Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih lagi, banyak diantara mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka. Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat keberatan. Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo. Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar 3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa membuat satu film. ‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku. Aku sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi tertutup. Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect. Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah). Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut. Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal alat, Adi molana (tata suara) dan aku. Producer setuju dengan rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan, membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya 1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival. KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo, kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi. Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo … Tapi, lagi-lagi semua itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta, aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan, bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI. Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik? Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa. Pesawat Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist) tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur sekenanya. Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15 jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami, seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat di bis, pikirku. Setelah keluar dari bandara Bombay dengan tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil. Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC. Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD) yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang … Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya. Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk, warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang jalan seperti di film Iran Café Transit, jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku. Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin, sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti, Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka foto-foto. ‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu. Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km, Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop. Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami. Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah … Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh, aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa. Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik. 'Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.' Kata ibuku yang terus menerus terngiang. Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai. Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India 5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes, kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara. Tapi dari semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur. Melelahkan tapi juga menyenangkan. 3 hari kami melakukan shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga, rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab. Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.
Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …
 | makin tak sabar menunggu... |
 | di undur januari mas ... sory banget.
|
 | Mundur ya, tapi nggak apalah biar jadi lebih baik. Ternyata perjuangan di lokasi sebegitu beratnya ya... |
 | Ketika Idealisme tak semanis realita haruskah kita mundur kebelakang? ^_^ *Semangat!*
|
 | dik2 wrote on Dec 13, '07 di undur januari mas ... sory banget.  meski kecewa ... tapi harus tetap bisa tersenyum ... menunggu lagi ... :( (semoga ini memang yang terbaik ...) |
 | Baca cerita mas hanung, jadi pengen nangis.... Tapi inilah yang namanya perjuangan mas. Tetap semangat ya mas. |
 | kgome wrote on Dec 13, '07 Januari....mmm.... Sebuah 'perjuangan' mang hrs lewati jalan yg berliku2 dulu ya.... ;))
|
 | mas hanungggg..... *peluk* |
 | yach gimana nich....:( tapi gapapa jadi masih punya waktu buat nabung bt beli ticket/TV :)
|
 | "sesungguhnya satu kesulitan diapit oleh dua kemudahan" insya Allah terdapat kemudahan di sisi-sisi lain yang tak terlihat dengan mata namun cukup berasa oleh hati manusia
ditunggu sangadz filmnyah mas ^_^ |
 | perjuangannya..., subhanalloh... tetap semangat ya, mas hanung.... moga yang terbaik... amiin :) |
 | wisat wrote on Dec 13, '07 Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohu, orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.  Cerita 'behind the scene' yang menarik, mas.
Tetap semangat.. Saya tunggu film-nya di bioskop..
Semoga benar-benar bisa kasih suasana yang berbeda.
Salam untuk para kru yang sudah susah payah..
|
 | Saya udah liat trailernya mas hanung ... keren bangetttttt.... semoga saya gak bosen nontonnya berulang2, seperti saya gak bosen membaca novelnya berulang2... :) |
 | Semoga selanjutnya semua usaha Mas yang dilandasi niat tulus akan diberikan kelancaran. |
 | uam88 wrote on Dec 13, '07 ga jadi diundur kan pelem nya? tetep semangat mas hanung... anggap semua caci dan maki sebagai kritik untuk membuat banyak film berdedikasi lainnya.. hal lain yang pantas saya sampaikan: jangan berharap hasil kerja mas Hanung adalah untuk orang lain, tapi adalah untuk mas Hanung sendiri.. maka maha karya ini akan menjadi kepuasan tersendiri :D |
 | good luck ya mas hanung!!! great job for the team! |
 | waaahhh...perjuangan berat ya mas! masih sabar menanti filmnya diputar :) |
 | menuntut semangat dan kesabaran yang luar biasa rupanya film ini ...apa mungkin harus diundur untuk menyesuaikan jadwal pulang saya ya mas he..he (becanda loh mas bukan maksud ngentengin kerja kerja tim-nya) ..moga2 saya sempat nonton pulang kampung nanti...salam kenal dari Reading - UK |
 | Jadi semakin tertarik menonton film ini. Sayangnya saya belum bisa pulang ke indo dan menontonnya. Salam dari Melbourne |
 | sabar mas hanung...segala sesuatu yg dilandasi dengan niat baik..hasilnya insya allah pasti akan baik,,amin |
 | kesabaran dan ketabahan itu ga akan sia2 insya Allah kesuksesan didepan mata,cahyooo mas hanung |
 | proses yg matang akan menghasilkan sesuatu yg luar biasa, selamat ya mas !! salam kenal |
 | perjuangan mas hanung mudah2an sebagai awal perjuangan film-film agama di Indonesia...bravo mas hanung n kang abik...bukannya serentak tanggal 19 desember 2007 di 21? |
 | Tetep semangat ya mas.... :))
|
 | Subhanallah.... Sebuah Perjuangan mas.... Allah tak akan menyia - nyiakan perjuangan menuju Kebaikan. Balasannya pun setimpal. Bahkan dalam matematika Allah, 10-1 tidak sama dengan 9, bahkan lebih.. Btw, lihat di Tabloid & Koran2 belum ada perubahan untuk tayangnya AAC niyy Mas. Di beberapa 21 masih Coming Soon |
 | kapan mau ditayangkan di Malaysia mas? |
 | Saya masih di India. Saya belom dengar apa-apa kapan perubahan itu. Simpang siur. Yang jelas Ayat-Ayat Cinta harus selesai tanggal 23 Desember. Maslah tayang, kabar terakhir tanggal 4 Januari. Tayang di Malaysia masih direncanakan. Banyak juga yang minta begitu. Tapi tergantung pihak bioskop Malaysia membelinya. Mereka tidak mau share tiket. Maunya beli putus. Padahal kalau beli putus cuma dihargai 60 juta. Banyak producer Indonesia keberatan. |
 | Ga nyangka......... Asli, speechless banget. Saya kira Mas Hanung juga termasuk kalangan orang2 yang selalu ingin buat film horor dan film cinta abg aja.... (Soalnya saya sempet sebel sama Mas waktu Jomblo syuting di ITB, terutama pas di LFM (Liga Film Mahasiswa) karena tempat saya jadi berantakan dan kru2 tampak ga ada yang peduli. Sekarang pandangan saya berubah. Dan kalau ada orang yang nanti menghina-hina atau membandingkan film AAC dengan bukunya, sudah pasti mas Hanung akan saya bela! Hehe.. Semangat ya,mas!!! ^-^ |
 | salut buat hanung,proses film ini sangat dramatis. bgaimnapun hasilx filmx sy tetap salut dgn segala rintangan2 yg di hadapi,sukses ya..n jgn lupa kota palu untuk pemutaran filmx, pasti banyak yg nonton n sy bs jamin banyak yg nonton disini. |
 | hmmmm, jd ga sabar pgn nonton. Ga nyangka behind the scene-nya AAC asa perang gerilya. Banyak hikmah & bikin Mas hanung makin wise pastinya. Salut, utk mas hanung&tim AAC-nya. |
 | salut mas...ternyata berat ya perjuangannya tenang mas hanung...pasti kutonton gak akan kuprotes...smga dengan banyaknya rintangan ini akhirnya ada hikmah yang baik bagi film ini... |
 | "mengapa harus ada keluh kesah dalam derita, pernahkah manusia berpikir bhwa itulah cinta, anugerah tuk manusia dr sang Pencipta, indahkah Pedang tanpa digosok dan ditempa?kuatkah tangan tanpa beramal dan bekerja?, hanya allah sang pemegang rahasia, smua pasti ada hikmahnya" bravo mas hanung... |
 | walaupun ditunda, tetep nunggu deh. :). Selamat juga udah dapet citra, walaupun pialanya bakal dibalikin lagi,he..he.., tapi get marriednya emg keren :D |
 | Mas hanuuuuuuung.... ini bukti cinta Allah karena cuma Mas Hanung yang sanggup menerimanya |
 | waduh.. pak best director FFI 2007 nih.. terlepas dari apapun, Get Married emang bagus sih.. :D eh, ngomong2, pialanya diambil apa disimpenin pak parwez ? he..he..
Mas, baca kisah serial BTS AAC ini, jadi kepikir.. kenapa gak ini di-script-in sekalian dan dipilemin sekalian.. pasti lebih heboh dari AAC-nya sendiri.. wakakak... sing sabar..
|
 | sebagaimana pengalaman saya, memang visa on arrival harus ada surat dari departemen dalam negri sini (Mesir), sebenarnya gampang ko, biasanya kita dikasih secarik kertas (kuning) yang berisi nomer visa dari departemen dalam negri Mesir, udah gitu, yang ngurus di Mesir tinggal scan dan kirim lewat email ke indo sebagai bukti bahwa kita udah garansi dapat visa on arrival..di bandara soekarno-hatta ga da masalah ko kalau kita punya bukti itu.
sayang ya padahal kalau jadi shooting di Mesir bakal lebih Asyikk..tapi insya Allah semuanya akan sukses sebanding dengan perjuangannya..salut dan selamat buat best director-nya..
tapi di Bioskop Kairo ga bisa tayang ya?... |
 | Untuk membuat film yang berkualitas memang butuh perjuangan yang hebat toh mas... :D
salut deh buat mas hanung, banyak yang nunggu loh.
|
 | sebenernya sih sedih.....tapi mau gimana lagi. Mungkin dibalik itu semua,,,Allah swt. bakalan ngasih yang terindah. Amin
Ardhzakia Naim |
 | MAS YANG SEMANGAT YA AKU PASTI NONTON NIH FILM
SEMANGATTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT
AKU YAKIN PASTI FILM INI SUKSES
|
 | oh ya mas... saat liat2 lagi trailernya...pas d ruang sidang ada percakapan "Indonesia...kamu yg memperkosa gadis mesir yang bernama NURUL pd hr kamis jam setengah empat...Ngaku!!!" seharusnya kn Noura???ato aku aja kali ya yg salah denger...mang baca(logat)-nya kata2 'Noura"' gmn ya?? Oh ya, aku jg bc dr koran, klo gak salah ACC dah disaksikn di dpn MUI n Kang Abik jg ya, sebelum nantinya ke pasaran... ;)) thx for your share mas...
|
 | Oh dear... I'm sorry mas... |
 | wah baca tulisan mas hanung..kok jadi mirip si fahri ya....(terharu). itu menandakan bahwa Allah menguji mas hanung n mencontoh si fahri , tetap tegar n semangat so berbekal tawakal .itu rumus si fahri tuk diterapkan mas hanung...bener2 kuasa Allah.subhanallah. Allahu'akbar. >jadi di undur januari ya...ok dont worry , i'll be there in AAC |
 | buat buku aja mas :) pasti menggugah jiwa juga :) |
 | asli mas.. klo ada yg bilang filmnya gak sebanding dengan novelnya,, kasih tw saya sapa orangnya.. jangan dipisahin,,, hahaaaa |
 | Kisah pembuatannya saja layak dijadikan film mas. Seru, maafkan kami para penikmat film yang kadang awam terhadap idealisme. |
 | Subhanallah, salut buat mas Hanung. Perjuangan ya mas, namun pastinya insya Allah akan menjadi ladang da'wah Islam. Value yang ditawarkan AAC semoga menjadi inspirasi keindahan Islam, n bikin orang makin cinta Islam. Amiin |
 | Ga disangka perjuangannya seberat itu... sabar ya Mas hanung... Insyaallh hasilnya ga akan mengecewakan..
Allah telah menjamin "Setelah ksulitan, ada kemudahan"
|
 | Subhanallah ... salut atas kesabarannya mas . Tetap semangat mas ... |
 | cipzy wrote on Dec 18, '07 Film adalah karya seni yang berbeda dari Novel yang tidak bisa disamakan. Tapi apabila film diangkat dari suatu Novel? bisa saja dibandingkan..Namun butuh keberanian dan keikhlasan.
Saya melihat itu semua setelah membaca seluruh kisah dibalik pembuatan film ACC ini..
Biarpun di undur, tetap kekeuh nungguin mas! Go Go !!
Sudah seharusnya behind the scene ini dibukukan agar semua yang menghujat dan memaki nantinya tau apa yang telah terjadi untuk membuat film ini!
Sukses ya mas ! jangan nangis terus! rock on!
|
 | sukses deh buat bang hanung, semoga saja semua tokoh perfilman Indonesia seperti bang Hanung, lebih mengedepankan profesionalitas kerja dan lebih menggunakan hati nurani sehingga hasilnya tidak merusak moral bangsa ini, tetep Istiqomah bang Hanung
* Disetiap kesulitan pasti ada kemudahan |
 | udah sampai d mana mas? editnya udah fix mas? |
 | akhisuhono wrote on Dec 18, '07, edited on Dec 18, '07 Sabar...bentar lagi kok...Selesainya film inipun patut disebut sebagai KABAR GEMBIRA. Dan Rasulullah Bersabda bahwa kabar gembira harus disebarluaskan segera dan dengan cara sebaik mmungkin. Mari berlomba-lomba menyampaikan KABAR GEMBIRA. Semoga sukses Mas Hanung eh, jadinya tayang Januari tanggal berapa? |
 | huhuhuhuuuu... terharu baca comment-commentnya :D |
 | (iqbal numpang punya fajar)
seperti kata filmnya mas...
SABAR DAN IKHLAS.
itu yang harus bener2 kita resapi.
tapi terima kasih banget mas atas pelajaran yang saya terima. maaf kalo saya ada mengecawakan mas hanung saat produksi Ayat-ayat Cinta.
|
 | amaher wrote on Dec 18, '07, edited on Dec 18, '07 semoga mas Hanung ingat dengan firman Allah: inna ma'al usri yusra... sesungguhnya setelah kesulitan akan datang kemudahan saya ikut mendoakan untuk keberhasilan idealisma anda! Rabbana ma'akum! muwafaq |
 | tetAP semangAt!!!semangat |
 | subhanallah, ternyata seberat itu perjuangan mas Hanung dan rekan2 untuk menampilkan film ini seindah n sespektakuler novelnya,,,,, saya do'akan moga semua kerja keras, pengorbanan dan ketulusan kalian tidak sia-sia begitu saja n semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kalian, amiiinnn......
|
 | Subhanallah mas....semoga pengorbanan mas ini terbalas saat pemutaran perdana nanti... |
 | Tetap Semangat ya Mas Hanung !!! |
 | kami yakin pasti ada keajaiban besar untuk Layar Lebar AAC ini,keajaiban untuk sang sutradara,produser,penggemar AAC,Kang Abik,dan semua umat muslim,untuk para krunya,artistnya,dan semua yg telah berjasa mengangkat AAC ke layar lebar,,,,,patsi keajaiban besar itu akan datang untuk kalian semua,,,,,SEMANGAT Mas............ |
 | nad02 wrote on Dec 18, '07 hwaaa.. daH nun9gu lama niH noveL diFilmin,, akHirna muncul juga.. aku percaya bgd saMa maS hanung..paSti filmnya jadi keren bgd! hoPe aku ni film bakal sebagus buKunya,yah! |
 | de51 wrote on Dec 18, '07 Keren banget perjuangannya..
Mudah2an filmnya dapat mencerahkan bagi sutradara, pemain, produser, penonton dan semua yg terlibat didalamnya :) |
 | amien ..subhanallah , insya Allah semoga dpt menebar pencerahan bagi semua .. Congrut ya mas..hanya ALLAH yang dapat membalas setiap tetes keringat dan nafas dlm pembuatan film ini ..kerja keras mu ini .. nilainya ibadah ..amien |
 | Mas Hanung, terima kasih ya sudah berbagi cerita tentang perjuangan mas. Semoga sukses. Insya Allah saya bisa nonton di bioskop! |
 | Akhirnya selesai juga baca ke-4 episode ini... baca tulisan mas Hanung, serasa betul-betul mengalaminya... jadi makin gak sabar nonton AAC...
|
 | ayo semangat mas hanung!!!!
kita udah nunggu2 buat nonton nih!!! |
 | disca wrote on Dec 19, '07, edited on Dec 19, '07 Terharu denger kisahnya mas hanung Semoga Filnya sukses, tidak hanya sekedar memenuhi idealisme semoga kami semua yang menonton nanti bisa semakin termotivasi dan mengambil banyak pelajaran Agar perfilman indonesia lebih hidup ! Selamat untuk Mas Hanung |
 | cipzy wrote on Dec 19, '07 hari ini langsung beli koran buat liat jadwal pelem.. berharap tanggal 19 ini sudah ada AAC hehehe.. ternyata emang blon ada ^_^ |
 | Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat.  Saya jadi ingat saat Rasulullah pernah dimintai pendapat oleh seorang sahabat mengenai sesuatu (yang Rasul tidak ahli/mengetahui banyak), kemudian Rasul berkata : Kamu lebih tahu "duniamu". Saya agak lupa matan haditsnya, itu ingatan saya saja.
Kadang kita, umat Islam (termasuk saya) seringkali ingin sesuatu yang ideal tanpa tahu bahwa segala sesuatu yang ideal itu perlu ikhtiar, perlu perjuangan. Begitu juga dalam film. Tak cukup bilang: ini jelek, ini haram, ini gak syar'i.
Perjuangan Mas Hanung dkk dalam pembuatan AAC sangat menginspirasi. Itu dakwah, meski Mas Hanung bukan "da'i" secara performance. Semoga kontribusi Mas Hanung akan memberi pencerahan pada dunia perfilman di tanah air. Keep fighting!
Oh ya, setuju tuh, bagus juga kalo tulisan "kisah di balik layar" ini dibukukan. Dilengkapi dengan pandangan Mas Hanung tentang dunia perfilman, film dakwah, dsb. Saya pikir menarik dan akan memberikan wawasan masyarakat bahwa bikin film (islami?) itu gak mudah.
Terakhir, salam kenal (hehe, telat). |
 | makin diundur, makin penasaraaan,.... |
 | Mas Hanung.... Salut banget dehh,,,, masih bisa bertahan membuat AAC... Oia Mas, Tanggal 4 itu seluruh Indonesia atau hanya beberapa kota besar? |
 | disca wrote on Dec 19, '07 Kalo yang commentnya mba dee ..langsung deh mas hanung ditawarin ngebukuin.. wah bagus juga usulnya mba dee ...mas hanung tampaklagi curhat tapi menyentuh. dibalik layarnya aja udahmengharu biru gitu. apa lagi filmnya ... masayrakat indonesia memang harus dilatih menonton tayangan yang mengajak berpikir dan brkontemplasi, dan yang memulainya tentu seorang yang begitu idealis |
 | Wow.. begitu ya Mas. Ujian, Cobaan, tidak lain adalah sebuah kenikmatan tiada tara jika kita berhasil menghadapinya dengan sabar, seperti yang Mas Hanung rasakan sekarang, telah berhasil menyelesaikan Film AAC. Sukses ya Mas, semangat terus. Pecinta Novel AAC sebelum menonton filmnya sebaiknya baca ini dulu deh. |
Comment deleted at the request of the author.
 | Cameraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..!!!!! Rollliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing.......!!!!! ACtionnnnnnnnn............!!!!!!!!! Hueueueu...!!!!!!
Menempatkan kesetaraan antara Idealisme dan Perfect..!!!!! Niad bikin felem nya aja udah salut gw.....!!!! Apalagi klo dah jadinya...!!!!! Pertama Isue Globalnya aja udah gk kebayang... AAC The Movie..??!!!! What The Hell is going on..!!!!! "gila aja loe bikin felem neh novel..!!" (siapa gw neh.??) 100% tuh novel cerita Ttg Akhlak Nabi Muhammad saw.. Beuugh..!!!!!
Selamat menikmati persoalan setelah Felem ini tayang aja ya Mas...!!:D Just Comment Bad or Best..!!!!
Five Thumbups 4 U'r Idea....!!!! |
 | luar biasa!!!!! buat mas hanung,semoga fim kedepannya lebih banyak yang bermuatan moral.... ali mashudi |
 | yup....
Semakin kita banyak di uji... semakin tambah pula kualitas produk yang kita hasilkan..!!!
Regard's |
 | waduh mas perjuangan mu..... semoga semuanya di balas oleh ALLAH n filemnya meledak di pasaran, AMIIIN.... karena da saatnya masyarakat indonesia ga hanya nonton film hantu (yg lebih pantas di bilang ga berbobot)
|
 | mas hanung, harapan saya agar AAC segera ditayang di malaysia, kerana ramai peminat di sini tertunggu2 akannya. sehingga kini filem mas, sundel bolong sahaja yg sedang ditayang, dan saya bakal menontonya minggu ini.... Saya juga pasti akan membeli VCD/DVD filem AAC jika direlease nanti, saya berharap jika didalam VCD/DVD itu nanti disertakan dengan behind the scene atau the making of AAC, itu sudah bagus bangat mas.. soundtracknya juga akan saya beli, saya setiap hari akan memutarkan lagu rossa 'ayat2 cinta' serta instrument AAC di handphone... tak sabar bangat mas menantikan kehadiran filem yg pasti box office itu nanti.. semoga sukses mas! |
|
|