kerap menemui itu di pesantren-pesantren. Di Film, saya menempatkan Fahri tetap seorang pemimpin Flat yang bertanggungjawab atas kebersihan dan kelangsungan aturan di Flat. Tapi bukan seorang Senior yang men jadi panutan seperti seorang kyai menjadi panutran Santri. Sosok Saiful yang di gambarkan kang Abik sebagai Yunior, justru saya tempatkan menjadi sparing partner Fahri. Tingkat pendidikan Saiful sama dengan Fahri. Keduanya sama-sama belajar agama. Bedanya, Fahri terlihat sebagai karakter yang konservatif, Saiful justru lebih moderat. seperti Gus Dur dan Gus Solah (solahudin Wahid). Gus Dur yang kadang nyeleneh dan berani adalah Saiful, Gus Solah yang hati-hati dan cenderung lurus adalah Fahri. Dengan demikian, Fahri tidak menjadi sosok paling benar di Flatnya. Saiful menjadi teman tidak hanya dalam diskusi Islam, tetapi teman curhat ketika Fahri mendapatkan masalah. Pada saat Syeh Ustman menawari talaqi ke Fahri. Saiful yang diajak bicara. Begitu juga saat Fahri di fitnah dan masuk penjara. Saiful menjadi sahabat setia. Perobahan karakter tersebut didasari atas berbagai pengamatan kami terhadap penonton Indonesia. Sudah jarang kita temukan film-film sekarang yang menempatkan sosok seperti si Boy dalam Catatan Si Boy. Film paling laris Indonesia Ada Apa Dengan Cinta yang melahirkan idola Nikolas Saputra, juga bukan seorang yang sempurna. Lelaki tanpa teman, sinis, terkesan kasar sama perempuan, hanya punya seorang ayah yang hidup dalam idealismenya, tetapi memiliki kelembutan dan cinta yang tulus. Kesempurnaan di era paska reformasi justru menjadi pertanyaan. Bahkan di negara berkembang sekalipun. Saya mempunyai harapan film ini tidak hanya sekedar film alternative di tengah bombardir Horor dan roman cinta remaja. Film ini saya harapkan menjadi citra muslim di Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah agama penuh cinta kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan manusia-manusia muslim didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu meyakini atas kebenaran, dan tidak toleran. ' Wala tusho'ir khaddakallinas, wa la tansyi fil ardhi maroha, Innalloha la yuhibbu kulla mukhtalin fakhur' (Lukman 18)... Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, dan janganlah berjalan di bumi dengan Angkuh. Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri ...  | jadi nggak sabar menunggu tanggal tayang film ini... |
 | terima kasih sudah menunggunya. Saya berharap sekali tidak mengecewakan. Doakan selalu. |
 | salut selalu buatmu kawan..meski larut dalam industri namun idealismu tak bisa terkikis..tuh aku lihat dr film2 kamu yg lalu..semoga juga dg ayat2 cintamu |
 | saya telah membaca novel AAC lebih dari 10x... ingin rasanya menjadi seorang fahri dizaman edan seperti ini, dan ingin rasanya mempunyai istri seorang aisya yang begitu benar2 sempurna... salut buat mas hanung yang tergerak hatinya untuk memvisual karya besar ini... |
 | GILA!!! gak tau napa setelah katam novelnya jadi pengen nonton pilemnya.Serius,penasaran banget!!!bakal se-AJIB novelnya gak yaw..sukses buat Kang Hanung.Oya,poto2 di Mesirnya ok banget.Ngiri pengen nyambangin ke sana.Hehehehehe. By : Zacky - 102,4 FM Semarang |
 | Ass.. Kira2, kapan keluarnya mas?? Mumpung saya lagi Habiburrahman maniak nih.. Hee |
 | Insya Alloh Desember tanggal 19. Pas hari Raya Idul Adha, lalu seminggu kemudian Natal dan seminggu kemudian Tahun Baru. Jadi Film ini disiapin tidak hanya buat Muslim saja. |
 | wah... jadi gak sabar nontonnya, setelah baca novelnya aja banyak makna yg dipetik aplg kl film ya.. btw, rencana pemutaran awal di kota mana aja??
|
 | Great!! Thanks for being so kind.. |
 | Kesan yang mas Hanung dapat waktu baca novel ini, kesan itu pula yg saya dapat. Fahri itu tokoh yg terlalu mengawang-awang, bagi saya, saya tidak percaya ada pria sesempurna itu. Waktu saya dengar novel ini akan dibuat versi visualnya, saya sempat ragu akan jadi bagus tidak ya?? Tapi setelah baca blog mas Hanung soal Ayat-ayat Cinta ini, tampaknya persiapannya sangat matang, saya jadi berharap sekali bisa segera nonton filmnya. Terus berusaha untuk membuat karya yg lebih baik dan lebih baik lagi, mas Hanung! Kami selalu tunggu filmnya lho... |
 | ga sabar mas nunggu filmnya keluar..ga tunda lagi kan? udah fix kan tanggal premiernya..awas ya kalo tunda hehehe, maaf kalo agak ngancam.. |
 | julianawa wrote on Nov 15, '07, edited on Nov 16, '07 Dari yg kubaca dr tulisan mas hanung diatas. Sepertinya Nurul tidak menjadi pusat perhatian di film itu. Sedangkan dr kacamata awam saya, justru Nurul menjadi suatu perhatian, krn diantara 4 gadis itu, Nurul satu2nya yg berasal dr Indonesia. Dia bahkan menjadi wanita yg "spesial" bagi fahri. Kukutip di buku,
---- Aku meneteskan air mata. Tetesan itu makin lama makin deras. Akupun tergugu. Kenapa jalan takdirnya seperti ini? Kenapa berita yang sebenarnya sangat membahagiakan hatiku ini datang terlambat. Satu-satu nama seorang gadis yang bila kudengar hatiku bergetar adalah Nurul. Nurul Azkiya. Berita yang seharusnya membuat hatiku berbunga-bunga itu kini justru mebuat hatiku terasa pilu. ---
Tapi kurasa, semua detail dan keindahan di buku itu, sangat sulit dirangkum menjadi sebuah film, dengan durasi terbatas. Bagaimanapun kemasan yg akan disampaikan mas Hanung.. Saya tetap penasaran pengen nonton.. |
 | nunggu filmnya penasaran banget... |
 | jadinya januari? kira2 tgl berapa? tahun baru hijriah kah? |
 | ulasan yang sangat menarik dan sangat manusiawi :) tak sabar menunggu pemutaran filmnya |
 | Mmm Jadi ga sabar nunggu film nya diputar neh mas, mau liat perubahan karakter - karakter dari novelnya... Semoga film ini mendapat tempat dihati masyarakat Indonesia yang hanya mendapat suguhan tontonan yang monton terus... Amin... ya Rabbal alamin |
 | mas hanung klo dah g ada planning bikin film lg bikin film "Ketika Cinta Bertasbih" aja. Itu juga salah satu novel pny kang abik. Salut buat kerja kerasnya!!!!! Bravo! |
Comment deleted at the request of the author.
 | Nggak pingin memfilmkan Laskar Pelangi, Kang? |
 | Hmm....... inilah jawaban yg sangat detail ttg penilaian orang2 Trailer AAC yg banyak memberikan opini "kok, gak sama kaya' yg di Novel, ada adegan yg "aneh" >> gak islami" aku mengerti kenapa dari Trailer AAC hanya diambil sisi yg paling dramatis hal ini untuk membumikan sosok karakter Fahri adalah seorang manusia biasa bukan seperti yg dikisahkan dalam novel, terkesan so clean, so perfect bukan begitu, Mas Hanung? |
Comment deleted at the request of the author.
 | Bagi saya, religius adalah ketika manusia berada dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itu membuat manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan ... bertawaqal.
meaningful banget.. thx a lot ya! kalimat mas hanung diatas memberikan hikmah yg begitu besar untuk saya ^_^
ga sabar nigh pengen nonton AAC!!!!hehehe... |
 | aQ nunggu bgd ni mas... tmen2 udah pd heBoh smWa... n sCara mndadak smwanya kena syndrome fedi nuRiL mania..!!!
btw,, smOga fiLmnya semenyentuh nOveLnya... aminnn... |
 | Setuju mas Hanung... emang susah memvisualisasikan tulisan dengan 100 persen persis sama..keknya mustahil juga kl ga di oprek2 dulu n dibongkar bongkar, apalagi film denga tema islami. Gimana coba bikin adegan romantisnya malam pertama fahri di apartment pinggir sungai nil itu? apa aktor n aktris nya harus juga peluk2an n cium2an sampe "begituan" juga? ga mungkin. Aktor n aktrisnya kan bukan suami istri....! |
 | please...please.. kpn tayangnya.... |
 | Tulisan dan semangat dasar film yang sangat menggugah, terima kasih Mas Hanung :-) Mudahan Allah memberkahi produksi dan pasca produksi film ini... |
 | premierenya diundur lagi ya? katanya 4 januari 2008 hari ini. kenapa mas? rakyat Indonesia udah pada nunggu loh.... salut buat mas Hanung dan kru film semuanya. semoga film ini mampu mencerahkan dan mencerdaskan. amin |
 | udah nunggu2 banget nih filmnya,, kapan ya kira2 rilis?
|
 | Lukman 18. hihi, aku suka bngt surat yg mas Hanung kutip. tp bagaimanapun karya novelnya cukup indah dan kaya. ohya titip versi realistisnya utk adegan final donk mas. masa iya sih demi menolong nyawa maria, fahri gak mau berbuat 'dosa' sedikit aja dgn menyentuh tangan maria? apa itu gak menyinggung perasaan dokter2 pria? semoga sukses filmnya yach. |
 | lama kalipun release na.. cape nih nunggu na
|
 | Mas hanung , saya selaku pelajar indonesia yang belajar di malaysia . Menanti-nanti untuk menonton film AAC . Kalau bisa film AAC di putar juga di bioskop malaysia karena saya menilai orang-orang sini juga banyak yang tertarik untuk menonton film ini , itu di karenakan animo masyarakatnya akan novelnya juga sangat banyak.. Tolong klo bisa di pertimbangkan... |
 | mas, kpn jdnya nih film ditayang??? dah g'sabar bgt mau nontonnya... saya nonton trailernya aja dah sedih... btw, novel udah dibaca berkali2, CD OST nya juga sudah punya tinggal movienya nih.. semangat buat kerja keras mas hanung,mdh2n film ini sanggup mengulang sukses novelnya. |
 | Semoga Allah memberkahi mas hanung dan team atas usahanya membuat film2 berbobot ini Aminnn
Bikin film Ketika Cinta bertasbih dunk mas^_^ |
 | Mas Hanung, luar biasa dengan kesulitan yang mas hadapi dalam pembuatan film ini, semoga film ini tetap eksotis meski tidak banyak mengambil latar film dari tempat aslinya (Mesir). oya sedikit curhat.. terus terang dengan segala ketidak sempurnaan saya, saya banyak mendapat hidayah dari novel ini.. semoga banyak juga orang yang akan mendapat hidayah dari film yang Mas buat dan terbuka wawasan tentang bagaimana ber-islam sesungguhnya. Salam hangat dari saya, untuk IBU yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi.. :) Wahyu di Bogor (m_wahyudi_r@yahoo.com;m_wahyudi_r@pelita-air.com) |
 | v3tha wrote on Mar 9, '08 Ass.Sy senang skali dgn versi film AAC yg d bwt mas hanung.Dulu stlh bc novelna sy mrs agak bulshit y,so perfect y trutama karaktr fahri n hepi endingna mkna sy g nangis2 tp ntn pilmna sy nangis..so beautiful,hikz.. pgn ktmu jodoh... |
 | bagus mas filmnya....moga ke depannya lebih banyak lagi melahirkan film-film lain bernuansa islami yang menyentuh hati.... sukses...buat mas hanung dan crewnya |
 | Mas Hanung, bikin film dong tentang anak special needs, bagaimana efeknya ke hub suami isteri, perjuangan mendiagnosa penyebab, pencarian terapis-terapisnya, baik dari sisi terapi medical, terapi perilaku, keputus asaan ortu, dan pencerahan2 via malaikat2 dalam bentuk manusia (terapis, ulama, dokter, psychoterapy, alternative medic spt Hembing (bgmna kami di kota lain hrs ke Jkt & cuti u/ semua itu) dan bagiamana ketakjuban kami akan setiap perkembangannya, menyapa, mengenal warna, hrs visualisasi via gbr, dll. Saya yakin ini menarik ditampilkan dikhalayak. Oh iya bicara ttg AAC, tokoh Fachri itu ada, pernah di sekelilingku (Japanese+english+Arab+Indonesia, sangat pintar, ganteng, lembut, baik & dicinta byk wanita, hanya kesopananlah & keluguankulah yg membuat kami tdk saling mengerti & akhirnya tdk saling meraih). Suamiku juga walau tidak fasih bisa 4 bhs (Jerman, English, Arab, Indonesia), ganteng, pintar, lembut & sabar. Mas Hanung, selamat ya ..., bagiku di usia Mas ini, suatu yang luar biasa bisa tercipta, jika aku ibumu, tentu akan bergetar terus aku dengan keharuan yang amat sangat karena dikaruniai anak sehebat Mas. good luck... |
 | ass.. mas hanung saya termasuk golongan yang lebih menyukai film aac ketimbang novelnya ...adegan fav saya adalah ketika fahri disadarkan akan hakekat islam di penjara...sabar dan ikhlas (sampe bercucuran air mata lo dan itu tidak saya temukan di novelnya)..keep on the good work ya mas hanung..ditunggu karya2 terbaik selanjutnya.... |
 | Mohon maaf..Numpang Mampir
I can campaign on this page
|
| |