Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryDec 4, '07 5:26 AM
for everyone
    Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film. Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.
    Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.
    ‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,
    ‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.
    ‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.
    Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …
    ‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’
    Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi  kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.
    Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
    Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
    Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.
    Skenario dibuat dalam 2 minggu.  Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante Marini  sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.
    Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
    Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …
    Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap, terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu, karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
    Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
    Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!
    Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.
    Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …
    Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih dewasa.

    Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin ...
    ( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami ...)

    Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) ...






    



 

103 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dik2 wrote on Dec 4, '07
Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
Dan tentunya menambah kecatikan dia ... :)

BTW:
Semoga film ini masih tetap dan bisa menjadi sebuah karya pembangun jiwa kembali bagi kita semua. Seperti hal dalam novelnya. Meskipun kami sadari untuk itu tidak mudah ...
but, InsyaAlloh sukses ... :)
peduli wrote on Dec 4, '07
Subhanallah...membaca cerita ini saja begitu terasa letihnya...semoga setiap keringat yg menetes, tiap detik yg terlewati senantiasa diridhoi dan mendapat rahmat serta barokahNya, amiin :)
hanungbramantyo wrote on Dec 4, '07
dik2 said
Semoga film ini masih tetap dan bisa menjadi sebuah karya pembangun jiwa kembali bagi kita semua. Seperti hal dalam novelnya. Meskipun kami sadari untuk itu tidak mudah ...
but, InsyaAlloh sukses ... :)
ya, memang tidak mudah ... apalagi melihat pecinta AAC sudah memiliki harapan besar atas film ini. Terutama mereka yang berharap Filmnya akan sama dengan Novelnya ...
wirdayanti wrote on Dec 4, '07
Apapun yang dilakukan tentu akan banyak mendapat "rintangan"..
Kalau saya baca niat dan tujuan Hanung untuk membuat film bertema Islam, saya sungguh salut. Semoga berbagai "rintangan" itu ga menyurutkan keinginan Hanung utk membuat lagi film2 bertema Islam.

G'luck ya Nung..
abunyasyamil wrote on Dec 4, '07
Dan nantinya, Club Anaknya Bunda, bakalan bareng2 nonton Film Mas hanung, ya kan bun? :D
wirdayanti wrote on Dec 4, '07
Dan nantinya, Club Anaknya Bunda, bakalan bareng2 nonton Film Mas hanung, ya kan bun? :D
Wah.. ide menarik Dan.. CAB (Club Anak Bunda) nonton bareng AAC.. :D

Hmm.., karcisnya dapat diskon ga yaaa.. hehe...
abunyasyamil wrote on Dec 4, '07
yah, kalo di diskon, target 20 milyarnya mas hanung gak nyampe dong bun. kita bayar normal ajah, tapi satu karcis untuk 2 orang, hehehe..
3ramadhan1405 wrote on Dec 4, '07
semoga sukses, terus berjuang yah !!!
rossa73 wrote on Dec 4, '07
membuat karya besar ga seru kalau ga ada persoalan,smoga esensi dari novel AAC dapat tersaji indah di filmnya....koq jadi ikut2an semangat ya habis baca kisah di balik layar AAC ini..... jadi ga sabar nunggu bagian IV nya....
banumushtafa wrote on Dec 4, '07
Wah..Wah.. ga sabar ne mas AAC nya,walaupun ga jadi shooting di kairo,yg di indo juga bagus kok..mirip banget ma aslinya. pokoknya ntar kalo da yg salah2..jitak aja si Farid mas..xixixixi
Anyway Goodluck lah...
banumushtafa wrote on Dec 4, '07
Wah..Wah.. ga sabar ne mas AAC nya,walaupun ga jadi shooting di kairo,yg di indo juga bagus kok..mirip banget ma aslinya. pokoknya ntar kalo da yg salah2..jitak aja si Farid mas..xixixixi
Anyway Goodluck lah...
iwananashaya wrote on Dec 4, '07
hmm... S E R U...!!! :)

Mas, kalau shooting di Semarang atau Yogya,
kasih kabar saya, ya...
Pengen lihat nih (belajar, maksudnya).
Insya Allah ntar saya bantu-bantu, deh... :P
Apaaa saja yang penting Halal.
Bantu kerja, maksudnya.
Tapi yang ringan2 saja.

Ya Mas, ya?? Saya pengen belajar niy... Suwer!

Semoga apa yang menjadi niat Mas Hanung serta segala upaya untuk mewujudkannya diberkahi oleh Allah. Amiin...
adibadib wrote on Dec 4, '07, edited on Dec 4, '07
Mas Hanung.
Catatan - catatan tentang film ini ternyata makin menelisik menukik dan memekik dan berdiri menjadi naskah yang kaya akan subtil dan detil yang sudah seharusnya termaktub nantinya dalam buku dibalik pembuatan film Ayat Ayat Cinta. Buku yang menulis dan mengisahkan sang pencipta film ini akhirnya cuma bisa berkeluh dan bersimpuh pada Pencipta. Salman Aristo saya pikir juga memiliki cerita yang tak kalah mendalam.

Kebetulan saya sudah menyimak lagu "Ayat Ayat Cinta" yang dibuat Melly dan dinyanyikan Rossa... Sinergi yang bagus.

Subhanalloh...
Semoga menjadi film yang manfaat
Mas Hanung memang 'lelananging jagad (film...)... :-)
hanungbramantyo wrote on Dec 4, '07
senang jika ada buku dibalik pembuatan film AAC, tapi ternyata tidak ada. Hehehe. Jadinya di MP saja. Apa yang saya tuturkan di blog sebenarnya belum seluruh persoalan. Nanti jadinya kayak sinetron striping kalau dituliskan secara detil. hehehe ... Semoga film ini tidak mengecewakan ...
masoed wrote on Dec 4, '07, edited on Dec 4, '07
oh kirain ke india itu tasyakuran aja..
ternyata masih ngambil set tho...

semangat mas!!!

ditunggu KISAH DIBALIK LAYAR AYAT-AYAT CINTA (bag.4)
julianawa wrote on Dec 4, '07, edited on Dec 4, '07
Membaca tulisan mas Hanung, berasa jadi orang film, ribet sampe ikutan mikir..
Saya orang Semarang, tapi kok ngga tau ada sebuah karya besar yg lagi shooting dsni.. Mas Hanung, begitulah kota lama, eksotis. Dan begtulah juga Lawangsewu, banyak hal unik disana.
(sekalian promosi kota nih, hee)
Soal penonton, jangan takut mas, Ayat-Ayat Cinta adalah buku fenomenal. Segala hal kecil yang ada didalamnya, adalah milik orang banyak. Apalagi jika buku ini di film kan, akan bikin tambah penasaran para pembaca.
Sekalipun nanti tidak memuaskan (karena puas itu beda2), toh tiketnya sudah dibayar dimuka, hehehe...
Engga lah.. Aku yakin film nya mas Hanung yg ini, pasti bagus.. Mungkin lebih bagus dr sebelum2 nya.
Ditunggu bag. 4 nya.. Pengen liat sungai Nil versi India..
tantodikdik wrote on Dec 4, '07
Insya Allah, jika film AAC nanti beredar, saya akan nonton di bioskop. Ini sejarah dalam kehidupan saya, Tanto nonton ke bioskop. Ini pertama kalinya... Hehe...!
hanungbramantyo wrote on Dec 5, '07
Tanto nonton ke bioskop. Ini pertama kalinya... Hehe...!
wah, sebenarnya bagus tidak nya film Indonesia bergantung dari tiket kamu nonton ke bioskop loh ... hehehe
neesha912 wrote on Dec 5, '07
Tenang, mas...saya sih yakin film ini bisa menarik lebih dari satu juta penonton. Banyak banget yg udah nungguin film ini. Waktu saya kabarin ke temen2, tgl 19 AAC bakal rilis, semua udah pada siap2 luangkan waktu tuh buat nonton bareng. Apalagi baca cerita di balik produksinya, secara tidak langsung, ini promosi yg efektif lho, mas. SEMANGAT terus, mas!! 4JJI tidak menciptakan beban, tanpa menciptakan pundak...semua pasti akan selesai dengan baik sesuai usaha kita...Amin.
karinbinanto wrote on Dec 6, '07
Saya yg bukan muslim aja udah siap2 nonton kok.. ;) Pasti BAGUS! Mas Hanung gitu loh.. apalagi pakai darah dan air mata!
hanungbramantyo wrote on Dec 7, '07
justru karena niat saya membuat film tidak hanya untuk orang muslim, makanya saya harus membuat ini menjadi universal dan pop. Kenapa? Karena fakta, selama bioskop kita ada di Mall, penonton kita lebih banyak remaja. hehehe ... jadi Pop adalah pilihan, bukan keniscayaan ...
a2zainal wrote on Dec 7, '07
Assalamualaikum mas Hanung.. Semoga mas selalu berada dalam lindungan Alloh swt. dan semoga film ini menjadi film pembangun jiwa seperti novelnya..amiin
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan dalam film aac ini.
Saya sudah lihat trailernya, dari situ saya tahu dialog menggunakan B.Indonesia, termasuk Aisyah.
kenapa aisyah juga menggunakan B.Indonesia? bukannya ada satu konflik dimana Nurul mengirim surat kepada Fahri kemudian Aisyah menanyakan isi surat itu dan Fahri menyuruh Aisyah untuk membacanya sendiri, jawab Aisyah “Kau bercanda. Ini bahasa Indonesia ‘kan?
Mana aku tahu maksudnya. Apa yang ditulisnya sampai kau menangis?”
Bukankah dialog ini tidak mungkin terjadi jika Aisyah sendiri berdialog B.Indonesia?
atau mungkin sesi ini di buang?? sayang sekali jika harus di buang gitu aja, padahal pada bagian ini
sangat menyentuh dan mengiris hati..
Saya juga salut buat mas Hanung yang pantang menyerah demi mengabulkan permohonan sang Ibu tercinta...
hanungbramantyo wrote on Dec 7, '07
ada beberapa dari novel yang tidak bisa di filmkan begitu saja. Novel sangat gampang merangsang imajinasi. Sedangkan visual bersifat nyata. Lalu, film ini menggunakan bahasa Indonesia, karena ini film Indonesia. Adegan tersebut tidak saya buang, tetapi saya ganti. Masalah mengharukan atau tidak tidak hanya semata-mata dibebankan pada adegan itu saja. Banyak adegan lain yang lebih mengharukan, misalnya pengorbanan Aisha mengijinkan Fahri menikahi Maria, itu jauh lebih menyayat hati dibanding sekedar surat Nurul.
a2zainal wrote on Dec 9, '07
salam buat mas hanung dari tmen2 pecinta novel ayat-ayat cinta.....
ta2surya wrote on Dec 9, '07
Eh kemaren ku liat billboard nya AAC di deket Sarinah.. Ko ku deg2 pyas gitu ya? Gimana tar kl nonton filmnya yak? Tahan iman..tahan iman...tahan iman... jd dilema ni...(hehehe...)
oktafh wrote on Dec 10, '07
yang dimaksud film pertama itu film apa si mas hanung?
hanungbramantyo wrote on Dec 10, '07
film yang bukan hanya pertama kali dibuat. tetapi pertama kali dikonsumsi ke masyarakat yang tentunya mendapatkan respon dari masyarakat baik secara langsung maupun dari media seperti Kritik. Kalau hanya merujuk pada film yang pertama kali di buat, Brownies bukan film pertama. Karena film pertamaku judulnya 'Maharani', dibuat tahun 1997 di jogjakarta.
deexsweet wrote on Dec 10, '07
wuih hebat bgt ya semua pengorbanan yang dilakukan mas hanung and kru dlm pembuatan film AAC ini,salut deh buat semua yg terlibat ddalamnya. Semoga pengorbanannya tidak sia-sia ya mas dan apa yang diharapkan dari pembuatan film ini bisa terwujud.
Ditunggu deh kisah dibalik layar AAC nya bag 4
lifejurney wrote on Dec 11, '07
Jujur mas, setelah aku membaca perjuangan mas hanung dalam pembuatan AAC, makin pengen aku buru-buru tanggal 19. Pengen tahu hasilnya bagaimana. Kemarin baru lihat trillernya aja udah bagus, bagaimana dengan filmnya? Pastinya luar biasa. Sukses ya mas....
BTW, premiernya kapan dan dimana mas? Kali aja bisa dapat undangannya..... ;-)
satria248 wrote on Dec 11, '07
ckckck...Subhanallah
Perjuangan Mas Hanung...semoga sukses!!!
Btw, tulisannya kecil2..:d
udoyamin wrote on Dec 11, '07
assalamu'alaikum wr wb. Mas Hanung, sy mahasiswa Al-Azhar Cairo, sungguh sangat mendukung dan ikut berdo'a semoga semua rintangan selama ini akan diganti oleh Allah dengan kesuksesan besar film AAC seperti bukunya yg best seller. Nah, kalau Mas Hanung tidak keberatan, saya ingin menampilkan tulisan2 Mas Hanung di MP saya dan mempostingkannya ke milis2 yg saya ikuti sehingga orang banyak mengetahui keberdaan film AAC. gimana Mas boleh, itung2 amal, supaya orang mau nonton film itu. wass
nicegreen wrote on Dec 11, '07
Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin ...
( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami ...)
amin amin amin Allahumma amin
yakinlah mas Hanung, semua pembaca buku A2C ini menantikan hadirnya film ini
sukses ya mas
itasyam wrote on Dec 12, '07
Mas Insya Allah saya akan nonton film mas...sekalian promo di pengajian saya....saya mendoakan semoga film ini juga sukses...biar mas tertarik lagi membuat film Islami lainnya, walau seberat ini ternyata rintangannya.
suararaa wrote on Dec 12, '07
mengharukan banget... memang melakukan apapun butuh perjuangan ya mas.. jadi tambah penasaran sm fil AAC ini.... ga lagi deh mas, bandingin sm novelnya.... 2 karya yg beda...
tetap semangat ya mas bikin film berkualitas!
Comment deleted at the request of the author.
hanungbramantyo wrote on Dec 12, '07
saya ingin menampilkan tulisan2 Mas Hanung di MP saya dan mempostingkannya ke milis2 yg saya ikuti sehingga orang banyak mengetahui keberdaan film AAC. gimana Mas boleh, itung2 amal, supaya orang mau nonton film itu. wass
terima kasih ... silahkan saja. Saya ingin sebanyak mungkin orang tahu bahwa membuat film tentang Islam tidak mudah. Banyak sekali rintangannya. Jadi ketika menonton film bisa lebih terasa perjuangannya ... (Mohon jangan di posting di milis Dunia Film atau milis-milis Film lainnya. Saya akan keberatan)
fredypredi wrote on Dec 13, '07
Ingatkah anda pernah mengalami hal yang lebih berat dari ini... dan terseleasikan. Aku tidak percaya seorang Hanung tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan seperti yang diceritakan di blog ini. " Hakuna Matata " kata salah satu tokoh di sebuah film kartun Lion King
combor wrote on Dec 15, '07
aku jg minta ijin neh mas.. nampilin tulisan mas di MP ku...gpp ya mas
ardhzakianaimaac wrote on Dec 17, '07
Assalamu`alikum

Mas,,,,, aku ada copy blog yang mas hanung Post. gak apa2 yah mas?????

ardhzakia

wassalam
amiers wrote on Dec 17, '07
Moga2 ga kapok bikin film islam...
goodsrie wrote on Dec 18, '07
Assalamu'alaikum
mmm...wkt lum bc blog ini pemikiran i ya..seperti yg mas hanung ungkpkn."ah malas nontonnya,palng gak sesuai dgn yg di novel.butuh dana n produser yg hebat klu mau seperti novel".kejem gak seh???tp insyaAllah setelah baca ini gak kepikiran deh yg kyk gitu,malahan jadi malu sendiri.sebagai penebus kesalahan,sri akan menyampaikan ini sama tmn2 yang gak tau blog ini atau gak sempat u membuka blog ini.OK...KEEP ISTIQOMAH yaa.....masih banyak loo...novel2 islami yang bagus u dibuat film..jangan kapok setelah ngerjain AAC ya...
Salam hangat u smu pemain n kru AAC dari fans AAC di KALTIM.
Wassalam
akhisuhono wrote on Dec 18, '07
Assalamu'alaikum.
Terus maju,Mas. Sekalipun berat menjalani proses film ini. semoga Alloh terus memberikan kesabaran kepada Mas Hanung sebagaimana Mas Hanung berdoa setiap kali. Semoga film ini mampu menjadi inspirasi dan penyejuk bagi masyarakat Indonesia yang semakin panas.
Assalamu'alaikum.
agatogata wrote on Dec 19, '07
Mas, anda memang seorang penulis piawai... ggp kok kalau jadi kayak stripping ;)
jasmine99 wrote on Dec 19, '07
Mas Hanung, sejujurnya saya tidak berniat menonton film ini, karena sudah terpuaskan dengan novelnya. Tapi membaca kepingan-kepingan 'Behind The Scene' nya sampeyan, koq seperti ada ekstase yang memaksa untuk menontonnya ya...^-^
Semoga niat yang baik, perjuangan yang nyata dan kesabaran luar biasa memberi sentuhan magis pada film yang sedianya jadi hadiah buat Ibunda tercinta, Amiin...
hanungbramantyo wrote on Dec 19, '07
itulah kenapa saya menulis blog ini. Mungkin bagi kebanyakan orang Film ini tidak lebih bagus dari novelnya. Tapi setidaknya ada hal yang tidak hanya sekedar Bagus-Jelek, Sesuai-Melenceng antara Novel dan Film. Ada sesuatu yang disebut ... Totalitas.
lieyah wrote on Dec 20, '07
AAC adalah film yang ditunggu penonton.
kyanya ini bener banget mas.... kapan neh pastinya??? tetap aku tunggu lhoo
ternyata perjuangannya berat banget ya mas...tapi aku salut mas bisa tetap konsis buat filmya
bravo mas....
reycute19 wrote on Dec 20, '07
Jangan lelah Mas Hanung, i'm support you. Mas...tak tunggu mas buat film tentang Muhammadiyah, atau biografi KH.Ahmad Dahlan.
zeest015 wrote on Dec 20, '07
makin g sabar buat liat AAC.. ^__^..
hattaku wrote on Dec 25, '07
Jadi AAC-nya tanggal berapa Januari???
birucerah wrote on Dec 25, '07
ass, mas hanung, salam kenal, aku penggemar film indonesia bermutu, tentu saja sangat menunggu film ini...aku pasti nonton dan akan jadi 'provokator' supaya teman2 saya engga ketinggalan film ini. minta ijin repost blog ini ya mas, di MP ku aja..
nofairytale wrote on Dec 27, '07
Pertama tahu akan ada film AAC, masih pikir-pikir, nonton nggak nonton nggak.
Tapi membaca The Making inilah yang bikin saya memutuskan Insyaallah pasti nonton.
Termasuk The Making-nya, kalo rencana dibikin acara khusus di TV atau buat bonus DVD. Udah kayak baca novel aja :D
hanungbramantyo wrote on Dec 27, '07
tentunya the makin of AAC tidak sedramatis tulisan saya. Karena itu versi producer. Pasti yang diambil yang oke-oke saja ...
pradana2 wrote on Dec 27, '07
Sejak jawapos memberitakan AAC akan di filmkan, saya langsung tetapkan Film wajib Tonton utk AAC ini krn gak bakal menyangka ada yg mencoba utk memfilmkan novel ini, sempat skeptis, apa mungkin bisa seindah novelnya yah... ^_^.... (ternyata temen2x juga punya pendapat serupa, maklum ini novelnya cukup TOP BGT...) & memang meletihkan baca crita mas hanung..(apalagi yg njalani yah... hehehe..)... & ternyata disini aku juga dptkan jawaban AAC kok ndak rampung2x & napa kok milih Fedi nuril di banding ikhwan2x aktifis yg lebih "pas" .. Ok deh... ^_^... Chayyo terus ya mas, Insya 4JJI nonton kok + ngajak temen2x yg lain ikutan nonton... Wassalam
meitarice wrote on Dec 28, '07, edited on Dec 28, '07
assalamu'alaikum...

wah... penuh perjuangan ya ternyata...
ck.ck.ck...
tapi tetap semnagat ya buat mas hanung dan crew AAC...
insyaAllah film ini bakalan sukses koq mas...
tenang aja...
dah banyak bgt soalny yang nungguin film ini...
aku aja sampe bolak balik ke bioskop buat
mastikan film ini dah main apa belum yaa...
siiip....?!

wassalamu'alaikum...
st939 wrote on Dec 29, '07
Mas Hanung Sukses yahhh..mudah2 film yg digarap ama mas meraih banyak simpati dari orng Islam sendiri,Kami yakin Film ini akan laku di pasaran, dengan hadirnnya persoalan2 saat syuting, itu menggambarkan film ini akan sukses dan di tonton oleh banyak orang, saya yakin dengan keahlian mas menggarap film itu sudah tidak diragukan lagi dan Indonesia Pun sudah mengakuinya
radenmasrafael wrote on Dec 30, '07
di bagian ini seperti bagian anti klimaks dari sebuah film, telah ditemukan secercah cahaya penerang yg menolong aktor utamanya, semoga film ini banyak direstui oleh para pembaca novelnya yg juga para penontonnya kelak
amiin......
darelkefa wrote on Jan 2, '08
Sori bang Hanung..kl filmnya dah rilis n go public, saya izin nenteng hardisk aja ya buat ngopy-nya...:))...habis ga diputer di bioskop kairo kan??hihihih..
smoga tiap tetes keringatnya di balasi Allah dengan keridhoannnya...smoga jg para pemainnya n penontonnya bisa tercerahkan lewat film ini..amin!
petreli wrote on Jan 2, '08
masyarakat indo ga bisa nonton film2 berat?
bener, ini karena siaran tv kagak ada yang bermutu, n masyarakat udah terbiasa dng itu! hayuk, kardusin televisi...

smangat terus bikin tontonan bermutu bos!
ayek26 wrote on Jan 2, '08
Salut buat mas hanung dan crew2nya...
sebagai org semarang ane merasa bangga kota ane bisa jadi "cairo"
jd kagak sabar nunggu film beredar ? tanggal 8 januari 2008 molor lagi ga mas ???
ikarais wrote on Jan 3, '08
justru karena niat saya membuat film tidak hanya untuk orang muslim, makanya saya harus membuat ini menjadi universal dan pop. Kenapa? Karena fakta, selama bioskop kita ada di Mall, penonton kita lebih banyak remaja. hehehe ... jadi Pop adalah pilihan, bukan keniscayaan ...

assalamualikum wr wb....
mas hanugn telah jatuh pada kesimpulan yg keliru. Untuk jadi universal, maka agama ditinggalkan. Pikirkanlah! Islam adalah agama universal. Karena dia diturunkan untuk semua umat manusia dimuka bumi. Universalitas ada karena ajaran Islam itu sendiri. Jagnan dibalik, seolah2 untuk jadi universal, Islam harus 'mengalah'. Saya percaya, mas hanung bermaksud baik. tapi sesuatu yg baik, bisa jadi buruk kalau kita mengambil jalan yang salah. Klaau mas hanugn percaya Allah adalah tuhan satu2nya dimuka bumi, maka mas hanugn harus percaya bahwa semua ajarannya adlah SATU2NYA KEBENARAN yagn wajib diikuti. Itulah yang disebut tauhid, mas. soal apakah orang non muslim mau nonton fiolm ini ini atau tidak, itu lain persolanan. tapi, jagnan putar2 akidah hanya karena kita ingin tampil menjadi yang benar utnuk semua agama, sehingga kita menampilkan agama 'baru'. Yaitu universalitas. Maaf, saya harus menyampaikan hal ini, tapi sudah saatnya logika berpikir umat Islam harus diluruskan. Jangan malu utnuk menyatakan kebenaran Islam sebagai kebenaran universal, mutlak dan satu2nya. Karena itulah yang diajarkan Allah dan RasulNya kepada kita. "Kebenaran itu adlah dari Tuhanmu, sebab itu jagnan sekali sekali kamu termasuk orang2 yagn ragu" (2:147).
Bravo mas hanung! saya usahakan nonton filmnya, tapi mungkin tunggu dvdnya saja. supaya bisa ditonton dirumah bersama suami...........
wassalammulaikum wr wb.
salam dari teman2 di Pesantren Hidayatullah Surabaya
imazahra wrote on Jan 4, '08
Wow, behind the scene yg mengagumkan... :-)

Hem, Mas, tidak terfikir kah utk penggalangan dana dari Moslem for moslem, seperti pembuatan2 film dokumenter di barat sana :-) teman saya seorang sineas Inggris pernah menceritakan hal ini, dan mereka sukses mengumpulkan dana yg sangat besar utk proyek idealis melewati speak up di internet.
aurasinai wrote on Jan 4, '08
Hem, Mas, tidak terfikir kah utk penggalangan dana dari Moslem for moslem, seperti pembuatan2 film dokumenter di barat sana :-) teman saya seorang sineas Inggris pernah menceritakan hal ini, dan mereka sukses mengumpulkan dana yg sangat besar utk proyek idealis melewati speak up di internet.
hmm...orang2 Indonesia klo dikasih beginian kemungkinan banyak yg kontra dengan tameng lebih mendesak bencana lah, kemiskinan di mana-mana lah, film tu cuma hiburan lah, dst, dst. bener sih, cuma seringnya malah jadi menentang, bukannya ngasih alternatif solusi. padahal ini buat kepentingan Islam juga. Allahu 'alam bishshawwab.
zahrakurnia wrote on Jan 4, '08
subhanallah, setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula. itu pasti!
omdy wrote on Jan 7, '08
heheheh.. hebat perjuangan si mas ini ,,, jadi tak sabar buat liat hasil jadinya,... mudah mudahan gak mundur mundur lagi ya...
beerasa wrote on Jan 7, '08
Assalamualaikum mas hanung
Saya dan teman2 pecinta Novel AAC sangat menanti pemutaran AAC movies di bioskop bahkan hari ini aku dah telepon 10 bioskop di jakarta tapi ternyata masih belum diputar. Yang semangat pengen nonton bukan cuma aku dan temen yang udah bacaaja yang kebelet pengen nonton tapi kita juga 'manas-manasin' temen2 yang baca untuk ikutan nonton. Dan tenang... saya juga akan merayu mereka semu yang pada anti bioskop untuk nonton di bioskop, serta beli dvd asli bin original AAC movies. So.. bilang sama producer kalo 20 milyar Insya ALLAH terkejar (Amiin.... tapi jangan lupa Zakat Infaq n Shodaqohnya ya....) Jangan pernah kapok untuk bikin film Islami yang bermutu ya maas.... Soalnya kita sebagai muslim dan muslimah haus akan hiburan yang bermutu dan mendidik. Setelah nagabonarjadidua semoga AAC bisa menyusul prestasinya. Amiin... Dan juga film islami besutan mas hanung lainnya. Kenapa gak coba kerjasama dan nasihat dari Master Deddy Mizwar. Kan kemarin filmnya banyak dapat perhargaan....
Last, kapan nih AAC tayang di bioskop kesayangan saya.... hehehe...

Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
n15y4 wrote on Jan 7, '08
jadi kapan donk ayat-ayat cinta release di bioskop????????
ga sabar nih
maknekah wrote on Jan 11, '08
subhanallah...............mas hanung smangat y??!!tapi insya Allah filmnya bakal mledak.amin....
(tp iy,,kpn??)
maverick07 wrote on Jan 15, '08
senang jika ada buku dibalik pembuatan film AAC, tapi ternyata tidak ada.
Ndak usah buku, mungkin dibuatkan filmnya juga sekalian saja, Mas. "Dibalik Pembuatan Film AAC: The Movie".. hehe...
delcrit wrote on Jan 16, '08
two thumbs up for you, congrat mas....
zafanda wrote on Jan 17, '08
salam bangga buat mz hanung.saya malah jadi mikir perjuangan maz buat film ini bahkan lebih berat ketimbang perjuangannya fahri di novel AYAT2 cinta.mkasudnya...maz begitu semangat untuk tetap membuat film ini. saya yakin ketika melihat film ini nantinya saya bisa melihat juga nafas perjuangan maz hanung
fajarmono wrote on Jan 20, '08
wua.... keren-keren!! kang hanung bramantyo

kapan nih.. ngajak aku main film lagi...huehehehehee...

reaches me on:
>>> YM ID :fajarmono@yahoo.com.sg
www.friendster.com/fajarmono
www.fajarmono.wordpress.com
suntea82 wrote on Jan 22, '08
penasaran pengen bgt liat filmnya....
nggacor wrote on Jan 22, '08
Great!

gw baru tau kalo "KALA" gak bisa 100 rebu penonton, padahal itu film adalah the #1 dari sekian banyak film indo, bahkan dibandingkan dengan nagabonar.Yah, mudah2an AAC bisa sejajar dengan film buatan Joko Anwar yang as8k
ruenesia wrote on Jan 22, '08
semoga perjuangannya terbayar dengan hasil film yang hebat mas..
indeskoy wrote on Jan 28, '08
Pati dang sipetau cipandan tuka... paredan sang hanung saske bitungka shailum pundya??
Paren dadja kealere kpa serer remaop sedaliambat dak asda cipetau tuka kpa danru pisahung greiyamoh damdamoli...
s3xy8u0y wrote on Feb 4, '08
subhanallah...
itu kata yang pertamakali terucap oleh saya ketika membaca blog ini...
saya jadi merenung dan berfikir, sudah cukup kuatkah saya dalam menghadapi itu semua apabila saya ada di posisi mas Hanung...
saya mempunyai impian menjadi sutradara seperti mas Hanung, namun rasanya masih jauh perjalanan saya apabila dibandingkan mas Hanung sekarang ini...
namun blog mas Hanung ini melecut semangat saya untuk membuktikan kalau sayapun bisa kalau mas Hanung bisa...
sukses ya mas Hanung...
apapun yang orang bilang tentang film ini, saya insyaAllah pasti menonton film AAC...
aunff wrote on Feb 8, '08
Entah orang-orang menyebutnya "Film Islami atau bukan Islami", selama bisa menggugah spirit dan rasa humanisme kita, pasti dinilai kebaikan di mata Allah SWT.
jalankami wrote on Feb 22, '08, edited on Feb 22, '08
mas hanung, luar biasa, anda telah melakukan lompatan spektakuler untuk dunia perfilman Indonesia. perjuangan anda untuk menghadirkan sebuah sajian film yang elegan dengan karakter islam yang kuat, membuka mata banyak orang tentang keindahan Islam ditambah pengorbanan anda dan crew AAC membuat orang yang membaca blog ini bergetar hatinya. terlepas dari pro kontra yang terjadi tentang film ini. saya tetap melihat akan banyak efek kebaikan yang dihasilkan dari film ini. bravo mas hanung anda telah membuat sejarah dalam dunia perfilman Indonesia. anda layak dijuluki sebagai sutradara pembangun jiwa dengan kerja keras yang anda lakukan.

"Barangsiapa yang menolong Agama Allah. maka Allah akan menolong dirinya dan meneguhkan pijakan kakinya"
harriscinnamon wrote on Feb 24, '08
atas film AAC, aku mengucap: subhanallah...mudah-mudahan setelah ini akan lahir film-film yang membawa kesadaran kepada kita bahwa mutu adalah penting....
harriscinnamon wrote on Feb 24, '08
atas film AAC, aku mengucap: subhanallah...mudah-mudahan setelah ini akan lahir film-film yang membawa kesadaran kepada kita bahwa mutu adalah penting....
omwijaya wrote on Feb 26, '08
wew .. saluttt buat panjenengan mas hihihi .. aku udah tonton filmnya .. salutt .. ini baru film ttg Islam yang Luarrr Biasaaaa ... aku salutt . bener2 saluttt .. perfectoo dehh .. semoga ada lagi film2 dengan tema islami yang bisa ditonton dengan ringan, relaxx, penuh arti .. hiihihi ... ditunggu film2 selanjutnyaa ...
ndiz wrote on Feb 27, '08
membaca KISAH DIBALIK LAYAR AAC 1 2 dan 3 seru juga yah... gimana klo dibuat film juga mas?
maindrafauziannisa wrote on Feb 29, '08
aku SUKA banget film nyaaa!!
film yang maknanya ngebuat mikir sampai berhari-hari
ngebuat aku ga bisa berhenti nangis..

pas banget semuanya..

film paling keren se Indonesia!!
ketoepat86 wrote on Mar 1, '08
asli kerenz pelmnya.serius ga nyangka tnyta perjuangan nya brt jg.two thumbs up buat mas hanung utk kegigihannya.mnrt gw cast dr film ini trutama pmeran utama fahri maria aisha udah pas bgt.apalg ferdi nuril,I love u man.wht a great acting.tp emg syg detail2 filmnya krg pas or ga nyambung,tp stlh bc blog ini gw jd maklum.but overall kerenz I love it.cb dibikinnya perfect pasti bs box office sampai internasional deh.who knows?produksi ulang aj mas tp crita,setting detailnya harus sama dgn novelnya
ninamulhadi wrote on Mar 1, '08
wah, sebenarnya bagus tidak nya film Indonesia bergantung dari tiket kamu nonton ke bioskop loh ... hehehe
Begitu ya? Saya ingin sekali mem'bagus'kan AAC ini dengan nonton di bioskop. Tapi apa daya, di Lombok ini gak ada bioskop Mas Hanung.
Apa ya... selain itu yang bisa kami lakukan?
Membaca perjuangan Mas Hanung yang luar biasa di atas membuat saya ingin sekali melakukan sesuatu....
Tapi apa ya....
Do'a aja deh: "Ya Allah,orang yang berada di balik pembuatan film ini telah bersusah payah menghadirkan keindahan dien-Mu, maka ridhoilah, berikanlah berkah-Mu, bukalah hati umat muslim untuk menontonnya, mendukungnya, hingga film-film yang seperti ini akan terus hadir di Indonesia, menggeser film-film yang kurang bermutu. Orang yang berada dibalik pembuatan film ini adalah manusia biasa, jika dia telah melakukan kekhilafan maka ampunilah. Amin"
restudewi wrote on Mar 2, '08
aduuuh, aku udah kadung nulis review based on my opinion..

tapi membaca tulisan Mas Hanung, saya jadi mengerti..
Maaf yaa, baru ketemu MP nya setelah nonton AAC sih :p

overall, jumlah penontonnya jauh melebihi ekspektasi kan ya Mas..

sukses yaaa..
dwiariek wrote on Mar 2, '08
kenapa kisah dibalik layar AAC tidak difilmkan juga? rasanya lebih seru dan menegangkan...

semangat cak... terbaik pancen sampeyan...
meytha wrote on Mar 4, '08
Mas Hanung, aku kemaren baru nonton AAC...bela-belain bolos dari kantor. Ternyata bolos ku nggak sia-sia... that's the best Indonesia movie ever..padahal biasanya nih kalo film Indonesia aku tungguin VCD nya aja ato malah tunggu di siarin di TV, he..he... Hum emang sih, aku ga gitu ngedapetin background Mesir seperti yang aku bayangin waktu baca novelnya, tapi setelah baca dibalik kisah pembuatannya, aku ngerti kok... pesenku... jangan kapok bikin film seperti AAC ya mas...
asyifazahra wrote on Mar 10, '08
Masya Allah sebegitu lelahnya, mbacanya aja jd ikutan lelah. Ini kalau yang bilang filmnya gak sebagus novelnya mah kebangeten...Bikinnya cuapeknya luar biasa, dgn biaya dan rintangan begitu buanyak n besar
jengsrisunh wrote on Mar 11, '08
sukses buat mas hanung,,, aku acungin 1 juta jempol untuk karya mas hanung,, aku tidak kecewa walu film dan novel sangat jauh berbeda,, apalagi perjuanagn mas hanung yang hampir aja patah arang,,, sekarang film AAC jadi fenomenal,,, jgn lupa buat sang producer sisihkan sebagian untuk umrah para kru dan pemain, dan jangan lupa sisihkan untuk fakir miskin,,,,
jengsrisunh wrote on Mar 11, '08
mas,, hanung minta gambar gambar "yang di bunag sayang" ketika saat editing,, pasti lucu dech,, yang pengambilan gambar berulang ulang,, saapi film itu jadi,, tolong dong di buat acara di TV di balik layar "aac",, aku jadi penasaran banget nih dgn pejuangan di balik pembuatan film AAC,, dan komentar dari semua kru serta pemainnya sekalian di tampilkan
penakecildeezna wrote on Mar 13, '08
mas hanung....aku boleh ngelamar jadi figuran gak???
bikin film islami baru dunk mas....nti ajax aku, pengen belajar akting akuuuuuu...pliiizzzzz..hiks
vivimursito wrote on Mar 14, '08
congrat...bwat mas hanung...AACnya dalem banget.pesan moral n misinya yg OK.smoga sukses terus di film2 berikutnya.btw,tp kenapa settingnya dibuat redup2 gt ya,mas??
nieza wrote on Mar 14, '08
membaca perjuangan mas hanung .. tidak bisa diungkapkan lewat kata2 semoga apa yg telah dilakukan mas hanung n crew membuahkan kebaikan selalu aminn...

dan mas hanung sukses mengadirkan haru terutama adegan pernikahan maria & fahri, melihat keiklasan aisa hiks...ikut larut deh.....jangan berhenti berkarya yah mas..ditunggu film selanjutnya.. sukses..
jazakallah
yani-bandung
familygoe wrote on Mar 14, '08
Salut buat perjuangan mas Hanung cs. Sukses lo filmnya..
aku aja sampai pesen tiket dulu krn dimana2 abissss.... mudah2an Mas Hanung bisa berkarya lagi untuk menyuguhkan karya2 religius yg lebih baik... Amiin...
woyosukoco wrote on Mar 14, '08
Saya akan selalu menunggu karya2 MasAnung...........
maisetori wrote on Mar 15, '08
Udah baca novelnya 2 kali,udah nonton filmnya 2 kali juga,lagi baca lagi untuk ke 3 kalinya,rencana mo nonton lagi,udah beli cd soundtraknya yang original,lagi nunggu VCD n DVD filmnya keluar,semua ring tone,ring back tone n nada sambung pribadi di semua hp di rumahku lagu Ayat-Ayat Cinta nya Rossa.Ngejar nonton pas tanggal 28 Februari ngetemp di Djakarta Theatre dari sore buat hunting tiket,finally dapat juga buat yang tanggal 29,nonton yang ke 2 survei dulu cari bioskop yang sepi di jam tersepi,akhirnya nonton di La Piaza di jam sholat Jum'at (brilliant kan),yang ke 3 mau cari yang lebih sensasional lagi ah.... setelah nonton yg pertama di blogku aku ungkapin kekecewaan ttg film ini,gak pas banget ama orang gila di selnya si Fahri...pas nonton yang ke 2 aku sempet itung tuh unta berapa kali mondar-mandirnya (klo gak salah 4 kali deh..)sempet bergadang liat Topik Minggu ini di SCTV ttg AAC trus selama 3 hari ini tiap masuk gogle yang diketik cuman AAC,sampai aku nemu blog ini,baca tulisan mas Hanung n "plazzzzz"
Perjuangan bikin filmnya bener-bener dahsyat...membuat filling guilty yg tinggal nonton trus koment kecewa...sorry sudah melakukan itu...makanya rencana nonton yang ke 3 sudah dengan pembekalan ttg pembuatan filmnya pasti lebih mengena...!!! buat mas Hanung...semoga selalu sehat n panjang umur sehingga ada banyak lagi karya seperti ini di bumi Indonesia ini.
Aku ijin mempublish kisah dibalik pembuatan AAC I,II,III nya buat aku sebar ke milis ya mas...matur nuwun sakderenge...
bundakirana wrote on Mar 24, '08
Salam. Mas Hanung, terus-terang saya termasuk barisan penonton kecewa (tp suer, bukan karena fanatik sama novelnya, novelnya pun saya tidak terlalu suka).Ada bbrp alasan mengapa saya kecewa, tapi saya akui, saya terhibur menonton film AAC. Saya terharu baca cerita betapa sulitnya Mas Hanung membuat film ini. Dan juga merasa jengkel pada produser yang begitu pelit. Saya hanya berharap, fee untuk Mas Hanung adalah sistem royalti, sehingga keuntungan luar biasa besar dari film ini tidak masuk semua ke kantong produser padahal yang pontang-panting Mas Hanung dkk. Semoga sukses selalu untuk Mas Hanung:)
alirahmat wrote on Apr 4, '08
Semakin lengkap ceritanya ya Mas,,,
Nanti critanya aku share di MP ku ya Mas. Trimakasih. Salam hangat.
ellyyuniardi wrote on Apr 4, '08
Mas Hanung tu kayaknya orangnya asik..., cerdasss...., kuat...., sabarrr...., leadership-nya tinggiii....
Jadi penasaran....
luckty wrote on Nov 13, '08
Alhamdulillah,
akhirnya AAC mengantarkanku pd gelar sarjana

klik postingannya di:
http://luckty.multiply.com/journal/item/141/Ayat-ayat_Cinta_mengantarkanku_pada_gelar_sarjana...
Add a Comment